Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
3 Fakta Sains di Balik Banjir Bandang Nepal, Apa Penyebabnya?
ilustrasi banjir bandang (unsplash.com/Nguyen Kiet)
  • Banjir bandang Nepal menewaskan sedikitnya 165 orang hingga 27 Agustus 2026; runtuhan gletser di Himalaya diduga memicu aliran es, batu, dan sedimen berkecepatan tinggi.
  • Citra satelit menunjukkan bagian gletser di ketinggian sekitar 5.200 meter jatuh lebih dari 1.200 meter; USGS menyatakan getaran tercatat berasal dari runtuhan material, bukan gempa tektonik.
  • Lembah sempit dan lereng curam mempercepat serta memusatkan aliran menuju permukiman, sementara pencairan gletser dapat membesarkan danau glasial dan meningkatkan risiko banjir akibat jebolnya bendungan alami.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Nepal tengah menjadi sorotan setelah banjir bandang menerjang sejumlah wilayah dan menewaskan sedikitnya 165 orang per Kamis (27/8/2026). Di balik derasnya arus banjir bandang, ada proses alam yang terjadi jauh di kawasan pegunungan Himalaya. Runtuhnya gletser, bentuk lembah yang curam, hingga perubahan kondisi es menjadi bagian dari fenomena yang menarik untuk dipahami.

Banjir bandang di Nepal bukan sekadar air yang meluap, tetapi juga melibatkan pergerakan batu, es, dan sedimen dengan kecepatan tinggi. Kondisi ini membuat satu peristiwa di wilayah pegunungan dapat berdampak hingga ke kawasan yang lebih rendah. Lantas, apa saja fakta sains yang sebenarnya terjadi di balik banjir bandang Nepal? Yuk, simak lebih lanjut di bawah ini!

1. Gletser yang runtuh diduga memicu banjir bandang Nepal

ilustrasi gletser (pexels.com/Gustavo Sanchez)

Banjir bandang Nepal diduga bermula dari runtuhnya bagian gletser di kawasan Himalaya, bukan semata-mata karena air hujan yang meluap. Mengutip dari Reuters, citra satelit menunjukkan sebagian gletser di ketinggian sekitar 5.200 meter runtuh dan jatuh lebih dari 1.200 meter menuju lembah di bawahnya. Runtuhan tersebut membawa es, batu, dan material lain yang kemudian menghasilkan aliran debris dalam jumlah besar. Material itu kemudian masuk ke aliran sungai dan membuat air bergerak sangat deras ke wilayah yang lebih rendah.

Peristiwa ini sempat diduga berkaitan dengan gempa karena aktivitas seismik tercatat di kawasan tersebut. Namun, menurut U.S. Geological Survey (USGS), getaran yang terekam justru berasal dari runtuhnya material es dan batu, bukan gempa tektonik terpisah. Dengan kata lain, runtuhan gletser itu sendiri menghasilkan sinyal yang terbaca seperti aktivitas gempa.

Fenomena ini dikenal sebagai ice-rock avalanche, ketika massa es dan batu bergerak turun dari wilayah pegunungan dengan energi besar. Dalam kasus Nepal, aliran tersebut kemudian membawa sedimen dan bongkahan batu sehingga daya rusaknya semakin besar. Kendati demikian, per Kamis (27/8/2026), penyebab pasti banjir bandang Nepal masih terus dianalisis, meski runtuhnya gletser dan aliran debris telah diidentifikasi sebagai pemicu utama bencana tersebut.

2. Lembah yang curam membuat aliran banjir bandang Nepal semakin parah

ilustrasi wilayah Nepal (pexels.com/Muhammad Hary)

Nepal memiliki topografi yang didominasi perbukitan, pegunungan, lembah dalam, dan lereng yang curam. Mengutip dari World Bank, wilayah tengah dan utara Nepal memiliki banyak lembah dalam yang dialiri sungai dari kawasan pegunungan menuju dataran rendah. Kondisi ini membuat air dari wilayah yang lebih tinggi dapat mengalir dengan cepat menuju kawasan di bawahnya.

Ketika banjir bandang membawa material seperti batu dan sedimen, lembah sempit juga dapat membuat aliran tersebut terkonsentrasi dalam satu jalur. Dalam kasus banjir bandang terbaru di Nepal, aliran air dan material kemudian menerjang kawasan lembah serta permukiman di sepanjang sungai. Kondisi geografis seperti ini membuat banjir bandang di wilayah pegunungan memiliki daya rusak yang besar.

3. Pencairan gletser meningkatkan risiko banjir di Himalaya

ilustrasi pegunungan Himalaya (pexels.com/Dhruv Jangid)

Pencairan gletser menjadi salah satu fenomena yang perlu diperhatikan di kawasan Himalaya karena dapat meningkatkan risiko banjir di wilayah sekitarnya. Dilansir International Centre for Integrated Mountain Development (ICIMOD), kenaikan suhu membuat gletser mencair dan mundur sehingga danau glasial dapat terbentuk atau membesar. ICIMOD merupakan organisasi antarpemerintah yang berfokus pada pembangunan berkelanjutan di kawasan Hindu Kush Himalaya.

Sementara itu, NASA menjelaskan bahwa membesarnya danau glasial dapat meningkatkan risiko banjir ketika bendungan alami yang menahannya runtuh. Jika bendungan tersebut jebol, air dalam jumlah besar dapat mengalir tiba-tiba dan memicu Glacial Lake Outburst Flood (GLOF). Fenomena ini menjadi salah satu risiko yang dihadapi masyarakat di kawasan Himalaya, termasuk Nepal.

Banjir bandang Nepal menunjukkan bahwa kondisi alam di kawasan Himalaya memiliki kaitan erat dengan perubahan pada gletser dan bentang alam pegunungan. Memahami proses di baliknya penting untuk meningkatkan kewaspadaan dan upaya mitigasi bencana di wilayah yang rentan. Menurutmu, apa langkah yang paling krusial untuk mengurangi risiko bencana serupa di masa depan?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article