Buku harian asli berkotak-kotak merah milik Anne Frank. Halaman-halaman khusus ini penting karena berisi beberapa refleksi paling terkenal tentang identitasnya dan mimpinya untuk masa depan. (commons.wikimedia.org/Diego Delso (1974–)/Anne Frank (1929–1945))
Tepat sebelum mulai bersembunyi, Anne Frank menerima sebuah buku harian sebagai hadiah ulang tahunnya yang ke-13. Selama dua tahun dalam persembunyian, ia tidak hanya mencatat kejadian sehari-hari, tetapi juga menuangkan perasaan, menulis cerita pendek, hingga menyalin kalimat-kalimat indah dari buku yang dibacanya. Menulis menjadi cara utama bagi Anne untuk mengisi waktu, bahkan ia sempat terinspirasi untuk menyusun ulang catatan pribadinya menjadi satu cerita utuh setelah mendengar imbauan pemerintah untuk mendokumentasikan peristiwa perang.
Setelah perang berakhir, Otto Frank menerima kumpulan catatan putrinya dan menyusunnya menjadi buku berjudul Het Achterhuis, sesuai nama yang direncanakan Anne. Dalam bahasa Inggris, judul ini diterjemahkan menjadi "the 'Secret Annexe'" agar pembaca lebih mudah membayangkan posisi tempat persembunyian mereka yang tersembunyi. Sejak diterbitkan pertama kali pada tahun 1947, karya ini telah mendunia dan diadaptasi ke berbagai film serta drama, dengan Otto Frank yang juga diakui sebagai penulis pendamping atas kontribusinya menyusun naskah tersebut.
Kini, Rumah Anne Frank yang terletak di Prinsengracht 263-267 telah menjadi museum populer di Amsterdam yang didedikasikan untuk mengenang kehidupan Anne Frank serta sejarah kelam Holocaust. Melalui ruang-ruang kosong di dalamnya, kita diajak untuk terus menjaga nilai kemanusiaan agar tragedi serupa tidak terulang kembali di masa depan.