Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
7 Fakta Unik Sturgeon Moon 2026, Purnama yang Nyaris Ditelan Bumi
ilustrasi fenomena sturgeon moon (commons.wikimedia.org/NASA Michoud Assembly Facility & Michael DeMocker)
  • Sturgeon Moon, purnama tradisional Agustus, mencapai puncak pada 28 Agustus 2026 dan bertepatan dengan gerhana bulan parsial sangat dalam pada 27–28 Agustus.
  • Saat puncak gerhana, sekitar 93 persen diameter Bulan memasuki umbra Bumi; Bulan berpotensi tampak gelap kemerahan, tetapi statusnya tetap gerhana parsial.
  • Gerhana dapat diamati dari Amerika Utara dan Selatan serta sebagian Eropa-Afrika, sementara Agustus 2026 juga menghadirkan gerhana Matahari total, Perseid, dan Venus terang.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bulan purnama selalu punya cara sendiri untuk membuat langit malam terasa sedikit lebih dramatis. Namun, penghujung Agustus 2026 menghadirkan sesuatu yang lebih istimewa. Pada 28 Agustus 2026, Bulan akan mencapai fase purnama dan dikenal sebagai Sturgeon Moon. Yang membuatnya menarik bukan cuma nama tradisional tersebut, melainkan karena purnama kali ini beriringan sangat dekat dengan gerhana bulan parsial yang amat dalam. NASA memasukkan gerhana bulan parsial ini sebagai salah satu sorotan utama pengamatan langit Agustus 2026. Jadi, ada kisah tentang ikan purba, geometri Matahari-Bumi-Bulan, sekaligus permainan cahaya dan bayangan yang terjadi dalam satu momen astronomis.

Secara teknis, Bulan memang tidak benar-benar “ditelan Bumi”. Ungkapan tersebut merupakan metafora untuk menggambarkan bagaimana sebagian besar piringan Bulan akan memasuki umbra, yaitu bagian paling gelap dari bayangan Bumi. Menurut Space Daily, sekitar 93 persen diameter Bulan akan berada di dalam umbra ketika gerhana mencapai puncaknya. Karena itulah peristiwa ini tampak seperti gerhana total yang gagal beberapa langkah; sebagian kecil Bulan masih berada di luar umbra, sehingga statusnya tetap sebagai gerhana bulan parsial bukan total. Bagi pencinta langit, kombinasi purnama dan gerhana yang nyaris total inilah yang membuat Sturgeon Moon 2026 layak mendapatkan perhatian khusus. Yuk, kita telusuri keunikan fenomena langit yang satu ini!

1. Sturgeon Moon mencapai puncak pada 28 Agustus 2026

ilustrasi fenomena sturgeon moon (pexels.com/Tom Fisk)

Sturgeon Moon merupakan nama tradisional untuk purnama Agustus. Pada 2026, puncak fase purnama berlangsung pada 28 Agustus, sehingga penghujung bulan menjadi panggung bagi Bulan untuk mencapai iluminasi penuh. The Old Farmer’s Almanac mencatat bahwa Full Sturgeon Moon 2026 terjadi pada Jumat, 28 Agustus, sekitar pukul 00.18 Eastern Time. Waktu puncak tersebut tentu berbeda jika dikonversikan ke zona waktu lain, sehingga pengamat di setiap negara perlu menggunakan waktu lokal ketika menentukan kapan Bulan berada pada fase penuhnya.

Secara astronomis, fase purnama terjadi ketika Bulan berada hampir berseberangan dengan Matahari jika dilihat dari Bumi. Akibatnya, sisi Bulan yang menghadap Bumi mendapatkan penerangan Matahari hampir sepenuhnya. Inilah alasan Bulan purnama tampak bulat dan terang. Namun, fase purnama sendiri tidak berarti Bulan selalu mengalami gerhana. Orbit Bulan miring sekitar lima derajat terhadap bidang orbit Bumi mengelilingi Matahari, sehingga dalam kebanyakan purnama Bulan melewati sedikit di atas atau di bawah bayangan Bumi. Gerhana hanya terjadi ketika geometri ketiganya cukup tepat.

Menariknya, tahun ini geometri tersebut hampir sempurna. Purnama 28 Agustus berlangsung bersamaan dengan musim gerhana yang menghadirkan gerhana bulan parsial pada 27—28 Agustus. Dengan kata lain, Sturgeon Moon 2026 bukan sekadar purnama yang kebetulan muncul di akhir bulan, melainkan purnama yang datang ketika lintasan Bulan membawanya sangat dekat dengan pusat bayangan Bumi. Karena itu, langit Agustus 2026 memiliki salah satu tontonan Bulan paling dramatis tahun ini.

2. Namanya berasal dari ikan besar, bukan warna Bulan

ilustrasi fenomena sturgeon moon (pexels.com/Tom Fisk)

Mendengar istilah Sturgeon Moon, orang mungkin membayangkan Bulan berwarna seperti ikan atau mengira istilah tersebut merupakan klasifikasi astronomi. Faktanya, Sturgeon Moon adalah nama budaya untuk purnama Agustus, bukan istilah ilmiah mengenai bentuk, warna, atau ukuran Bulan. Menurut Farmer’s Almanac, nama ini berkaitan dengan sturgeon yang secara historis dikaitkan dengan wilayah Great Lakes dan Lake Champlain di Amerika Utara. Ikan tersebut disebut lebih mudah ditangkap pada periode ketika purnama Agustus berlangsung.

Sturgeon sendiri merupakan kelompok ikan purba yang telah menghuni perairan Bumi selama ratusan juta tahun. Salah satu yang terkenal adalah lake sturgeon (Acipenser fulvescens), ikan air tawar berukuran besar yang memiliki tubuh memanjang, moncong khas, serta barbel di sekitar mulut. Jadi, nama Sturgeon Moon sebenarnya menyimpan jejak hubungan manusia dengan perubahan musim dan aktivitas menangkap ikan. Sebelum kalender modern menjadi cara utama manusia membaca waktu, perubahan alam menjadi semacam kalender ekologis yang sangat penting bagi masyarakat.

Yang tak kalah menarik, Sturgeon Moon bukan satu-satunya nama yang pernah digunakan untuk purnama Agustus. The Old Farmer’s Almanac mencatat sejumlah nama alternatif dari tradisi masyarakat berbeda, termasuk Black Cherries Moon, Corn Moon, Flying Up Moon, Mountain Shadows Moon, dan Ricing Moon. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa nama purnama bukanlah hukum astronomi universal, melainkan hasil interaksi manusia dengan lingkungan, musim, budaya, dan aktivitas sehari-hari.

3. Sekitar 93 persen Bulan nyaris masuk bayangan Bumi

ilustrasi fenomena sturgeon moon (pexels.com/Soly Moses)

Inilah fakta yang membuat Sturgeon Moon 2026 benar-benar istimewa; yakni bersamaan dengan gerhana bulan parsial. Pada gerhana 27—28 Agustus, sekitar 93 persen diameter Bulan akan masuk ke umbra Bumi. Space Daily mengategorikannya sebagai very deep partial lunar eclipse, atau gerhana bulan parsial yang sangat dalam. Secara visual, hampir seluruh permukaan Bulan akan berada di dalam bagian tergelap bayangan Bumi, sementara hanya sebagian kecil yang lolos dari umbra.

Untuk memahami fenomenanya, bayangan Bumi dalam gerhana bulan pada dasarnya terdiri atas dua bagian utama; yaitu penumbra dan umbra. Penumbra merupakan bagian bayangan yang lebih samar, sedangkan umbra adalah bagian yang jauh lebih gelap karena Matahari terhalang oleh Bumi. Ketika Bulan masuk ke umbra hanya sebagian, terjadilah gerhana bulan parsial. Jika seluruh piringan Bulan masuk ke umbra, barulah peristiwa tersebut dikategorikan sebagai gerhana total. Karena pada Agustus 2026 masih ada bagian Bulan yang berada di luar umbra, statusnya tetap sebagian.

Angka 93 persen juga memperlihatkan betapa tipis perbedaannya dengan gerhana total. Namun, “nyaris total” bukan berarti secara astronomis boleh disebut total. Klasifikasi gerhana ditentukan oleh apakah seluruh piringan Bulan masuk ke umbra atau tidak. Karena itu, judul “nyaris ditelan Bumi” memang terdengar dramatis, tetapi tetap memiliki dasar geometris. Hampir seluruh Bulan benar-benar berada di wilayah bayangan tergelap Bumi ketika gerhana mencapai maksimum.

4. Bulan bisa berubah merah, tetapi bukan karena terbakar

ilustrasi fenomena sturgeon moon (commons.wikimedia.org/NASA Michoud Assembly Facility & Michael DeMocker)

Karena sebagian besar Bulan berada di dalam umbra, permukaannya berpotensi terlihat jauh lebih gelap dan kemerahan dibandingkan purnama biasa. Warna merah ini berkaitan dengan atmosfer Bumi. Ketika cahaya Matahari melewati atmosfer, komponen cahaya dengan panjang gelombang lebih pendek seperti biru lebih mudah tersebar, sedangkan cahaya merah dan jingga lebih mampu mencapai wilayah yang membelok menuju Bulan. Cahaya tersebut kemudian membuat bagian Bulan yang berada di umbra tetap tampak samar. NASA memasukkan fenomena gerhana bulan parsial yang dalam ini sebagai salah satu highlight pengamatan langit Agustus 2026.

Fenomena tersebut menjelaskan mengapa gerhana bulan kadang dijuluki Blood Moon—meskipun bukan klasifikasi astronomi formal. Warna Bulan selama gerhana tidak selalu memiliki tingkat merah yang sama. Kondisi atmosfer Bumi, termasuk jumlah debu dan aerosol di atmosfer, dapat memengaruhi warna cahaya yang sampai ke Bulan. Akibatnya, Bulan yang mengalami gerhana dapat tampak cokelat kemerahan, tembaga, jingga, bahkan relatif gelap.

Namun, ada satu catatan penting. Sturgeon Moon 2026 bukan gerhana bulan total. Jadi, menyebutnya sebagai Blood Moon secara mutlak kurang tepat. Sebutan yang lebih akurat adalah purnama yang bertepatan dengan gerhana bulan parsial yang sangat dalam, dengan sebagian besar piringan Bulan masuk ke umbra. Justru perbedaan kecil inilah yang membuat peristiwa tersebut menarik secara ilmiah. Bulan berhenti tepat sebelum seluruh cakramnya ditelan bayangan Bumi.

5. Gerhananya tidak terlihat dari seluruh dunia

ilustrasi fenomena sturgeon moon (pexels.com/Robert So)

Meski bulan purnama secara prinsip dapat dilihat dari berbagai wilayah Bumi yang sedang mengalami malam, gerhana bulan memiliki batas visibilitas yang berbeda. EarthSky menyebut gerhana 27—28 Agustus 2026 dapat diamati dari wilayah Amerika Utara dan Selatan serta sebagian Eropa dan Afrika. Dengan demikian, tidak semua orang yang melihat Sturgeon Moon akan menyaksikan bagian paling dramatis ketika Bulan masuk ke umbra.

Hal ini terjadi, karena gerhana bulan berlangsung pada waktu tertentu, sementara separuh Bumi lainnya sedang mengalami siang. Agar gerhana dapat diamati, Bulan harus berada di atas horizon ketika fase gerhana berlangsung. Karena itu, lokasi geografis sangat menentukan apakah seseorang dapat melihat fase penumbra, fase sebagian, atau bahkan tidak melihat gerhana sama sekali. EarthSky juga menegaskan bahwa kondisi cuaca dan garis pandang ke Bulan turut menentukan keberhasilan pengamatan.

Bagi pembaca Indonesia, fakta ini menjadi pengingat bahwa purnama dan gerhana bukan dua hal yang otomatis terlihat bersamaan dari setiap tempat. Kalender astronomi boleh menunjukkan tanggal yang sama, tetapi pengalaman pengamat di berbagai belahan Bumi bisa sangat berbeda. Ada wilayah yang mendapatkan pertunjukan hampir penuh, ada yang hanya melihat sebagian tahap, dan ada pula yang sama sekali tidak menyaksikan fase gerhananya.

6. Agustus 2026 memang sedang gila-gilanya untuk pengamat langit

ilustrasi fenomena sturgeon moon (pexels.com/Petar Avramoski)

Sturgeon Moon bukan satu-satunya peristiwa astronomis besar pada Agustus 2026. NASA menyebut bulan ini sebagai periode yang sangat menarik untuk skywatching. Karena, menghadirkan beberapa fenomena sekaligus, termasuk gerhana matahari total pada 12 Agustus, hujan meteor Perseid, Venus yang terang setelah Matahari terbenam, serta gerhana bulan sebagian yang sangat dalam pada 27—28 Agustus. Artinya, siapa pun yang gemar mengamati langit mendapatkan lebih dari satu alasan untuk menengadah sepanjang bulan tersebut.

Secara khusus, keberadaan dua gerhana dalam satu bulan kalender membuat Agustus 2026 terasa istimewa. Gerhana Matahari total terjadi pada 12 Agustus, sementara sekitar dua minggu kemudian datang gerhana Bulan sebagian pada 27–28 Agustus. Pola seperti ini bukan kebetulan. Gerhana matahari dan gerhana bulan dapat muncul berdekatan, karena keduanya terjadi ketika konfigurasi orbit Bulan terhadap Matahari dan Bumi berada pada musim yang memungkinkan bayangan salah satu benda langit mengenai benda lainnya.

Karena itu, Sturgeon Moon 2026 sebenarnya merupakan bagian dari rangkaian langit yang lebih besar. Bulan purnama tersebut hadir setelah peristiwa gerhana Matahari total pada pertengahan bulan dan menjadi penutup dramatis rangkaian gerhana Agustus. Jika dilihat sebagai satu cerita astronomis, Agustus 2026 bukan hanya soal kehadiran purnama di langit, melainkan ketika geometri tata surya memberikan pertunjukan bayangan yang sangat menarik.

7. Sturgeon Moon bukan Harvest Moon

ilustrasi fenomena sturgeon moon (commons.wikimedia.org/USFWS Mountain Prairie)

Satu miskonsepsi yang mudah muncul adalah menganggap setiap purnama di akhir musim panas sebagai Harvest Moon. Padahal, Harvest Moon memiliki definisi musiman tertentu. The Old Farmer’s Almanac menjelaskan bahwa Harvest Moon adalah purnama yang paling dekat dengan ekuinoks musim gugur. Pada 2026, purnama tersebut terjadi pada 26 September, bukan pada Agustus.

Karena itu, Sturgeon Moon dan Harvest Moon adalah dua nama untuk dua purnama yang berbeda. Sturgeon Moon hadir pada 28 Agustus, sedangkan Harvest Moon menyusul sekitar satu bulan kemudian pada 26 September. Perbedaan ini menunjukkan bahwa penamaan purnama tradisional tidak bisa begitu saja diperlakukan sebagai sinonim untuk “purnama terbesar” atau “purnama terakhir musim panas”. Ada konteks budaya dan musiman di balik setiap istilah.

Justru di sinilah menariknya Sturgeon Moon 2026. Ia membawa nama yang berasal dari tradisi manusia dan ikan sturgeon, tetapi pada saat yang sama menjadi bagian dari peristiwa astronomis yang sepenuhnya dapat dijelaskan melalui mekanika orbit. Bulan mencapai fase penuh, lintasannya membawa sebagian besar cakramnya masuk ke umbra Bumi, lalu cahaya yang telah melewati atmosfer Bumi membuat bagian yang tergerhana berpotensi tampak kemerahan. Satu nama tradisional akhirnya bertemu dengan geometri tata surya yang spektakuler.

Sturgeon Moon 2026 pada akhirnya mengajarkan satu hal sederhana. Langit tidak pernah benar-benar sekadar indah. Di balik sebuah purnama yang tampak seperti bola putih menggantung di malam hari, terdapat hubungan rumit antara orbit Bulan, posisi Bumi, cahaya Matahari, dan atmosfer planet kita. Pada 28 Agustus, hampir seluruh wajah Bulan bahkan akan berjalan memasuki bayangan Bumi, membuatnya seolah-olah hampir ditelan oleh planet yang selama ini menjadi rumah bagi para pengamatnya. Tetapi justru karena tidak sepenuhnya masuk ke umbra, Bulan menyisakan sedikit bagian yang tetap terang—semacam garis tipis yang membedakan gerhana sebagian dari gerhana total.

Dan mungkin itu yang membuat Sturgeon Moon kali ini terasa lebih puitis daripada sekadar kalender astronomi. Namanya berasal dari ikan purba yang pernah menjadi bagian penting kehidupan masyarakat di Amerika Utara, sementara penampilannya ditentukan oleh bayangan Bumi yang bergerak melintasi ruang. Ia mempertemukan budaya, ekologi, sejarah, dan fisika dalam satu purnama. Jadi, ketika purnama Agustus 2026 terlihat penuh di langit, ingatlah bahwa di balik nama Sturgeon Moon ada cerita manusia dan alam; sedangkan di balik julukan “purnama yang nyaris ditelan Bumi” terdapat matematika orbit yang bekerja dengan presisi luar biasa.

Referensi

Anthony Wood. (2026). “Partial lunar eclipse August 2026: Where will it be visible from?”. Article of Space.com.

Catherine Boeckmann. (2025). “Full Moon Names for 2026”. Article of The Old Farmer’s Almanac.

Catherine Boeckmann. (2026). “Full Sturgeon Moon August 2026: Meaning, Date, and How to See It”. Article of The Old Farmer’s Almanac.

Chris Jeremia. (2026). “93 percent of the Moon’s width slides into Earth’s dark inner shadow on the night of August 27, and because the rim left outside it may stay hundreds of times brighter, the Moon will look bitten rather than red”. Article of Space Daily.

Marcy Curran. (2026). “Deep partial lunar eclipse on August 27-28, 2026”. Article of EarthSky.

Melissa Mayntz. (2026). “Sturgeon Moon 2026: August Full Moon Date, Names, and Viewing Guide”. Article of Farmer’s Almanac.

Raquel Villanueva. (2026). “What’s Up: August 2026 Skywatching Tips from NASA”. Article of NASA Science.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article