5 Fakta Alap-Alap Sapi, Burung Kecil yang Mampu Membantu Manusia

Kamu pasti sudah akrab dengan keluarga burung alap-alap (famili Falconidae), kan? Soalnya, kelompok burung ini terkenal dengan kecepatan yang luar biasa, dimana salah satu spesies bernama alap-alap kawah (Falco peregrinus) jadi spesies hewan dengan kecepatan paling tinggi di Bumi. Namun, kali ini kita tidak akan membicarakan soal alap-alap kawah, melainkan kerabatnya yang tak kalah unik bernama alap-alap sapi (Falco moluccensis).
Secara penampilan, rupa burung ini masih mirip dengan kerabat yang lain. Ciri khas dari alap-alap sapi terletak pada bulu ekor yang berwarna abu-abu dan putih di ujung yang berbentuk seperti pita. Sementara itu, bulu lain di sekujur tubuh lebih didominasi warna cokelat, bintik hitam, dan sedikit warna putih di beberapa titik.
Alap-alap sapi terbilang mungil dibanding spesies alap-alap lain. Panjang tubuh mereka sekitar 26—32 cm, rentang sayap 59—71 cm, dan bobot 162 gram saja. Akan tetapi, ada beberapa hal menarik dari spesies burung predator ini yang bakal kita kupas tuntas satu per satu. Penasaran dan ingin kenalan dengan mereka, kan? Yuk, langsung gulir layarmu ke bawah!
1. Peta persebaran dan habitat pilihan

Alap-alap sapi termasuk hewan endemik Indonesia, lho. Dilansir Data Zone by Birdlife, burung yang satu ini hanya tinggal di sekitar Pulau Jawa, Madura, Bali, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Ambon, Maluku, Sulawesi, dan berbagai pulau kecil di sekitar pulau-pulau tersebut. Luas wilayah yang jadi persebaran alap-alap sapi diperkirakan mencapai 2,8 juta km persegi.
Soal habitat pilihan, mereka suka berada di kawasan padang rumput atau semak belukar dengan pohon-pohon yang jarang. Kadang-kadang alap-alap sapi berada di tepi hutan, meski tidak sampai masuk terlalu dalam. Yang jelas, burung ini menyukai wilayah yang dekat dengan sumber air dan mampu hidup nyaman di sekitar pertanian atau pemukiman manusia. Saking fleksibelnya, mereka bisa tinggal dengan nyaman di ketinggian 0—2.200 meter di atas permukaan laut.
2. Makanan favorit dan manfaat bagi manusia

Sama seperti kerabat yang lain, alap-alap sapi merupakan burung predator yang memburu banyak variasi makanan. Dilansir Animalia, burung yang satu ini diketahui menargetkan berbagai speseis mamalia kecil, burung, kadal, sampai beberapa jenis serangga. Kalau tinggal dekat dengan pemukiman atau pertanian manusia, alap-alap sapi sangat bermanfaat bagi manusia karena membantu mengontrol populasi hama tanaman, semisal pengerat.
Soal cara berburu, alap-alap sapi adalah spesialis terbang menukik. Mula-mula, mereka akan mencari keberadaan calon mangsa potensial dari atas pohon ataupun sambil terbang. Setelah mendeteksi mangsa, mereka langsung terbang menukik secara cepat ke arah target dan menyambarnya dengan sepasang cakar tajam bak silet yang presisi. Alap-alap sapi lebih piawai berburu di tempat terbuka ketimbang area hutan yang padat vegetasi. Sebab, di tempat tersebut mereka mampu memanfaatkan kecepatan terbang yang tinggi tanpa perlu khawatir menabrak sesuatu.
3. Tak bangun sarang sendiri

Alap-alap sapi memang punya sarang sebagai tempat istirahat ataupun berkembang biak. Akan tetapi, jangan bayangkan kalau burung ini membangun sendiri sarang-sarang tersebut. Soalnya, mereka punya kecenderungan sebagai perebut sarang ataupun mengklaim sisa-sisa sarang dari hewan-hewan lain di sekitar.
Birda melansir kalau alap-alap sapi paling suka mengambil sarang bekas burung gagak ataupun burung predator lain di sekitar. Selain itu, mereka turut menjadikan bangunan buatan manusia, atap rumah manusia, sampai celah di tebing sebagai sarang utama. Meski punya sarang, bukan berarti alap-alap sapi selalu ada di sekitar tempat tersebut. Burung ini paling banyak mencari atau tinggal di sarang selama musim kemarau di Indonesia atau antara bulan Maret—Oktober.
4. Sistem reproduksi

Musim kawin bagi alap-alap sapi terbilang sangat fleksibel. Ada kantung populasi yang biasa kawin saat musim kemarau, tapi ada pula yang terbiasa melakukannya pada musim hujan. Selain soal kapan mereka kawin, sebenarnya hal-hal lain terkait sistem reproduksi burung ini masih belum diketahui. Yang jelas, mereka diduga sebagai spesies monogami alias setia pada satu pasangan saja sepanjang musim kawin.
Setelah perkawinan selesai, jantan dan betina secara bahu membahu menjaga telur di sarang. Dilansir Birda, alap-alap sapi betina mampu menghasilkan 3—6 butir telur dalam satu masa kawin yang nantinya menjalani masa inkubasi selama 31—35 hari. Setelah anak menetas, kedua induk bekerja sama untuk memenuhi asupan nutrisi buah hati agar dapat tumbuh sehat. Di alam, burung ini diketahui hidup sampai usia 4 tahun.
5. Status konservasi

Berdasarkan data dari IUCN Red List, status konservasi alap-alap sapi masuk dalam kategori hewan dengan risiko rendah (Least Concern). Selain itu, tren populasi dari burung predator ini juga cenderung meningkat dari tahun ke tahun, meski tidak ada angka populasi yang pasti. Hal ini menunjukkan kalau habitat tempat mereka tinggal terbilang masih terjaga dan/atau kemampuan adaptasi untuk tinggal di lingkungan manusia yang sangat baik.
Selain itu, reputasi alap-alap sapi yang sangat positif untuk manusia—khususnya petani—menjadikan burung ini sangat jarang dijadikan target berburu. Hal tersebut menunjukkan kalau selama alam masih terjaga dan satu spesies hewan itu punya reputasi yang positif di mata manusia, maka bukan tak mungkin mereka bertahan hidup di tengah modernisasi wilayah Indonesia seperti saat ini.
Oh iya, ada satu hal menarik lagi dari alap-alap sapi yang berkaitan dengan suara. Kalau ingin berkomunikasi dengan sesama, mereka mengeluarkan suara "keek, keek, keek" yang mirip seperti spesies alap-alap lain. Namun, ketika sedang terbang, burung ini tak jarang mengeluarkan suara “jeritan” yang terdengar seperti "rrrrrrit, rrrrrit, rrrrit".


















