Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Godzilla El Niño di Indonesia Buat Kemarau Lebih Panjang dan Kering

Godzilla El Niño di Indonesia Buat Kemarau Lebih Panjang dan Kering
ilustrasi musim kemarau (pexels.com/Pixabay)
Intinya Sih
  • BRIN memprediksi fenomena El Niño terkuat atau 'Godzilla' akan terjadi mulai April 2026, diperkuat oleh Indian Ocean Dipole (IOD) positif yang memperpanjang dan mengeringkan musim kemarau di Indonesia.
  • Kombinasi El Niño dan IOD positif membuat curah hujan berkurang di Jawa hingga Nusa Tenggara Timur, sementara Sulawesi, Halmahera, dan Maluku justru mengalami hujan tinggi saat kemarau.
  • Pemerintah diminta mewaspadai ancaman kekeringan terhadap produksi pangan di Pantura Jawa, risiko karhutla di Sumatra-Kalimantan, serta potensi banjir di wilayah timur laut Indonesia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Badan Riset dan Inovasi Nasional menyatakan bahwa fenomena El Niño paling kuat yang disebut 'Godzilla' dapat menyebabkan musim kemarau di Indonesia menjadi lebih panjang dan kering.

Beberapa model global memprediksi El Niño mulai terjadi sejak April 2026, yang akan diperkuat dengan fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif.

Bagaimana dampaknya?

Pembentukan awan dan hujan akan lebih banyak terkonsentrasi di atas Samudra Pasifik. Sebaliknya, wilayah Indonesia akan mengalami minim awan dan hujan.

Sementara itu, fenomena IOD positif di Samudra Hindia ditandai dengan pendinginan suhu permukaan laut di dekat Sumatera dan Jawa. Kondisi ini menyebabkan wilayah Indonesia mengalami penurunan curah hujan yang signifikan.

Kapan berlangsung?

Ilustrasi musim kemarau. https://images.app.goo.gl/6k4X6pF8YhAEoJDT9
Ilustrasi musim kemarau. https://images.app.goo.gl/6k4X6pF8YhAEoJDT9

Kedua fenomena tersebut diprediksi terjadi bersamaan selama periode musim kemarau di Indonesia, yaitu sejak April hingga Oktober 2026.

Untuk periode April–Juli 2026, data model prediksi musim menunjukkan bahwa:

  • Kemarau yang bersifat kering terjadi di sebagian besar Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara Timur.
  • Sebaliknya, wilayah Sulawesi dan Maluku, termasuk Halmahera, masih akan mengalami curah hujan yang tinggi.

Hal yang perlu dipersiapkan

Dampak super El Niño dan IOD positif tidak seragam di seluruh Indonesia. Kondisi ini pernah terjadi pada 2023.

Beberapa dampak yang perlu diantisipasi, berupa:

  • Kekeringan di wilayah selatan Indonesia, yang dapat mengancam produksi pangan, terutama di Pantai Utara Jawa.
  • Banjir di wilayah timur laut Indonesia (Sulawesi, Halmahera, Maluku) akibat curah hujan tinggi saat kemarau.
  • Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sebagian wilayah Sumatera dan Kalimantan.
  • Peluang optimalisasi produksi garam untuk mendukung swasembada garam pada 2026–2027, terutama di wilayah selatan Indonesia

"Oleh karena itu, pemerintah perlu mewaspadai dampak kekeringan yang dapat mengancam lumbung pangan nasional, khususnya di wilayah Pantura Jawa. Selain itu, dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan dan Sumatra juga harus dimitigasi," ujar Erma Yulihastin, Periset Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN.

Pemerintah juga sebaiknya menyiapkan strategi untuk menangani kelebihan curah hujan di wilayah Sulawesi, Halmahera, dan Maluku, serta dampaknya terhadap banjir dan longsor.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Achmad Fatkhur Rozi
EditorAchmad Fatkhur Rozi
Follow Us

Latest in Science

See More