Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Sesar Lembang Sudah 560 Tahun Tak Gempa Besar, Apa Dampaknya?

Sesar Lembang Sudah 560 Tahun Tak Gempa Besar, Apa Dampaknya?
daerah Gunung Batu untuk mengamati Sesar Lembang (IDN Times/Fatkhur Rozi)
  • Peneliti menemukan jejak gempa termuda Sesar Lembang yang diperkirakan berasal dari abad ke-15, sekitar 560 tahun lalu.
  • Estimasi interval pengulangan gempa berada pada rentang 170 hingga 670 tahun dan bukan prediksi waktu gempa berikutnya.
  • Penggalian menemukan pergeseran vertikal 40 cm yang diperkirakan berkaitan dengan gempa berkekuatan magnitudo 6,5 hingga 7.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Sesar Lembang menjadi salah satu sesar aktif yang terus dipelajari untuk memahami potensi gempa di kawasan Bandung dan sekitarnya. Berdasarkan penelitian terhadap jejak gempa masa lalu, peneliti menemukan kejadian gempa termuda di lokasi penelitian diperkirakan terjadi pada abad ke-15, atau sekitar 560 tahun lalu dari periode penelitian saat ini.

Temuan tersebut menjadi penting karena penelitian juga menghasilkan estimasi interval pengulangan gempa Sesar Lembang sekitar 170 hingga 670 tahun. Artinya, sekitar 560 tahun yang telah berlalu sejak kejadian terakhir berada dalam rentang interval tersebut, meski angka ini tidak bisa digunakan untuk menentukan secara pasti kapan gempa berikutnya akan terjadi.

Dr. Mudrik Daryono dari BRIN menyebut bahwa jejak geologi yang ditemukan juga menunjukkan bahwa Sesar Lembang pernah menghasilkan gempa berkekuatan besar pada masa lalu. Dari penggalian yang dilakukan di sekitar jalur sesar, peneliti menemukan bukti pergerakan vertikal sekitar 40 cm dalam satu kejadian yang diperkirakan berkaitan dengan gempa berkekuatan magnitudo 6,5 hingga 7.

  1. 1. Peneliti menemukan jejak gempa Sesar Lembang

    IMG20260829091900.jpg
    Dr. Mudrik Daryono dari BRIN (IDN Times/Fatkhur Rozi)

    Salah satu cara yang digunakan peneliti untuk memahami aktivitas Sesar Lembang adalah mempelajari bentuk permukaan dan jejak pergerakan yang ditinggalkan sesar. Sejumlah bukti ditemukan dari pergeseran sungai, fault scarp, hingga perubahan bentuk lembah yang menunjukkan bahwa sesar telah bergerak berulang kali dalam periode yang panjang.

    Salah satu pergeseran sungai yang paling jelas mencapai sekitar 120 meter, sedangkan pergeseran terbesar dari arah utara dan selatan yang ditemukan mencapai sekitar 460 meter dengan jenis sinistral. Dr. Mudrik juga turut menjelaskan bahwa pergeseran tersebut bukan hasil satu gempa, melainkan akumulasi dari serangkaian gempa yang terjadi dalam waktu panjang.

    Berdasarkan pengukuran tersebut dan usia batuan yang digunakan sebagai acuan, penelitian menghasilkan estimasi geological slip rate sekitar 0,95 sampai 3,5 mm per tahun. Temuan ini juga menjadi salah satu bukti yang digunakan peneliti untuk menunjukkan bahwa Sesar Lembang merupakan sesar aktif yang pergerakannya masih berlangsung.

  2. 2. Ada bukti gempa magnitudo 6,5 hingga 7

    Peneliti kemudian melakukan penggalian atau trenching untuk mencari jejak gempa yang pernah terjadi di sepanjang Sesar Lembang. Metode tersebut memungkinkan tim melihat perubahan lapisan tanah yang dapat digunakan untuk memperkirakan pergerakan akibat gempa pada masa lalu.

    Dari salah satu lokasi penggalian, ditemukan pergeseran vertikal sekitar 40 cm yang dikaitkan dengan satu kejadian gempa. Berdasarkan pergerakan tersebut, peneliti memperkirakan gempa pada masa lalu itu memiliki kekuatan sekitar magnitudo 6,5 hingga 7.

    Pergerakan Sesar Lembang sendiri tidak sepenuhnya berlangsung secara horizontal. Berdasarkan penelitian terhadap pergeseran sungai, sekitar 80 persen pergerakannya diakomodasi oleh gerakan lateral atau sinistral, sementara sekitar 20 persen lainnya berupa gerakan vertikal, sehingga dalam satu kejadian sesar dapat bergerak secara horizontal sekaligus mengalami pengangkatan.

  3. 3. Sudah sekitar 560 tahun sejak gempa terakhir yang ditemukan

    IMG20260829092007.jpg
    Dr. Mudrik Daryono dari BRIN (IDN Times/Fatkhur Rozi)

    Penggalian di lokasi lain menghasilkan jejak gempa yang lebih muda dan diperkirakan berasal dari abad ke-15. Temuan tersebut menjadi bukti gempa termuda yang dibahas dalam penelitian, sehingga jaraknya dengan masa sekarang diperkirakan sekitar 560 tahun.

    Berdasarkan slip rate yang telah dihitung, peneliti memperkirakan interval pengulangan gempa berada pada rentang sekitar 170 sampai 670 tahun. Karena sekitar 560 tahun telah berlalu sejak kejadian termuda yang ditemukan, Sesar Lembang kini berada di dalam rentang interval tersebut.

    Namun, estimasi interval tersebut bukan prediksi mengenai tanggal atau tahun terjadinya gempa berikutnya. Peneliti menyebut gempa dapat terjadi sekarang atau bahkan sekitar 100 tahun lagi, sehingga temuan tersebut lebih menunjukkan pentingnya memahami dan mempersiapkan risiko daripada menjadi patokan waktu pasti terjadinya gempa.

  4. 4. Setanah, Tak Diam Ajak Warga Bandung Pahami Risiko Geologi Lewat Seni

    IMG20260828145333.jpg
    Pameran gabungan science dan seni bertajuk Setanah, Tak Diam (IDN Times/Fatkhur Rozi)

    Kondisi geologi di Bandung, termasuk Sesar Lembang, menjadi hal penting untuk diinfokan ke masyarakat. Salah satu tantangan dalam penelitian kebencanaan adalah membuat temuan ilmiah dapat dipahami oleh masyarakat yang hidup berdampingan dengan risiko tersebut. "Setanah, Tak Diam" mencoba menjembatani persoalan itu melalui pendekatan yang mempertemukan sains dengan seni, budaya, storytelling, serta pengalaman masyarakat tanpa menghilangkan konteks ilmiahnya.

    Pameran ini merupakan kolaborasi Selasar Sunaryo Art Space, ITB, BRIN, dan Gamma Metrics dengan dukungan The Toyota Foundation serta Kemendiktisaintek RI. Pameran yang akan berlangsung hingga 31 Oktober 2026 tersebut akan dilengkapi kuliah, lokakarya, diskusi, serta kegiatan pelibatan masyarakat untuk membuka percakapan lebih luas mengenai risiko geologi, resiliensi, dan kehidupan di tengah lanskap Bandung yang dinamis.

    Tujuannya bukan membangun ketakutan terhadap gempa bumi maupun aktivitas gunung api. Pameran tersebut justru mengajak masyarakat memahami lingkungan tempat mereka tinggal, menyadari bahwa bentang alam terus bergerak dan berubah, serta menjadikan pengetahuan sebagai salah satu fondasi kesiapsiagaan.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More