Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Jadwal Puncak Musim Kemarau di Indonesia Menurut BMKG
Ilustrasi kemarau (commons.wikimedia.org/Houssain tork)
  • BMKG memprediksi puncak musim kemarau 2026 terjadi pada Juli–September, mencakup sebagian besar wilayah Indonesia dan perlu diantisipasi untuk menjaga ketersediaan air serta kesehatan masyarakat.
  • Sebaran puncak kemarau dimulai Juli di 83 ZOM, meningkat Agustus di 369 ZOM, lalu menurun September di 169 ZOM dengan cakupan luas daratan berbeda tiap bulan.
  • BMKG memperkirakan musim kemarau 2026 lebih kering dan panjang dari normal akibat pengaruh El Nino yang berpotensi bertahan hingga awal 2027 dengan intensitas moderat hingga kuat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim kemarau di Indonesia terjadi pada Juli–September 2026. Kondisi ini harus mulai diantisipasi seluruh lapisan masyarakat untuk memastikan ketersediaan air, kondisi kesehatan, serta kebutuhan multisektor yang terdampak dapat terkendali.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, memaparkan, puncak kemarau pada Juli mencakup 83 Zona Musim (ZOM) atau 12,26 persen luas daratan Indonesia. Sedangkan lokasinya terjadi di 369 ZOM (48,84 persen luas daratan) pada Agustus dan 169 ZOM (25,41 persen luas daratan) pada September.

Pembagian periode dan wilayah

Wilayah yang diprediksi mengalami puncak kemarau pada Juli 2026 meliputi:

  • Sebagian Sumatra.

  • Sebagian kecil Kalimantan dan Jawa.

  • Nusa Tenggara Timur bagian selatan.

  • Sulawesi Barat bagian utara.

  • Sulawesi Tengah bagian barat.

  • Sebagian kecil Maluku.

  • Papua Barat Daya bagian selatan.

  • Papua Barat bagian Tengah.

  • Papua bagian timur.

Lalu pada bulan Agustus 2026, puncak musim kemarau terjadi:

  • Sumatra bagian tengah.

  • Sebagian besar Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat.

  • Sebagian Nusa Tenggara Timur.

  • Sebagian besar Kalimantan.

  • Sebagian Sulawesi.

  • Sebagian Maluku dan Maluku Utara.

  • Sebagian besar Pulau Papua.

Sebanyak 169 ZOM (25,41 persen luas daratan) memasuki puncak kemarau pada September 2026, meliputi;

  • Kepulauan Bangka Belitung.

  • Sebagian besar Sumatra Selatan dan Lampung.

  • Sebagian kecil Jawa.

  • Sebagian besar Nusa Tenggara Timur.

  • Kalimantan bagian selatan.

  • Sebagian besar Sulawesi.

  • Sebagian besar Maluku Utara.

  • Sebagian Maluku.

  • Papua Pegunungan bagian tengah.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menambahkan, berdasarkan pemantauan BMKG hingga akhir Mei 2026, sebanyak 200 ZOM (11,83 persen luas daratan) sudah memasuki musim kemarau. Wilayah yang telah mengalami kemarau di antaranya:

  • Sebagian Sumatra.

  • Sebagian Jawa.

  • Sebagian besar Nusa Tenggara.

  • Kalimantan Tengah bagian timur.

  • Sebagian Sulawesi.

  • Sebagian Maluku.

  • Sebagian Papua.

Lebih lanjut, 198 ZOM (31,60 persen luas daratan) diprediksi memasuki kemarau pada Juni, di antaranya:

  • Sebagian besar Sumatra.

  • Kalimantan Barat.

  • Sebagian besar Banten.

  • DKI Jakarta bagian selatan.

  • Jawa Tengah bagian tengah dan barat.

  • Sebagian kecil Jawa Timur.

  • Kalimantan Barat bagian selatan.

  • Sebagian besar Kalimantan Tengah.

  • Kalimantan Selatan bagian tengah.

  • Sebagian besar Kalimantan Timur.

  • Sebagian Sulawesi.

  • Sebagian Maluku.

  • Sebagian Papua Barat.

  • Papua bagian timur.

Sebanyak 66 ZOM yang mencakup 7,28 persen wilayah Indonesia akan memasuki kemarau mulai Juli, yakni:

  • Jambi bagian barat.

  • Sebagian Kalimantan Timur.

  • Kalimantan Selatan bagian timur.

  • Sebagian besar Sulawesi.

  • Maluku Utara.

  • Sebagian Maluku.

Tahun ini lebih kering

ilustrasi kemarau (pexels.com/Emma Eikenaar)

Ardhasena mengungkapkan, musim kemarau di Indonesia pada tahun 2026 ini diprediksi lebih kering dan lebih panjang dibanding rata-rata normalnya. Kondisi ini memerlukan penyesuaian ekstra mengingat adanya peluang El Nino.

“BMKG memprediksi fenomena El Nino akan terus bertahan hingga awal tahun 2027 dengan peluang intensitas mencapai kategori moderat sebesar 98 persen dan kategori kuat sebesar 62 persen. Namun demikian dampaknya untuk wilayah Indonesia ketika bertemu periode musim kemarau hingga pertengahan bulan Oktober,” Ardhasen mengatakan.

Editorial Team

Related Article