5 Fakta Locorotondo, Desa Italia yang Tumbuh Melingkar di Atas Bukit

- Locorotondo di Lembah Itria, Puglia, berdiri 410 meter di atas laut; namanya berasal dari Latin locus rotundus, merujuk pola permukiman melingkar yang tercatat sejak 1195.
- Desa ini mengalami pergantian penguasa dari Ordo Ksatria Hospitaller hingga keluarga Caracciolo, sementara rumah cummerse berdinding putih dan beratap batu kapur menjadi ciri arsitektur lokal.
- Warisan Locorotondo mencakup Gereja San Giorgio Martire dan Madonna della Greca, serta Locus Festival tiap Agustus dan Il Borgo delle Meraviglie yang berlangsung November hingga Januari.
Locorotondo adalah desa bersejarah yang berada di kawasan Lembah Itria, Puglia, Italia Selatan. Desa ini berdiri di atas bukit dengan ketinggian sekitar 410 meter di atas permukaan laut. Rumah-rumah berwarna putih memenuhi kawasan pusatnya, sementara jalan-jalan sempit menghubungkan permukiman yang sudah berkembang sejak berabad-abad lalu.
Nama Locorotondo berkaitan dengan bentuk permukimannya yang melingkar. Sejarah desa ini juga tidak lepas dari pergantian penguasa, rumah tradisional dengan atap batu, gereja tua, serta berbagai acara budaya yang masih berlangsung sampai sekarang. Ada sejumlah fakta menarik yang membuat Locorotondo berbeda dari desa-desa lain di Puglia. Berikut ulasannya.
1. Nama Locorotondo berasal dari bentuk desa yang melingkar

Locorotondo, Italia (commons.wikimedia.org/Pakycassano) Nama Locorotondo sudah berkaitan dengan bentuk permukimannya sejak masa lalu. Dilansir laman Italy This Way, nama tersebut berasal dari dua kata Latin, yaitu locus yang berarti tempat dan rotundus yang berarti melingkar. Catatan tertua yang memuat nama Locorotondo terdapat dalam piagam Raja Henry VI dari Swabia tertanggal 19 Mei 1195. Dari sinilah nama yang berkaitan dengan bentuk desa tersebut mulai tercatat dalam sejarah.
Penulisan nama Locorotondo kemudian mengalami beberapa perubahan. Bentuknya pernah ditulis sebagai Locus Rotundus, Locirotundi, hingga Ritondo hamlet. Pada masa abad pertengahan, kata locus juga digunakan untuk menyebut permukiman yang berkaitan dengan castrum atau kawasan pertahanan. Rumah-rumah warga kemudian tumbuh mengelilingi area tersebut sehingga pola permukiman yang melingkar masih terlihat di Locorotondo sampai sekarang.
2. Locorotondo pernah dikuasai banyak bangsawan

Locorotondo, Italia (commons.wikimedia.org/Benjamin Smith) Pergantian penguasa menjadi bagian panjang dari sejarah Locorotondo. Dilansir laman Puglia Guys, wilayah ini pernah berada di bawah kendali Ordo Ksatria Hospitaller pada 1314. Kekuasaan kemudian berpindah kepada keluarga bangsawan Del Balzo Orsini pada abad ke-15. Menjelang akhir 1400-an, Locorotondo kembali berganti pemilik dan berada di bawah keluarga Carafa. Pada abad ke-16, wilayah tersebut kemudian diberikan kepada Pirro Loffredo.
Cerita soal pergantian pemilik belum berhenti sampai di situ. Pada 1645, Marquess Francesco Caracciolo dari Martina membeli Locorotondo. Keluarga Caracciolo kemudian menguasai desa tersebut sampai awal abad ke-19. Selama masa feodal, kehidupan warga banyak berkaitan dengan kegiatan pertanian dan pengelolaan lahan. Nama-nama keluarga bangsawan yang pernah menguasai wilayah tersebut pun tercatat dalam sejarah Locorotondo.
3. Rumah tradisionalnya punya atap batu yang khas

Rumah tradisional cummerse (commons.wikimedia.org/Benjamin Smith) Rumah-rumah lama di pusat Locorotondo memiliki bentuk yang cukup berbeda dari bangunan di kawasan sekitarnya. Rumah tradisional itu disebut cummerse. Dilansir laman NonSoloTaxi, cirinya berupa dinding batu berwarna putih dan atap miring yang dibuat dari kepingan batu kapur tipis bernama chiancarelle. Bentuk atap tersebut tersusun mengikuti bangunan rumah yang berdiri di sepanjang jalan sempit.
Warna putih pada dinding rumah juga punya fungsi praktis. Lapisan kapur membantu memantulkan panas matahari saat musim panas. Rumah cummerse membuat Locorotondo punya ciri arsitektur sendiri jika dibandingkan dengan Alberobello yang terkenal dengan rumah trulli beratap kerucut. Kedua wilayah itu sama-sama berada di Puglia, tetapi bentuk rumah tradisionalnya berbeda.
4. Ada gereja tua yang masih berdiri sampai sekarang

Gereja San Giorgio Martire, Locorotondo, Italia (commons.wikimedia.org/Carlo Pelagalli) Locorotondo juga memiliki sejumlah bangunan gereja yang sudah berdiri selama berabad-abad. Masih dari laman NonSoloTaxi, salah satunya adalah Gereja San Giorgio Martire. Bangunan ini selesai pada 1825 dan memiliki fasad bergaya klasik. Relief Santo George berada pada bagian atas fasad, sedangkan bagian dalam gereja menyimpan 42 panel ukiran batu lokal dari abad ke-14 yang berisi adegan dari Kitab Perjanjian Lama.
Gereja Madonna della Greca juga berada di kawasan Locorotondo dan diperkirakan dibangun sekitar abad ke-15. Bangunannya memakai perpaduan gaya Romanesque dan Gotik. Bagian dalam gereja terbagi menjadi tiga nave, sedangkan fasad depan dilengkapi jendela mawar. Gereja Madonna della Greca dikenal sebagai gereja tertua di Locorotondo dan masih menjadi bagian dari kawasan bersejarah desa hingga sekarang.
5. Festival musik yang digelar setiap tahun

Ilustrasi festival (commons.wikimedia.org/Bill Ebbesen) Kegiatan di Locorotondo tidak hanya berkaitan dengan bangunan tua dan sejarah desa. Acara budaya juga rutin digelar sampai sekarang. Masih dari laman NonSoloTaxi, Locus Festival berlangsung setiap Agustus di Masseria Ferragnano. Festival ini menghadirkan pertunjukan musik dari berbagai genre dan melibatkan musisi dari sejumlah negara. Acara tersebut menjadi salah satu kegiatan tahunan yang berlangsung pada musim panas.
Memasuki akhir tahun, ada pula Il Borgo delle Meraviglie yang berlangsung mulai November hingga Januari. Selama periode musim dingin tersebut, lorong-lorong di Via Nardelli dan Corso Umberto dihiasi dengan instalasi lampu gantung di sepanjang jalur pejalan kaki. Dua acara itu membuat kegiatan budaya di Locorotondo tetap berlangsung setelah musim panas selesai.
Locorotondo punya banyak hal yang bisa ditelusuri, mulai dari nama yang berkaitan dengan bentuk desa, sejarah pergantian penguasa, rumah cummerse dengan atap batu, hingga gereja tua yang masih ada sampai sekarang. Berbagai festival juga rutin digelar untuk meramaikan desa sepanjang tahun. Perpaduan sejarah dan kegiatan budaya tersebut membuat Locorotondo tetap punya banyak hal menarik untuk diketahui.




















