Sesar Lembang Jadi Salah Satu Sesar Paling Dipantau di Indonesia

- Sesar Lembang dipantau dengan GPS, satelit, tiltmeter, seismometer, dan instrumen lain untuk mengamati perubahan aktivitas serta kondisi kawasan.
- Gunung Batu dipasangi alat pemantau retakan, kemiringan batuan, dan percepatan gempa dengan data yang dikirim secara online.
- Pengembangan monitoring berkelanjutan menghadapi tantangan biaya, meski BRIN, BMKG, dan British Geological Survey turut melengkapi data.
Sesar Lembang kini menjadi salah satu sesar yang paling banyak dipantau dan didokumentasikan di Indonesia. Berbagai instrumen digunakan untuk mengamati aktivitas sesar dan kondisi kawasan di sekitarnya, mulai dari GPS, pengamatan satelit, tiltmeter, hingga seismometer yang membantu peneliti memahami perubahan yang terjadi dari waktu ke waktu.
Pemantauan tersebut penting karena Sesar Lembang berada di kawasan dengan populasi yang padat. Dr. Endra Gunawan dari ITB menyebut bahwa Bandung Basin disebut memiliki sekitar 9 juta penduduk, sementara permukiman juga ditemukan sangat dekat dengan jalur sesar, membuat penelitian tidak hanya berfokus pada bagaimana sesar bergerak tetapi juga risiko yang dapat muncul bagi masyarakat dan infrastruktur.
Teknologi monitoring pun digunakan dalam beberapa skala, mulai dari sensor yang mengamati kestabilan batuan di Gunung Batu hingga GPS dan InSAR untuk melihat pergerakan permukaan secara lebih luas. Kombinasi berbagai metode tersebut membantu peneliti menghubungkan rekaman geologi dari masa lalu dengan pergerakan yang sedang berlangsung saat ini.
1. Sensor mengawasi retakan hingga kemiringan batuan

daerah Gunung Batu untuk mengamati Sesar Lembang (IDN Times/Fatkhur Rozi) Gunung Batu menjadi salah satu lokasi yang dipasangi instrumen untuk mengamati kestabilan lereng di sekitar Sesar Lembang. Kondisi batuan yang memiliki banyak retakan menjadi perhatian karena guncangan kuat dapat memengaruhi stabilitas lereng dan meningkatkan risiko pergerakan batuan.
Tiga jenis instrumen digunakan untuk memantau kondisi tersebut. Tiltmeter digunakan untuk mengukur perubahan kemiringan, wire extensometer mengamati perubahan atau perkembangan retakan pada batuan, sedangkan accelerometer digunakan untuk merekam percepatan ketika terjadi gempa.
Monitoring di kawasan tersebut telah berlangsung sejak 2023 dan datanya dikirim secara online sehingga dapat dipantau tanpa harus terus berada di lokasi. Instrumen tetap membutuhkan pemeriksaan dan pemeliharaan secara berkala, yang dilakukan setiap enam bulan berdasarkan performa sensor oleh peneliti dari BRIN.
2. GPS dan satelit ikut membaca pergerakan Sesar Lembang
Pemantauan tidak hanya dilakukan menggunakan sensor yang ditempatkan di sekitar batuan. Tim penelitian juga menggabungkan pengamatan GPS dengan InSAR untuk melihat pergerakan Sesar Lembang saat ini, sehingga data berbasis titik dari GPS dapat dilengkapi dengan pengamatan yang mencakup kawasan Bandung secara lebih luas.
Monitoring GPS di kawasan tersebut telah memiliki riwayat sejak pertengahan 2000-an dan kemudian kembali dikembangkan bersama pengamatan lainnya. Setelah data GPS dan InSAR dikombinasikan, penelitian tersebut memperoleh estimasi pergerakan terkunci sekitar 2 hingga 6 mm per tahun.
Data tersebut kemudian dibandingkan dengan laju pergerakan berdasarkan rekaman geologi. Peneliti menjelaskan bahwa jika laju geologi dan geodesi diasumsikan berlangsung secara stabil, akumulasi selama sekitar 500 tahun dapat berkaitan dengan potensi displacement sekitar 4 meter.
3. Tantangannya bukan sekadar memasang sensor

daerah Gunung Batu untuk mengamati Sesar Lembang (IDN Times/Fatkhur Rozi) Meski Sesar Lembang menjadi salah satu sesar yang banyak dipantau, membangun sistem monitoring secara berkelanjutan bukan perkara sederhana. Salah satu tantangannya adalah biaya, terutama karena stasiun pemantauan kontinu dengan data live feed disebut mahal dan sulit diperluas ke seluruh kawasan.
Keterbatasan tersebut juga muncul ketika tim membahas monitoring Gunung Batu yang baru dimulai pada 2023. BRIN juga memasang lima sistem monitoring geodetik di sisi utara dan selatan Sesar Lembang serta bagian timur dan barat untuk melihat bagaimana pergerakannya berlanjut. Upaya mempertahankan monitoring tersebut tetap memiliki tantangan karena kegiatan pemantauan dilakukan dalam konteks penelitian, sementara kerja sama juga dilakukan bersama BMKG dan British Geological Survey untuk melengkapi data yang tersedia.




















