Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Fakta Pergamon Turki, Kota yang Bangkit dari Abu Perang Troya

5 Fakta Pergamon Turki, Kota yang Bangkit dari Abu Perang Troya
Pergamon (pexels.com/Mert Erim)
Intinya Sih
  • Pergamon di Turki barat dikenal sebagai kota kuno penting era Helenistik, pernah menjadi ibu kota Dinasti Attalid dan pusat budaya, politik, serta ilmu pengetahuan dunia kuno.

  • Kota ini memiliki hubungan simbolis dengan kisah Perang Troya melalui legenda Telephos dan Eurypylos, yang dimanfaatkan untuk memperkuat identitas serta legitimasi kekuasaan Dinasti Attalid.

  • Pergamon berkembang dari pusat pembelajaran hingga penyembuhan pada masa Romawi, menyimpan warisan arsitektur dan sejarah berlapis dari era Helenistik, Bizantium, hingga Ottoman.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Pergamon merupakan kota kuno yang terletak di wilayah Bergama, Turki barat. Kota ini dikenal sebagai salah satu pusat penting dunia Helenistik dan pernah menjadi ibu kota Dinasti Attalid pada abad ke 3 sebelum Masehi. Pergamon berkembang menjadi pusat budaya, ilmu pengetahuan, dan politik yang berpengaruh di kawasan Mediterania kuno.

Daya tarik Pergamon tidak hanya berasal dari bangunan megah yang masih bertahan hingga kini. Kota ini juga memiliki kaitan dengan kisah legendaris Perang Troya serta menyimpan jejak berbagai peradaban yang silih berganti selama berabad abad. Beragam warisan tersebut menjadikan Pergamon sebagai salah satu situs bersejarah paling menarik untuk ditelusuri.

1. Memiliki kaitan dengan kisah Perang Troya

Pergamon
Pergamon (pexels.com/Mert Erim)

World History Encyclopedia mencatat sebuah legenda tentang asal-usul Pergamon yang mengaitkan kota ini dengan tokoh Telephos dan putranya, Eurypylos. Dalam tradisi Yunani kuno, Eurypylos dikenal sebagai tokoh yang ikut berperang melawan pasukan Yunani dalam konflik Troya. Kaitan tersebut membuat Pergamon memiliki hubungan simbolis dengan kisah epik dunia Yunani kuno.

Kisah tersebut dimanfaatkan Dinasti Attalid untuk memperkuat identitas dan legitimasi kekuasaan mereka. Hubungan dengan pahlawan legendaris ini memberi Pergamon latar sejarah prestisius di mata dunia Helenistik, sekaligus menjadi bagian penting dari citra kota pada masa kejayaannya.

2. Pernah menjadi pusat ilmu pengetahuan dunia kuno

Pergamon
Pergamon (pexels.com/Elias Sarantopoulos)

Menurut UNESCO, Pergamon berkembang menjadi salah satu pusat pembelajaran terbesar pada masanya. Kota ini memiliki kuil-kuil monumental, teater, stoa, hingga perpustakaan besar yang didirikan oleh Dinasti Attalid. Perpustakaan tersebut menjadi simbol penting perkembangan ilmu pengetahuan di dunia kuno.

Keberadaan perpustakaan itu menunjukkan bahwa Pergamon tidak hanya mengandalkan kekuatan politik dan militer. Berdasarkan penjelasan UNESCO, persaingan antar dinasti Helenistik turut mendorong perkembangan seni dan intelektual. Kondisi tersebut membuat Pergamon dikenal sebagai pusat budaya yang berpengaruh.

3. Dibangun di atas bukit dengan tata kota yang unik

Pergamon
Pergamon (unsplash.com/Ahmet Demiroğlu)

Pergamon berdiri di puncak Kale Hill yang menjulang di atas Dataran Bakircay. Menurut UNESCO, para penguasa Attalid merancang kota dengan menyesuaikan bangunan terhadap medan yang curam. Tata ruang tersebut membuat Pergamon berbeda dari banyak kota kuno lainnya.

Di kawasan akropolis terdapat teater yang sangat curam, gimnasium bertingkat, kuil, altar, dan berbagai bangunan monumental lainnya. Bangunan-bangunan tersebut dibangun mengikuti kondisi topografi perbukitan. Kemampuan mengintegrasikan arsitektur dengan alam menjadikan Pergamon sebagai contoh luar biasa perencanaan kota pada era Helenistik.

4. Menjadi pusat penyembuhan terkenal pada masa Romawi

Pergamon
Pergamon (commons.wikimedia.org/Bernard Gagnon)

Setelah jatuh di bawah kekuasaan Romawi pada tahun 133 sebelum Masehi, Pergamon berkembang menjadi ibu kota Provinsi Romawi Asia. Menurut UNESCO, kota ini kemudian dikenal luas berkat Asclepieion yang dikenal sebagai pusat penyembuhan. Kompleks tersebut merupakan salah satu pusat penyembuhan yang sangat penting pada masa kekaisaran Romawi kuno.

Asclepieion dibangun sebagai tempat yang berkaitan dengan praktik pengobatan dan pemujaan dewa penyembuhan Asklepios. Berdasarkan penjelasan UNESCO, kompleks ini memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat setempat. Keberadaannya turut memperkuat posisi Pergamon sebagai pusat budaya pada masa Romawi.

5. Menyimpan jejak banyak peradaban dalam satu kawasan

Pergamon
Pergamon (commons.wikimedia.org/Ingo Mehling)

Pergamon tidak berhenti berkembang setelah era Helenistik berakhir. Menurut UNESCO, kota ini terus dihuni dan mengalami perubahan selama masa Romawi, Bizantium, hingga Ottoman. Proses tersebut meninggalkan lapisan sejarah yang sangat beragam di satu kawasan yang sama.

Warisan dari berbagai periode tersebut masih dapat ditemukan hingga sekarang. Dilansir dari UNESCO, Pergamon menyimpan bangunan, sistem kota, tempat ibadah, dan berbagai peninggalan arsitektur dari beragam zaman. Keberadaan unsur unsur tersebut menjadikan Pergamon sebagai lanskap budaya berlapis yang mencerminkan perjalanan panjang sejarah Anatolia.

Pergamon menunjukkan bahwa sebuah kota kuno dapat terus bertahan dan bertransformasi selama ribuan tahun. Dari kaitannya dengan kisah Perang Troya hingga perannya sebagai pusat ilmu pengetahuan dan penyembuhan, setiap lapisan sejarah di Pergamon memperlihatkan bagaimana berbagai peradaban meninggalkan jejak yang masih dapat ditelusuri hingga sekarang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More