Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Katniss Everdeen dalam film The Hunger Games: Mockingjay Part 2. (instagram.com/thehungergames)
  • The Hunger Games kembali dibahas karena tema perlawanan terhadap ketimpangan dan kekuasaan, sekaligus menampilkan teknologi futuristik serta hewan rekayasa genetika sebagai ancaman di arena.
  • Tracker Jackers digambarkan sebagai tawon bersenjata racun saraf; riset nyata menunjukkan racun tawon dapat mengganggu sel saraf, sementara gene drive CRISPR masih diteliti untuk pengendalian populasi.
  • Jabberjays, Mockingjays, dan berbagai Mutt berangkat dari kemampuan burung meniru suara serta penyuntingan gen hewan, tetapi teknologi saat ini belum mampu menciptakan makhluk kompleks seperti di film.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Belakangan ini, The Hunger Games kembali ramai diperbincangkan di Indonesia. Salah satu pemicunya adalah cerita perlawanan rakyat Panem terhadap rezim Presiden Snow yang dinilai memiliki kemiripan dengan situasi dan perjuangan masyarakat Indonesia saat ini. Kisah tentang ketimpangan, kekuasaan, dan keberanian melawan penindasan pun membuat film ini terasa relevan bagi sebagian penonton.

Sebenarnya, daya tarik The Hunger Games bukan hanya terletak pada cerita politiknya. Waralaba karya Suzanne Collins ini juga menghadirkan berbagai teknologi futuristik dan makhluk aneh yang sengaja diciptakan untuk mengancam para peserta pertandingan. Beberapa di antaranya bahkan digambarkan sebagai hewan hasil rekayasa genetika. Konsep tersebut mungkin terdengar seperti fiksi ilmiah, tetapi ternyata memiliki kaitan dengan perkembangan bioteknologi di dunia nyata.

Lalu, hewan rekayasa genetika apa saja yang muncul dalam The Hunger Games dan sejauh mana sains bisa mewujudkan makhluk seperti itu? Yuk, simak penjelasannya di bawah ini!

1. Tracker Jackers, tawon rekayasa genetika dengan racun mematikan

ilustrasi Tracker Jackers (pexels.com/Skyler Ewing)

Tracker Jackers adalah hewan hasil rekayasa genetika yang muncul dalam film pertama, The Hunger Games (2012). Serangga ini dikembangkan oleh Capitol sebagai senjata biologis dengan racun yang dapat memengaruhi sistem saraf korbannya. Dalam dunia nyata, tawon memang memiliki racun yang mengandung senyawa untuk mengganggu kerja sistem saraf.

Menurut penelitian yang terbit dalam jurnal Toxins pada 2016, racun beberapa jenis tawon mengandung peptida atau molekul kecil yang dapat memengaruhi aktivitas sel saraf. Senyawa tersebut bisa mengganggu saluran ion yang berperan dalam mengirimkan sinyal antarsel saraf. Akibatnya, racun tawon tertentu dapat menyebabkan rasa sakit hingga kelumpuhan pada mangsanya.

Menariknya, kemampuan serangga juga mulai diteliti melalui teknologi rekayasa genetika. Penelitian yang terbit dalam Scientific Reports pada 2020, misalnya, mengeksplorasi penggunaan teknologi CRISPR gene drive untuk mengendalikan populasi tawon invasif. Meski begitu, teknologi ini masih dalam tahap penelitian dan belum bisa menciptakan tawon dengan racun khusus seperti Tracker Jackers.

2. Jabberjays dan Mockingjays, burung yang bisa meniru suara manusia

ilustrasi Mockingjay (instagram.com/thehungergames)

Kalau kamu nonton The Hunger Games sampai film kedua, Catching Fire (2013), kamu pasti mengenal Jabberjays dan Mockingjays. Keduanya merupakan burung hasil rekayasa genetika yang memiliki kemampuan meniru suara dalam cerita tersebut. Konsep ini ternyata punya kaitan dengan kemampuan alami sejumlah burung di dunia nyata.

Menurut studi yang terbit dalam jurnal Evolution Letters pada 2018, terdapat 339 spesies burung dari 43 famili yang diketahui memiliki kemampuan meniru suara. Kemampuan ini dikenal sebagai vocal mimicry, yaitu perilaku menirukan suara dari spesies lain atau lingkungan sekitarnya. Salah satu contohnya adalah mockingbird yang mampu meniru kicauan burung lain, bahkan suara-suara yang didengarnya di sekitar habitatnya.

Penelitian lain yang terbit dalam jurnal Annual Review of Linguistics pada 2021 menjelaskan bahwa burung tertentu juga memiliki kemampuan vocal learning, yakni mempelajari suara melalui proses mendengar dan menirukannya. Meski begitu, kemampuan tersebut tidak berarti burung memahami bahasa manusia seperti kita memahami percakapan. Jadi, Jabberjays dan Mockingjays memang fiksi, tetapi kemampuan meniru suara yang menjadi ciri khas keduanya benar-benar ditemukan pada burung di dunia nyata.

3. Mutt, gambaran eksperimen genetika yang melampaui batas

ilustrasi Lizard Mutt dalam film The Hunger Games. (instagram.com/thehungergames)

Katniss Everdeen dan kawan-kawannya beberapa kali harus menghadapi serangan Mutt dalam arena Hunger Games. Salah satu yang paling mengerikan adalah Lizard Mutts, makhluk menyerupai perpaduan manusia dan reptil yang muncul dalam film keempat, The Hunger Games: Mockingjay – Part 2 (2015). Di dunia nyata, manusia memang sudah memiliki teknologi untuk mengubah materi genetik hewan, salah satunya melalui CRISPR-Cas

Berdasarkan penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Animal Reproduction pada 2024, teknologi tersebut telah digunakan dalam berbagai penelitian genetika pada hewan, termasuk sapi, babi, dan anjing. Perubahan genetik tersebut diteliti untuk menghasilkan karakteristik tertentu maupun mendukung kebutuhan medis. Meski begitu, kemampuan mengubah bagian DNA tertentu belum berarti manusia bisa menciptakan makhluk kompleks seperti Lizard Mutts dalam film.

Selain Lizard Mutts, ada juga Wolf Mutts dan Monkey Mutts yang menyerang para peserta dalam pertandingan Hunger Games. Kendati demikian, berbagai makhluk mengerikan tersebut masih menjadi bagian dari fiksi ilmiah karena teknologi rekayasa genetika belum mampu menciptakan hewan seperti dalam film. Menurutmu, hewan rekayasa genetika mana yang paling menyeramkan dalam The Hunger Games?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article