Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Fakta Nyala Gunung, Antelop yang Bisa Aura Farming?

potret nyala gunung jantan yang sudah dewasa
potret nyala gunung jantan yang sudah dewasa (commons.wikimedia.org/David Castor)
Intinya sih...
  • Nyala gunung adalah antelop besar endemik pegunungan Etiopia dengan habitat di ketinggian. Mereka aktif pada pagi dan sore hari.
  • Jantan nyala gunung memiliki perilaku unik berupa “aura farming”, adu postur dan karisma untuk menentukan dominasi tanpa selalu bertarung fisik.
  • Populasi nyala gunung kini terancam punah akibat perburuan liar dan hilangnya habitat. Meski begitu, sudah ada upaya konservasi dari pemerintah Etiopia.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Bagi orang Indonesia, nama nyala gunung (Tragelaphus buxtoni) mungkin terdengar agak aneh. Mereka sebenarnya adalah spesies antelop yang masih berkerabat dengan kudu besar (Tragelaphus strepsiceros) dan masih punya satu saudara lain bernama nyala biasa (Tragelaphus angasii). Meski ada saudara satu spesies, ternyata penampilan nyala gunung cenderung lebih mirip dengan kudu besar, lho.

Rambut yang menutupi tubuh nyala gunung didominasi warna abu-abu dan cokelat dengan hadirnya 2—5 garis berwarna putih di beberapa bagian tubuh hingga membentuk pola bulan sabit. Ada pula sedikit totol putih di area perut. Sama seperti spesies antelop lain, hanya nyala gunung jantan yang menumbuhkan tanduk dengan bentuk spiral dan beberapa lekukan. Hebatnya, tanduk tersebut diketahui dapat mencapai panjang 120—180 cm.

Soal ukuran, nyala gunung termasuk spesies antelop bertubuh besar. Bayangkan saja, mereka tumbuh dengan panjang antara 190—260 cm, tinggi 90—135 cm, dan bobot 150—300 kg. Tentunya, ukuran jantan masih lebih besar ketimbang betina. Nah, selain fakta-fakta umum itu, ada beberapa hal menarik yang dimiliki oleh nyala gunung. Karena itu, yuk, kita langsung kenalan dengan spesies antelop besar yang satu ini!

1. Peta persebaran, habitat, dan makanan favorit nyala gunung

Nyala gunung betina punya warna yang lebih polos ketimbang jantan.
Nyala gunung betina punya warna yang lebih polos ketimbang jantan. (commons.wikimedia.org/Charles J Sharp)

Nyala gunung punya persebaran yang cukup terbatas. Mereka hanya berada di sekitar Etiopia sehingga jadi hewan endemik negara Afrika bagian timur tersebut. Menariknya, mereka tak tersebar secara merata, melainkan di daerah tertentu saja, tepatnya di kawasan tenggara Etiopia yang terdiri atas pegunungan.

Sesuai dengan nama mereka, habitat utama hewan ini berada di sekitar pegunungan. Dilansir Animal Diversity Web, rata-rata ketinggian yang disukai antelop ini antara 3 ribu—4.200 meter di atas permukaan laut. Meski begitu, beberapa ada pula yang bergerak ke tempat yang lebih rendah lagi untuk mencari makan. Di sana, nyala gunung menempati hutan gunung dan padang rumput yang menyimpan banyak pasokan makanan.

Bicara soal makanan, tentunya nyala gunung termasuk herbivor sejati. Mereka mengonsumsi berbagai jenis rumput, tanaman herba, sampai semak-semak tertentu. Waktu beraktivitas mereka terbilang unik karena antelop ini mulai mencari makan saat sore hari, bergerak ke tempat lain saat malam, dan kembali mencari makan saat pagi tiba. Sementara itu, waktu siang lebih banyak dihabiskan untuk beristirahat.

2. Kehidupan sosial nyala gunung

kelompok nyala gunung
kelompok nyala gunung (commons.wikimedia.org/Richard Mortel)

Kehidupan sosial nyala gunung terbilang cukup berbeda, tergantung jenis kelamin. Jantan dewasa atau yang sudah tua lebih condong sebagai hewan soliter. Sementara, jantan muda biasa membentuk kelompok kecil dengan jumlah 2—3 individu saja. Nah, kondisi yang berbeda justru dilakukan betina karena mereka akan membentuk kelompok dengan jumlah maksimal sampai 13 individu.

Kelompok betina umumnya diisi oleh para betina dan keturunan mereka. Meski begitu, ketika musim kawin tiba, beberapa jantan kadang keluar masuk kelompok betina untuk kawin. Animalia melansir kalau kelompok besar nyala gunung dipimpin oleh betina dengan batas wilayah tertentu. Uniknya, jantan dewasa justru tak punya wilayah dan cenderung berkelana ke berbagai tempat dalam diam.

Secara umum, antelop ini terbilang sangat jarang bersuara. Betina lebih sering mengeluarkan suara untuk memanggil sekaligus memperingatkan sesama yang terdengar seperti suara buh dengan nada rendah dan suara gerutu serak yang menandakan bahaya sudah tidak ada atau tidak serius. Selain vokal, bentuk komunikasi nyala gunung berupa gerakan ekor ketika sedang bergerak bersama dan aroma khas yang berasal dari urine atau kelenjar khusus.

3. Pertarungan unik bagi nyala gunung jantan untuk memperebutkan dominasi

pose aura farming nyala gunung jantan
pose aura farming nyala gunung jantan (commons.wikimedia.org/Rod Waddington)

Meski tak memiliki wilayah dan soliter, nyala gunung jantan tetap memperebutkan dominasi demi bisa kawin dengan betina. Uniknya, perebutan itu tak selamanya dilakukan lewat pertarungan. Nyala gunung justru melakukan semacam “aura farming” alias pose khusus agar terlihat keren dan berkarisma sampai jantan lawan mengalah, lalu pergi.

Dilansir Ultimate Ungulate, jantan yang akan beradu postur akan bergerak mengelilingi satu sama lain. Kemudian, rambut yang ada di punggung akan terangkat, postur kepala jadi tegak, dan telinga diarahkan ke depan. Pose aura farming ini akan bertahan selama beberapa saat sampai salah satu mengalah yang ditandai dengan menundukkan kepala dan pergi menjauh. Pada momen itulah, pemenang berhak untuk kawin dengan betina yang ada di sekitar.

Sebenarnya, pada momen yang langka, bisa saja ada pertarungan yang terjadi. Hebatnya, sekali dua jantan memutuskan untuk bertarung dengan sepasang tanduk yang dimiliki, hasilnya bisa jadi sangat intens. Tumbukan demi tumbukan akan berlangsung sampai salah satu jantan ambruk. Masalahnya, pertarungan itu tak jarang menghasilkan luka serius.

4. Sistem reproduksi nyala gunung

pasangan nyala gunung
pasangan nyala gunung (commons.wikimedia.org/KrisMaes)

Nyala gunung termasuk hewan poligini alias jantan akan kawin dengan beberapa betina berbeda dalam satu musim kawin. Sebenarnya, spesies antelop ini bisa kawin kapan saja selama betina siap. Adapun, pertengahan Desember jadi waktu paling sering bagi spesies ini untuk mulai kawin. Uniknya, postur aura farming yang disebutkan sebelumnya itu ternyata juga dilakukan jantan di hadapan betina. Hanya saja, langkah mereka lebih lamban dengan ekor terangkat.

Setelah kawin, betina akan mengandung selama 8—9 bulan. Animal Diversity Web melansir kalau betina hanya melahirkan seekor anak tiap masa reproduksi. Anak itu akan dirawat sampai berusia 6 bulan sebelum akhirnya bisa mencari makan sendiri. Namun, si anak tetap tinggal bersama kelompok induk, setidaknya sampai berusia 18—24 bulan saat mereka sudah mencapai usia kematangan seksual. Di alam liar, nyala gunung memiliki rata-rata usia sekitar 15—20 tahun.

5. Status konservasi nyala gunung yang mengkhawatirkan

Nyala gunung sering diburu secara ilegal demi beberapa bagian tubuh mereka.
Nyala gunung sering diburu secara ilegal demi beberapa bagian tubuh mereka. (commons.wikimedia.org/Rod Waddington)

Sayangnya, populasi nyala gunung saat ini ada pada tingkat yang mengkhawatirkan. IUCN Red List mencatat kalau status konservasi hewan ini ada pada tingkat terancam punah (Endangered) dengan tren populasi yang menurun. Diperkirakan kalau saat ini hanya tersisa 1.500—2.500 individu dewasa di alam liar.

Masalah utama yang dihadapi spesies antelop ini ialah perburuan liar yang tak terkendali demi tanduk dan daging mereka. Selain itu, alih fungsi lahan sekitar pegunungan untuk pertanian ataupun peternakan manusia membuat pergerakan nyala gunung semakin terbatas. Belum lagi, masalah kehadiran anjing penjaga peternakan sering menakut-nakuti nyala gunung sampai pindah ke tempat yang tidak seharusnya.

Saat ini, berbagai daerah khusus untuk memproteksi nyala gunung sudah ditetapkan oleh pemerintah Etiopia. Bersama dengan serigala etiopia (Canis simensis), antelop ini dijadikan spesies kunci di Pegunungan Bale dan Suaka Margasatwa Kuni-Muktar. Duh, semoga saja tren populasi nyala gunung bisa berubah ke arah positif dengan upaya konservasi yang maksimal, ya!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Yudha ‎
EditorYudha ‎
Follow Us

Latest in Science

See More

6 Warna Senja di Tata Surya, Mulai dari Merah hingga Biru!

30 Nov 2025, 12:01 WIBScience