Wilayah yang diprediksi mengalami puncak kemarau pada Juli 2026 meliputi:
Sebagian Sumatra.
Sebagian kecil Kalimantan dan Jawa.
Nusa Tenggara Timur bagian selatan.
Sulawesi Barat bagian utara.
Sulawesi Tengah bagian barat.
Sebagian kecil Maluku.
Papua Barat Daya bagian selatan.
Papua Barat bagian Tengah.
Papua bagian timur.
Lalu pada bulan Agustus 2026, puncak musim kemarau terjadi:
Sumatra bagian tengah.
Sebagian besar Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat.
Sebagian Nusa Tenggara Timur.
Sebagian besar Kalimantan.
Sebagian Sulawesi.
Sebagian Maluku dan Maluku Utara.
Sebagian besar Pulau Papua.
Sebanyak 169 ZOM (25,41 persen luas daratan) memasuki puncak kemarau pada September 2026, meliputi;
Kepulauan Bangka Belitung.
Sebagian besar Sumatra Selatan dan Lampung.
Sebagian kecil Jawa.
Sebagian besar Nusa Tenggara Timur.
Kalimantan bagian selatan.
Sebagian besar Sulawesi.
Sebagian besar Maluku Utara.
Sebagian Maluku.
Papua Pegunungan bagian tengah.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menambahkan, berdasarkan pemantauan BMKG hingga akhir Mei 2026, sebanyak 200 ZOM (11,83 persen luas daratan) sudah memasuki musim kemarau. Wilayah yang telah mengalami kemarau di antaranya:
Lebih lanjut, 198 ZOM (31,60 persen luas daratan) diprediksi memasuki kemarau pada Juni, di antaranya:
Sebagian besar Sumatra.
Kalimantan Barat.
Sebagian besar Banten.
DKI Jakarta bagian selatan.
Jawa Tengah bagian tengah dan barat.
Sebagian kecil Jawa Timur.
Kalimantan Barat bagian selatan.
Sebagian besar Kalimantan Tengah.
Kalimantan Selatan bagian tengah.
Sebagian besar Kalimantan Timur.
Sebagian Sulawesi.
Sebagian Maluku.
Sebagian Papua Barat.
Papua bagian timur.
Sebanyak 66 ZOM yang mencakup 7,28 persen wilayah Indonesia akan memasuki kemarau mulai Juli, yakni: