Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

7 Fakta Gerhana Bulan Parsial Agustus 2026, Indonesia Tak Kebagian

7 Fakta Gerhana Bulan Parsial Agustus 2026, Indonesia Tak Kebagian
ilustrasi gerhana bulan parsial yang pernah terjadi (commons.wikimedia.org/Vxfour11)
  • Gerhana Bulan parsial 28 Agustus 2026 mencapai puncak pukul 04.14 UTC, bertepatan dengan purnama, saat konfigurasi Matahari, Bumi, dan Bulan memungkinkan Bulan melintasi bayangan Bumi.
  • Fenomena ini tergolong gerhana parsial sangat dalam: sekitar 93 persen diameter Bulan memasuki umbra, berpotensi tampak merah karat atau tembaga, dengan fase parsial berlangsung sekitar 3 jam 18 menit.
  • Indonesia tidak dapat menyaksikan gerhana karena Bulan berada di bawah horizon sepanjang peristiwa; wilayah visibilitas mencakup Amerika, sebagian Eropa-Afrika, dan Pasifik. Ini gerhana Bulan terakhir pada 2026.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Langit Agustus 2026 sebenarnya menyimpan cukup banyak tontonan astronomi menarik. Setelah gerhana matahari total pada 12 Agustus, bulan ini akan ditutup oleh fenomena yang tak kalah unik, yakni gerhana bulan parsial pada 28 Agustus 2026. Menariknya, dalam beberapa zona waktu fenomena ini sudah dimulai pada malam 27 Agustus dan berlanjut hingga 28 Agustus. NASA memasukkannya sebagai salah satu fenomena langit utama Agustus, karena gerhana ini tergolong deep partial lunar eclipse (gerhana sebagian yang sangat dalam). Pada puncaknya, sekitar 93 persen diameter Bulan akan berada di dalam umbra atau bayangan inti Bumi.

Sayangnya, ada kabar kurang menyenangkan bagi pemburu fenomena langit di Indonesia. Gerhana bulan parsial ini tidak dapat diamati dari wilayah Indonesia. Ketika fase-fase pentingnya berlangsung, Bulan berada di bawah horizon Indonesia. Peta visibilitas menunjukkan kawasan Amerika, sebagian Eropa dan Afrika, serta wilayah Samudra Pasifik sebagai lokasi yang berkesempatan menyaksikannya. Jadi, meski Indonesia berada di Bumi yang sama dan mengalami malam pada sebagian rangkaian peristiwa, posisi Bulan terhadap horizon membuat kita tetap tidak mendapatkan pertunjukannya secara langsung. Namun, hal tersebut tidak mengurangi kuriositas kita tentunya terhadap keunikan fenomena langit yang satu ini, kan? Yuk, kita telusuri apa saja fakta unik di balik gerhana bulan parsial yang akan menghiasi langit akhir Agustus 2026 ini!

  1. 1. Gerhana terjadi saat Bulan sedang purnama

    ilustrasi gerhana bulan parsial saat purnama
    ilustrasi gerhana bulan parsial saat purnama (commons.wikimedia.org/Jim Champion)

    Gerhana bulan hanya mungkin terjadi ketika Bulan berada pada fase purnama. Pada kondisi ini, posisi Matahari, Bumi, dan Bulan berada pada konfigurasi yang memungkinkan Bulan melewati bayangan Bumi. NASA menjelaskan bahwa pada gerhana bulan parsial, ketiganya tidak benar-benar sejajar sempurna sehingga hanya sebagian piringan Bulan yang memasuki umbra. Akibatnya, bayangan gelap Bumi tampak seperti perlahan “memakan” sebagian permukaan Bulan sebelum kemudian bergerak menjauh.

    Gerhana 28 Agustus 2026 bertepatan dengan fase purnama. Data kalender astronomi NASA menunjukkan puncak gerhana terjadi pada 04:14 UTC, sementara purnama terjadi hampir bersamaan. Jika dikonversikan ke Waktu Indonesia Barat, puncak gerhana berada sekitar 11.14 WIB. Karena berlangsung pada siang hari waktu Indonesia, Bulan memang bukan hanya berada di bawah horizon, tetapi juga tidak berada pada posisi yang memungkinkan pengamatan langsung dari Nusantara.

    Kondisi ini sekaligus memperlihatkan mengapa tidak setiap bulan purnama menghasilkan gerhana. Bidang orbit Bulan miring sekitar 5 derajat terhadap bidang orbit Bumi mengelilingi Matahari. Akibat kemiringan tersebut, Bulan biasanya melewati sedikit di atas atau di bawah bayangan Bumi. Gerhana baru terjadi ketika bulan purnama berada dekat titik perpotongan orbit tersebut, sehingga konfigurasi Matahari-Bumi-Bulan cukup dekat dengan satu garis lurus.

  2. 2. Ini gerhana parsial yang nyaris total

    ilustrasi gerhana bulan parsial yang nyaris total
    ilustrasi gerhana bulan parsial yang nyaris total (commons.wikimedia.org/nathanmac87)

    Jangan terkecoh dengan istilah “parsial”. Secara definisi, memang bukan seluruh piringan Bulan yang masuk ke umbra. Namun, gerhana Agustus 2026 termasuk sangat dalam. NASA mencatat bahwa sekitar 93 persen diameter Bulan akan berada di dalam umbra pada saat maksimum. Data katalog NASA juga memberikan nilai umbral magnitude sekitar 0,930; menandakan seberapa jauh bagian Bulan menembus bayangan inti Bumi.

    Dengan kata lain, hanya sebagian kecil dari piringan Bulan yang tetap berada di luar umbra ketika gerhana mencapai puncaknya. Inilah yang membuatnya menarik secara visual. Bagi pengamat di wilayah yang tepat, Bulan tidak sekadar menunjukkan “gigitan” kecil seperti pada gerhana sebagian yang dangkal. Sebagian besar wajah Bulan akan berada di kawasan bayangan Bumi, sehingga tampilannya dapat terasa seperti gerhana total yang gagal mencapai tahap totalitas.

    Perbedaan antara gerhana sebagian dan total terletak pada satu detail penting. “Apakah seluruh piringan Bulan masuk ke umbra atau tidak?” Pada gerhana 28 Agustus, sebagian kecil Bulan tetap berada di luar umbra. Karena itu, secara astronomis fenomena ini tetap dikategorikan sebagai gerhana bulan parsial, meskipun penampakannya bagi pengamat berpotensi sangat dramatis.

  3. 3. Sebagian Bulan bisa berubah menjadi merah tembaga

    ilustrasi gerhana bulan parsial yang berwarna merah
    ilustrasi gerhana bulan parsial yang berwarna merah (commons.wikimedia.org/ToryYu1989)

    Saat Bulan memasuki umbra Bumi, bukan berarti seluruh cahaya Matahari benar-benar hilang dari permukaannya. Sebagian cahaya Matahari masih dibelokkan dan disaring oleh atmosfer Bumi sebelum mencapai Bulan. Cahaya dengan panjang gelombang lebih pendek seperti biru dan ungu lebih mudah dihamburkan oleh atmosfer, sedangkan cahaya merah dan jingga lebih mudah melewatinya. Karena itulah bagian Bulan yang berada dalam bayangan dapat memperoleh rona merah, jingga, atau tembaga.

    NASA bahkan memperkirakan bahwa pada gerhana Agustus 2026, bagian Bulan yang tertutup umbra dapat tampak gelap dengan rona rusty atau coppery, alias merah karat hingga tembaga. Jadi, meskipun istilah “Blood Moon” lebih tepat digunakan secara populer untuk gerhana bulan total. Gerhana parsial yang sangat dalam ini tetap berpotensi menghasilkan perubahan warna yang mencolok pada bagian Bulan yang masuk ke umbra.

    Warna yang terlihat juga tidak selalu sama. Kondisi atmosfer Bumi ikut menentukan intensitas warna Bulan ketika terkena cahaya yang telah melewati atmosfer. Banyaknya debu, aerosol, awan, dan partikel di atmosfer dapat memengaruhi cahaya yang diteruskan menuju Bulan. NASA menjelaskan bahwa semakin banyak material tertentu di atmosfer, warna kemerahan yang terlihat selama gerhana dapat menjadi semakin kuat.

  4. 4. Fase gerhana bulan parsial berlangsung lebih dari tiga jam

    ilustrasi fase panjang dari gerhana bulan sebagian
    ilustrasi fase panjang dari gerhana bulan sebagian (commons.wikimedia.org/Brateevsky)

    Gerhana bulan bukan fenomena yang terjadi dalam sekejap. Untuk peristiwa 28 Agustus 2026, NASA mencatat durasi fase parsial sekitar 3 jam 18 menit. Jika seluruh rangkaian, termasuk fase penumbral, dihitung, durasinya mencapai sekitar 5 jam 38 menit. Artinya, perjalanan Bulan melewati bayangan Bumi merupakan proses yang berlangsung cukup lama, karena ukuran bayangan Bumi dan pergerakan Bulan di sepanjang orbitnya.

    Fase penumbral terjadi ketika Bulan terlebih dahulu memasuki bagian luar bayangan Bumi yang disebut penumbra. Perubahan kecerahan pada fase ini jauh lebih samar dibandingkan ketika Bulan memasuki umbra. Setelah itu, sebagian permukaan Bulan mulai masuk ke umbra dan barulah perubahan bentuk bayangan terlihat jauh lebih jelas. Ketika Bulan keluar dari umbra, proses berlangsung secara terbalik sebelum akhirnya seluruh Bulan meninggalkan penumbra.

    Data untuk Indonesia yang dirangkum dari perhitungan astronomi menunjukkan fase penumbra dimulai sekitar 08.23 WIB, fase sebagian sekitar 09.33 WIB, dan puncak sekitar 11.14 WIB, sebelum fase sebagian berakhir sekitar 12.52 WIB. Namun, waktu tersebut bukan berarti masyarakat Indonesia dapat menyaksikan Bulan berubah di langit. Pada saat peristiwa berlangsung, Bulan berada di bawah horizon sehingga seluruh rangkaian tidak tampak dari Nusantara.

  5. 5. Indonesia benar-benar tidak kebagian tontonan ini

    ilustrasi gerhana bulan parsial yang ditutupi awan
    ilustrasi gerhana bulan parsial yang ditutupi awan (pexels.com/Hebert Santos)

    Ini mungkin menjadi fakta paling mengecewakan bagi pengamat langit di Indonesia. NASA mencantumkan wilayah visibilitas gerhana ini meliputi Pasifik timur, Amerika, Eropa, dan Afrika, tanpa Indonesia. Secara sederhana, gerhana Bulan hanya bisa dilihat dari wilayah Bumi yang sedang mengalami malam, dan pada saat yang sama Bulan berada di atas horizon. NASA menjelaskan bahwa sebuah gerhana Bulan secara umum dapat terlihat dari sekitar setengah permukaan Bumi, tetapi tidak berarti seluruh wilayah malam otomatis bisa melihat setiap fasenya.

    Untuk Indonesia, masalah utamanya adalah waktu terjadinya fenomena. Puncak gerhana berlangsung sekitar pukul 11.14 WIB, ketika Indonesia sedang siang. Bahkan fase-fase gerhana yang lebih awal maupun lebih akhir tetap tidak menghasilkan kesempatan pengamatan dari Indonesia karena posisi Bulan terhadap horizon. Perhitungan untuk sejumlah lokasi di Indonesia menunjukkan Bulan berada di bawah horizon sepanjang peristiwa.

    Dengan demikian, jangan sampai ada informasi di media sosial yang mengajak masyarakat Indonesia keluar rumah pada malam 28 Agustus untuk menyaksikan gerhana ini secara langsung. Fenomenanya memang nyata, tetapi lokasi geografis dan waktu lokal membuat Indonesia berada di luar wilayah pengamatan. Jika ingin mengikuti perkembangannya, pilihan yang lebih realistis adalah menyaksikan dokumentasi atau siaran dari wilayah yang mengalami gerhana.

  6. 6. Gerhana bulan lebih aman diamati daripada gerhana matahari

    ilustrasi gerhana bulan parsial yang lebih aman diamati
    ilustrasi gerhana bulan parsial yang lebih aman diamati (pexels.com/Priscilla)

    Ada kabar baik bagi siapa pun yang berada di wilayah visibilitas. Gerhana Bulan aman diamati langsung dengan mata telanjang. Tidak seperti Gerhana Matahari, ketika menatap Matahari secara langsung dapat merusak mata, cahaya Bulan selama gerhana tidak memiliki intensitas yang membahayakan penglihatan. NASA secara eksplisit menyebut pengamatan gerhana Bulan aman dilakukan tanpa perlengkapan pelindung mata khusus.

    Untuk memperoleh detail yang lebih menarik, pengamat dapat menggunakan binokular atau teleskop kecil. Perangkat tersebut dapat membantu memperlihatkan batas umbra Bumi yang perlahan bergerak melintasi permukaan Bulan. Bahkan tanpa teleskop, perubahan bentuk bayangan dapat menjadi sangat jelas ketika gerhana memasuki fase parsial yang dalam seperti pada Agustus 2026.

    Namun, keamanan pengamatan tersebut bukan alasan untuk mengabaikan kondisi lingkungan. Pengamat tetap perlu memilih tempat dengan pandangan langit terbuka dan cuaca yang mendukung. Bagi masyarakat Indonesia sendiri, persoalannya bukan kebutuhan teleskop atau cuaca, melainkan fakta sederhana bahwa Bulan memang tidak berada di atas horizon ketika gerhana berlangsung. Jadi, perlengkapan pengamatan secanggih apa pun tidak akan membuat fenomena ini terlihat dari Indonesia.

  7. 7. Ini menjadi gerhana bulan terakhir pada 2026

    ilustrasi gerhana bulan parsial yang teramati di Asia
    ilustrasi gerhana bulan parsial yang teramati di Asia (pexels.com/Santhosh Adiga)

    Gerhana Agustus juga memiliki posisi penting dalam kalender astronomi karena merupakan gerhana bulan terakhir yang terjadi pada 2026. NASA mencatat dua gerhana bulan pada tahun tersebut; gerhana bulan total pada 3 Maret 2026 dan gerhana bulan parsial pada 28 Agustus 2026. Dengan demikian, fenomena Agustus menjadi penutup rangkaian gerhana bulan tahun ini.

    Sayangnya, penutup tersebut kembali tidak bisa disaksikan dari Indonesia. Bahkan daftar visibilitas gerhana untuk Indonesia menunjukkan bahwa setelah peristiwa Agustus 2026, gerhana yang berikutnya dapat diamati dari Indonesia adalah Gerhana bulan penumbra pada 21 Februari 2027. Artinya, pengamat langit Indonesia harus menunggu hingga 2027 untuk mendapatkan kesempatan menyaksikan gerhana bulan dari wilayah Nusantara.

    Menariknya, gerhana bulan berikutnya yang terlihat dari Indonesia justru merupakan gerhana penumbra. Fenomena seperti ini jauh lebih samar, karena Bulan hanya melewati penumbra, bagian luar bayangan Bumi. Karena itu, meski kalender astronomi tetap mencatatnya sebagai gerhana, perubahan visualnya tidak akan sedramatis gerhana bulan parsial di akhir Agustus 2026 ini—terutama bagi beberapa wilayah yang berkesempatan menyaksikan.

    Gerhana bulan parsial 27—28 Agustus 2026 menjadi salah satu fenomena langit paling menarik untuk menutup musim astronomi Agustus. Statusnya memang “sebagian”, tetapi kedalamannya membuat fenomena ini terasa nyaris seperti gerhana total; sekitar 93 persen diameter Bulan masuk ke umbra Bumi ketika mencapai maksimum. Bagian Bulan yang berada dalam bayangan juga berpotensi berubah menjadi merah karat atau tembaga akibat cahaya Matahari yang telah melewati atmosfer Bumi. Dengan durasi fase parsial sekitar 3 jam 18 menit, pertunjukan langit ini bukan fenomena sesaat, melainkan perjalanan panjang Bulan menembus bayangan planet tempat kita tinggal.

    Sayangnya, untuk pembaca di Indonesia, cerita ini memiliki akhir yang sedikit pahit. Gerhana tersebut berlangsung ketika Bulan berada di bawah horizon Indonesia, sehingga tidak dapat diamati secara langsung dari Nusantara. Namun, justru di situlah sisi menarik astronominya: fenomena langit tidak pernah menjadi tontonan yang seragam bagi seluruh manusia di Bumi. Satu sisi planet mungkin sedang menyaksikan Bulan berubah gelap kemerahan, sementara sisi lainnya bahkan belum dapat melihat Bulan. Jadi, jika langit Indonesia pada 28 Agustus tampak biasa saja, bukan berarti tidak ada sesuatu yang sedang berlangsung di atas sana—kita hanya berada di sisi Bumi yang tak tepat untuk menyaksikannya.

    Referensi

    Anthony Wood. (2026). “Partial lunar eclipse August 2026: Where will it be visible from?”. Article of Space.com.

    Marcy Curran. (2026). “Deep partial lunar eclipse on August 27-28, 2026”. Article of EarthSky.

    NASA Eclipse Web Site. (2026). “NASA Eclipse Data – Lunar Eclipses”.

    NASA Eclipse Web Site. (2026). “NASA Eclipse Data – Eclipses During 2026”.

    NASA Science. (2026). “The Moon & Eclipses”. Article Listicle.

    Raquel Villanueva. (2026). “What’s Up: August 2026 Skywatching Tips from NASA”. Article of NASA Science.

    TheSkyLive. “Partial Lunar Eclipse of August 28, 2026 from Indonesia (Jakarta)”. Article Listicle.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More