“Di satu sisi memiliki potensi sebagai sumber pangan alternatif yang berkelanjutan, tetapi di sisi lain juga berperan sebagai hama,” ungkap Puji yang dikutip dalam situs resmi.
BRIN: Ulat Sagu Berpotensi Jadi Sumber Protein Alternatif

- BRIN menilai ulat sagu, yang selama ini dikenal sebagai hama perusak batang, berpotensi dimanfaatkan menjadi sumber protein serta bahan pangan, pakan, dan industri bernilai ekonomi.
- Kajian menemukan larva Rhynchophorus spp. pada batang sagu pascapenebangan memiliki jendela panen 75–90 hari, dengan biomassa maksimum sekitar 4,62 gram dan tepung kering berprotein hingga 60 persen.
- Pengembangan pemanfaatan ulat sagu harus mempertimbangkan bioekologi, keamanan pangan, dan risiko serangan hama; BRIN mendorong riset lintas disiplin serta kolaborasi untuk menjaga produktivitas sagu.
Selama ini ulat sagu lebih dikenal sebagai musuh tanaman karena menyerang batang dan dapat mengancam produktivitas perkebunan sagu. Namun, hasil kajian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan sisi lain yang menarik, di mana larva Rhynchophorus spp., berpotensi menjadi sumber protein alternatif sekaligus bahan baku pangan, pakan dan industri.
Organisme yang selama ini dibasmi sebagai hama justru dapat diubah menjadi sumber daya bernilai ekonomi tanpa mengorbankan keberlanjutan perkebunan sagu.
Ulat sagu jadi alternatif sumber pangan
Kepala ORPP BRIN, Puji Lestari, mengatakan sagu memiliki posisi strategis dalam diversifikasi pangan nasional. Selain dapat menjadi alternatif sumber pangan, sagu juga berpotensi dikembangkan sebagai bahan baku industri dan sumber ekonomi masyarakat.
Dalam konteks tersebut, ulat sagu memiliki posisi unik. Di satu sisi, serangga ini dapat merusak batang dan menurunkan produktivitas tanaman sagu. Di sisi lain, larvanya telah lama dimanfaatkan sebagai pangan tradisional dan memiliki potensi sebagai sumber protein. Karena itu, BRIN mendorong kajian yang mampu mempertemukan kepentingan pengendalian hama dengan pemanfaatan sumber daya hayati.
Pemanfaatan sebagai sumber protein

ilustrasi ulat sagu (pixabay.com/avocado876) Peneliti Ahli Madya PRTP ORPP BRIN, Rein E. Senewe, melalui kajian bioekologi Rhynchophorus spp., pada tanaman inang utama sagu menemukan perkembangan larva pada batang sagu yang telah ditebang dan mengidentifikasi lima tahap perkembangan atau instar. Pengamatan tersebut penting untuk mengetahui dinamika pertumbuhan sekaligus menentukan fase yang potensial untuk dimanfaatkan sebagai sumber protein.
Hasilnya, terdapat periode yang disebut sebagai 'jendela panen emas', yakni sekitar 75-90 hari setelah batang sagu ditebang. Pada periode tersebut, biomassa larva berada dalam kondisi potensial untuk dimanfaatkan, dengan biomassa maksimum yang diamati mencapai sekitar 4,62 gr.
Temuan ini menjadi menarik karena membuka kemungkinan pemanfaatan larva yang berkembang pada batang sagu setelah penebangan, sekaligus memberikan informasi biologis yang dibutuhkan untuk mengembangkan pemanfaatannya secara lebih terukur.
Bukan hanya ukuran dan waktu panennya yang menarik. Kajian yang dipaparkan Rein menunjukkan tepung kering ulat sagu berpotensi memiliki kadar protein hingga sekitar 60 persen, juga mengandung lemak serta asam lemak omega 3, 6, dan 9.
Potensi kandungan tersebutmembuat ulat sagu menarik untuk dikaji lebih jauh sebagai sumber protein alternatif di tengah kebutuhan terhadap sumber pangan berkelanjutan. Namun, dirinya menekankan bahwa pemanfaatan ulat sagu sebagai pangan tidak bisa dilakukan semata-mata berdasarkan kandungan nutrisinya. Aspek bioekologi, keamanan pangan, serta risiko penyebaran atau peningkatan serangan hama harus menjadi bagian penting dalam pengembangannya.
Dari hami menuju bioinovasi
Kepala Pusat Riset Tanaman Perkebunan ORPP BRIN, Setiari Marwanto, menilai perspektif terhadap ulat sagu perlu diperluas. Sagu merupakan komoditas strategis yang memiliki nilai pangan, industri, ekologis, dan sosial, tetapi keberlanjutan perkebunannya menghadapi berbagai tantangan, termasuk serangan Rhynchophorus spp.
Karena itu, tantangannya bukan sekadar bagaimana membasmi ulat sagu, tetapi juga bagaimana mengelola dan memanfaatkannya secara aman, berkelanjutan dan bernilai ekonomi.
Perspektif industri turut disampaikan Dr. (H.C.) Jenny Widjaja dari PT Sagolicious Indonesia Prima. Ia memaparkan potensi Rhynchophorus spp., untuk diolah menjadi tepung protein yang dapat dikembangkan untuk kebutuhan pangan, bahan baku industrimaupun pakan.
Pada intinya ulat sagu tidak harus ditempatkan hanya dalam satu kategori sebagai organisme pengganggu tanaman. Dengan riset yang tepat, organisme tersebut berpotensi menjadi bagian dari rantai nilai baru berbasis sumber daya hayati lokal.
BRIN mendorong penguatan riset multidisiplin yang mempertemukan bioekologi, biosistematika, nutrisi, keamanan pangan, industri, dan ekonomi. Kolaborasi antara periset, dunia usaha, dan pemangku kepentingan diharapkan dapat menghasilkan inovasi yang sekaligus menjaga produktivitas perkebunan sagu dan membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.




















