Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

4 Fakta WB-57, Pesawat Unik NASA Untuk Meneliti Gerhana Matahari

4 Fakta WB-57, Pesawat Unik NASA Untuk Meneliti Gerhana Matahari
potret pesawat NASA WB-57F yang digunakan NASA untuk penelitian gerhana Matahari total pada 12 Agustus 2026 lalu (commons.wikimedia.org/NASA)
  • NASA menggunakan WB-57, pesawat riset ketinggian tinggi berbasis pengebom Martin B-57 Canberra, untuk mengamati gerhana Matahari total 12 Agustus 2026 dari stratosfer.
  • WB-57 dapat terbang di atas 60.000 kaki selama sekitar 6,5 jam, mengikuti bayangan Bulan dan merekam data korona Matahari tanpa gangguan awan, debu, maupun turbulensi.
  • NASA Johnson Space Center memiliki tiga WB-57, tetapi kini mengoperasikan dua setelah NASA 927 rusak saat pendaratan darurat Januari 2026; awaknya memakai pakaian bertekanan khusus.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Pada tanggal 12 Agustus 2026 yang lalu sejumlah wilayah seperti: Samudra Atlantik, Greenland, Islandia, Rusia utara, Spanyol dan sebagian kecil wilayah Portugal menyaksikan fenomena astronomi gerhana Matahari total yakni sebuah fenomena ketika Bulan berada di antara Matahari dan Bumi dalam satu garis lurus untuk beberapa saat. Selama berlangsungnya fenomena tersebut cahaya Matahari ke Bumi untuk beberapa saat terhalang sehingga menjadikan siang hari seperti pada waktu malam hari. Fenomena langit ini selalu menarik perhatian para ilmuwan untuk menelitinya.

Untuk meneliti secara lebih detail fenomena astronomi tersebut, selain pengamatan visual dari darat, NASA juga melakukan pengamatan dari ketinggian tinggi (high altitude) dengan meluncurkan salah satu pesawat jet modifikasi uniknya yang berfungsi sebagai platform penelitian fenomena alam di udara yakni: WB-57 (varian WB-57F). Menurut laman NASA, WB-57 adalah pesawat jarak jauh dengan konfigurasi sayap tengah (mid-wing) yang dapat beroperasi dalam waktu lama, mulai dari ketinggian di atas permukaan laut hingga ketinggian ekstrem di atas 60.000 kaki (18.000-an m).

Ingin tahu lebih lanjut mengenai fakta unik pesawat yang menjadi andalan untuk memburu gerhana Matahari ini? Simak empat fakta menariknya berikut ini, yuk!

  1. 1. Berbasis pesawat pengebom Martin B-57 Canberra

    potret pesawat pengintai AU AS Martin RB-57F Canberra yang merupakan varian dari Bomber B-57 Canberra yang kemudian dimodifikasi menjadi NASA WB-57F
    potret pesawat pengintai AU AS Martin RB-57F Canberra yang merupakan varian dari Bomber B-57 Canberra yang kemudian dimodifikasi menjadi NASA WB-57F (commons.wikimedia.org/USAF)

    Pesawat WB-57 ini berbasis pesawat pengebom taktis Angkatan Udara (AU) Amerika Serikat (AS), yakni Martin B-57 Canberra. Dilansir laman National Museum United States Air Force, Martin B-57 Canberra adalah pesawat pengebom taktis bermesin ganda buatan pabrikan asal AS, Glenn L. Martin Company, yang mulai beroperasi di AU AS pada tahun 1953. B-57 Canberra buatan Glenn L. Martin tersebut merupakan versi lisensi dari pesawat buatan Inggris English Electric Canberra. Model awal buatan pabrikan Martin hampir identik dengan versi buatan Inggris, namun kemudian Martin memodifikasi desainnya dengan menggunakan lebih banyak komponen buatan AS serta memproduksinya dalam sejumlah varian.

    Martin B-57 Canberra ini memiliki dimensi tinggi 4.52 m, panjang 20 m serta rentang sayap (wingspan) 19,5 m. Pesawat ini mampu beroperasi pada ketinggian 45.100 kqki (13.000-an m), dengan kecepatan jelajah 765 km/jam dan jangkauan tempur 1.530 km. Pesawat ini terlibat dalam Perang Vietnam di tahun 1965 dan memegang predikat sebagai pesawat pengebom bermesin jet pertama AU AS yang menjatuhkan bom dalam pertempuran. Sejumlah varian bomber ini diproduksi termasuk varian pengintai, dan varian ekspor yang dijual ke luar negeri seperti untuk AU Pakistan. Bomber ini dipensiun dari AU AS pada tahun 1983 dan 3 varian pesawat pengintainya RB-57F nya dimodifikasi menjadi WB-57 untuk kepentingan penelitian NASA dan masih beroperasi hingga hari ini.

  2. 2. Bertindak sebagai labolatorium penelitian udara

    Pesawat WB-57 adalah platform NASA untuk penelitian di ketinggian tinggi dan bertindak sebagai labolatorium udara. Menurut laman NASA, pesawat jet ini memiliki spesialisasi untuk melakukan penelitian di atas ketinggian 60.000 kaki (di atas 18.000-an m) atau di lapisan atmosfer yang disebut Stratosfer selama sekitar 6,5 jam. Sebagai perbandingan, ketinggian jelajah pesawat penumpang jumbo jet Boeing 747-8 adalah sekitar 30.000 hingga 39.000 kaki (9.100 hingga 11.900 m). WB-57 dioperasikan oleh 2 orang awak pesawat yang duduk tandem, pilot duduk di kursi bagian depan dengan tugas utama untuk menerbangkan dan mengendalikan pesawat. Awak Sensor Equipment Operator (SEO), duduk di kursi bagian belakang untuk mengendalikan instrumen ilmiah seperti kamera dan perangkat navigasi.

    Dalam kaitannya dengan gerhana Matahari, menurut NASA, WB-57 terbang di lapisan Stratosfer sehingga terhindar dari awan, debu dan turbulensi atmosfer. Pesawat terbang mengikuti bayangan Bulan, sehingga memperpanjang durasi pengamatan gerhana Matahari dibandingkan dengan titik diam di permukaan Bumi. Peralatan foto canggih yang ditempatkan di bagian hidung pesawat merekam data ilmiah yang akurat megenai korona Matahari, atmosfer terluar Matahari yang tampak selama terjadinya gerhana matahari total.

  3. 3. NASA memiliki 3 unit WB-57

    gambaran artis pesawat NASA WB-57 yang terkenal dengan bentuk hidungnya yang menyimpan peralatan canggih penelitian
    gambaran artis pesawat NASA WB-57 yang terkenal dengan bentuk hidungnya yang menyimpan peralatan canggih penelitian (commons.wikimedia.org/NASA)

    NASA Johnson Space Center (JSC) mengoperasikan 3 unit pesawat WB-57. Dua pesawat dengan no registrasi NASA 926 dan NASA 928 dioperasikan oleh NASA sejak awal tahun 1970-an sedangkan pesawat ketiga dengan no registrasi NASA 927 dioperasikan pada tahun 2013 setelah lebih dari 40 tahun berada di tempat penyimpanan Pangkalan AU AS Davis Monthan, Arizona dan kemudian dikembalikan ke status layak terbang oleh NASA pada tahun 2013 silam.

    Dari 3 unit armada WB-57 tersebut saat ini hanya 2 unit yang dioperasikan karena sebagaimana diinformasikan dalam laman The Space Review, pada tanggal 27 Januari 2026 lalu, pesawat WB-57 NASA dengan no.registrasi NASA 927 melakukan pendaratan darurat tanpa menurunkan roda pendaratan karena adanya masalah pada sistem roda pendaratnya sehingga mengalami kerusakan parah, beruntungnya kedua awaknya selamat dalam peristiwa tersebut. WB-57 bukanlah pesawat yang mudah didaratkan karena desain sayapnya menghasilkan daya angkat yang sangat besar. Pesawat yang mengalami crash tersebut hingga kini masih belum bisa terbang.

  4. 4. Pilotnya memakai pakaian bertekanan khusus

    potret pilot dan awak pesawat WB-57 yang mengenakan pakaian antariksa seperti pakaian astronaut
    potret pilot dan awak pesawat WB-57 yang mengenakan pakaian antariksa seperti pakaian astronaut (commons.wikimedia.org/NASA)

    Terdapat fakta unik mengenai pakaian pilot dan awak pesawat jet WB-57 ini yakni tak seperti pakaian pilot pesawat jet atau pesawat tempur lainnya, pakaian pilot dan awak pesawat WB-57 ini mirip dengan pakaian antariksa atau pakaian bertekanan khusus yang digunakan oleh para astronaut. Pakaian tersebut terbuat dari material garmen khusus yang menutupi seluruh tubuh dan berisi oksigen bertekanan. Menurut laman Airforce Military, pesawat WB-57 mampu terbang di atas ketinggian 60.000 kaki atau sekitar 18.000-an meter sehingga mensyaratkan para awaknya untuk mengenakan pakaian bertekanan khusus.

    Pada ketinggian di atas 60.000 kaki, lingkungan sangat berbahaya untuk manusia, karena tekanan udara sekitar akan turun sangat rendah sehingga cairan tubuh manusia akan mendidih jika awak pesawat tak memakai pakaian khusus ketika kabin kehilangan tekanannya. Pakaian bertekanan khusus juga menyuplai oksigen bertekanan 100% untuk menjaga kelangsungan hidup para awak pesawat karena di atas ketinggian 10.000 kaki, kekurangan oksigen (hipoksia) dapat menyebabkan hilangnya kesadaran dengan cepat. Menurut NASA, salah satu hal terpenting dari pakaian bertekanan ini adalah fungsinya sebagai perlindungan darurat jika kabin kehilangan tekanan atau awak harus melontar dari ketinggian ekstrem, pakaian tersebut akan berfungsi sebagai wahana antariksa pribadi untuk kelangsungan hidup mereka saat melontar.

    Semoga informasi ini dapat menambah wawasan kamu mengenai pesawat jet berkemampuan unik yang dioperasikan oleh NASA, ya!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More