Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

12 Kasus Pencurian Perhiasan Paling Nekat, Ada di Museum Louvre

12 Kasus Pencurian Perhiasan Paling Nekat, Ada di Museum Louvre
Kalung dan anting-anting milik permaisuri Marie-Louise von Österreich di Galeri Apollo di Museum Louvre (Paris, Prancis). Kalung dan anting ini hilang karena dicuri pada 2025. (commons.wikimedia.org/Tangopaso)
Intinya Sih
  • Sepanjang sejarah, pencurian perhiasan kerap terjadi dari zaman Mesir Kuno hingga era modern, menunjukkan daya tarik manusia terhadap kemewahan dan nilai tinggi permata.
  • Kelompok kriminal seperti Pink Panthers dikenal karena aksi pencurian terorganisir bernilai ratusan juta dolar, dengan operasi cepat dan strategi yang sangat matang di berbagai negara.
  • Pada 19 Oktober 2025, Museum Louvre digemparkan pencurian sembilan perhiasan bersejarah senilai Rp1,7 triliun, memicu perdebatan soal keamanan museum dan tanggung jawab pengelolaannya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Sepanjang sejarah yang diketahui, manusia memang terpesona dengan permata dan perhiasan. Segelintir kalangan elite masyarakat bahkan mengoleksi sebanyak mungkin benda berkilauan tersebut. Dikutip New Scientist, misalnya saja makam Raja Tutankhamun yang penuh dengan emas dan permata. Firaun Mesir kuno ini meninggal dunia dengan kekayaan yang sangat berlimpah.

Selama itu pula, ada pencuri yang merencanakan berbagai cara untuk mengambil benda-benda berharga ini. Lihat saja banyaknya bangsawan Mesir Kuno yang makamnya dijarah (makam Tutankhamun sendiri juga pernah dirampok). Dalam beberapa abad berikutnya, pencurian permata menjadi hal yang biasa. Bahkan beberapa kasusnya dilakukan sangat nekat. Mirip seperti di film-film Hollywood.

Beberapa pencurian permata modern dilakukan oleh Pink Panthers, sekelompok gangster pencuri permata yang dinamai berdasarkan serial film abad ke-20 yang melakukan pencurian berlian. Pink Panthers di kehidupan nyata adalah kelompok internasional yang terorganisir dan sudah beroperasi selama hampir dua dekade. Mereka mengumpulkan sekitar 500 juta dolar AS barang curian.

Pink Panthers punya perencanaan yang luar biasa dan pencurian yang dilakukan selesai dalam hitungan menit saja, lho. Meskipun beberapa anggota utamanya sudah ditangkap dan dipenjara, tapi tak menutup kemungkinan bahwa Pink Panthers lain mungkin masih berkeliaran dan berada di balik beberapa pencurian perhiasan yang paling nekat saat ini. Nah, salah satunya yang belum lama terjadi, tepatnya pada 19 Oktober 2025 di Museum Louvre. Pasalnya, sekelompok pencuri dengan nekat membawa kabur sembilan perhiasan bersejarah abad ke-19, yang jika dinilai sekitar 88 juta euro atau setara dengan Rp1,7 triliun. Penasaran, kan? Mari kita bahas!

1. Upaya pencurian Permata Mahkota Inggris yang berakhir dengan baik bagi si pencuri

potret Thomas Blood
potret Thomas Blood (commons.wikimedia.org/G. Scott)

Seperti yang dilansir Historic UK, Kolonel Thomas Blood adalah tokoh Irlandia terkemuka yang mendukung Parlemen Oliver Cromwell selama Perang Saudara Inggris pada abad ke-17. Kurang dari satu dekade setelah berakhirnya konflik, monarki kembali berkuasa. Raja Charles II—yang ayahnya adalah Raja Charles I dari Inggris, dipenggal atas perintah Parlemen pada tahun 1649—duduk di atas takhta. Tak mengherankan, Thomas Blood harus kehilangan tanah miliknya di Irlandia pada tahun 1660.

Tiga tahun kemudian, Thomas Blood mencoba merebut Kastil Dublin tetapi gagal. Pada tahun 1671, Blood kemudian mencuri Permata Mahkota yang baru (banyak permata lama telah dihancurkan oleh pendukung Cromwell). Saat ini, wisatawan masih dapat melihat Permata Mahkota ini di Menara London, tetapi perlengkapan penobatan yang berkilauan itu dijaga ketat dan dilindungi oleh sistem keamanan canggih. Sayangnya, pengamanan ketat ini tidak ada pada tahun 1671, ketika Permata Mahkota ini bisa dilihat bahkan dipegang pengunjung hanya dengan membayarnya.

Hal itu memudahkan geng Thomas Blood untuk masuk begitu saja. Blood sendiri menyamar sebagai pendeta, dan diam-diam membawa lari Permata Mahkota itu. Namun setelah berhasil ditangkap, Blood sempat bertemu dengan Raja Charles II saat dipenjara. Nah, dari pertemuan ini, Raja Charles II terkesan dengan Blood. Raja pun memberinya tanah baru di Irlandia, uang pensiun, dan menjadikannya anggota istana. Siapa sangka, Blood justru menjadi seorang selebriti.

2. Pencurian di Museum Sejarah Alam Amerika pada 1964

Star of India
Star of India (commons.wikimedia.org/Vicpeters)

Menurut laman American Museum of Natural History, pada tahun 1964, Allan Dale Kuhn dan Jack Roland Murphy (lebih dikenal sebagai "Murph the Surf" karena kecintaannya pada olahraga selancar) memanjat masuk ke Aula Permata dan Mineral J.P. Morgan di Museum Sejarah Alam Amerika (AMNH). Mereka memotong etalase kaca dan mencuri 24 permata, termasuk Bintang India (Star of India), safir terbesar di dunia. Jendela eksterior biasanya dibiarkan terbuka dan tidak punya alarm. Nah, meskipun etalase tersebut punya sistem keamanannya sendiri, tapi baterainya sudah lama habis. Murphy dan Kuhn pun dengan mudah meninggalkan museum dan berlari ke hotel setelah mencuri perhiasan tersebut, tanpa memberi tahu kaki tangan mereka, Roger Clark.

Allan Dale Kuhn dan Jack Roland Murphy memang dikenal sebagai pencuri permata profesional. Sebelum perampokan di AMNH, mereka mencuri cincin zamrud yang ternyata palsu. Jadi mereka pergi ke Kota New York untuk mencari spesimen yang asli. Saat mengunjungi museum, mereka malah mengincar koleksi perhiasan yang kurang aman, yang berujung pada pencurian senilai 3 juta dolar AS atau setara dengan Rp50,4 miliar.

Polisi berhasil memasuki kamar hotel mereka dan menemukan peta AMNH, buku-buku tentang perhiasan, dan Roger Clark. Roger Clark pun mengaku dan memberi tahu penyelidik bahwa Murphy dan Kuhn sudah kembali ke Florida. Meskipun begitu, mereka semua akhirnya dipenjara. Murph the Surf sendiri harus menjalani hukuman di Pulau Rikers.

3. Pencurian berlian, uang tunai, dan emas batangan di Brink's-Mat

ilustrasi pencuri
ilustrasi pencuri (pixabay.com/Mohamed Hassan)

Sebagaimana yang dijelaskan History Hit, pada November 1983, enam laki-laki membobol tempat penyimpanan Brink's-Mat, sebuah perusahaan keamanan, di Bandara Heathrow di London dan melumpuhkan sistem keamanannya. Para pencuri mengacungkan senjata sambil mengikat dua petugas keamanan dan mengancam akan membakar mereka. Pada akhirnya, para pencuri berhasil membawa hampir 7.000 batangan emas beserta uang tunai dan berlian senilai 26 juta euro pada tahun 1983 (sekitar 146 juta dolar AS pada saat ini atau sekitar Rp2,4 triliun).

Sebagian emasnya bernilai sekitar 13 juta euro atau setara dengan Rp259 miliar dan dilebur di rumah yang dihuni oleh John Palmer. Hanya dua hari setelah pencurian, tetangga sekitar curiga dan melaporkan John Palmer ke kantor polisi. Namun, petugas polisi tidak memeriksanya selama lebih dari setahun.

John Palmer sendiri dibebaskan dari tuduhan otak di balik pencurian tersebut pada tahun 1987. Palmer pun pindah ke luar negeri untuk mengelola bisnis timeshare. Rupanya, ia juga terlibat dalam perdagangan zat terlarang.

Namun, John Palmer ditemukan tewas akibat luka tembak pada tahun 2015, kemungkinan ia dibunuh. Orang lain yang terlibat dalam pencurian di Brink's-Mat juga tewas dengan cara yang serupa. Diduga, kematian mereka berdua berkaitan dengan aktivitas kriminal yang mereka lakukan, dan tidak ada hubungannya dengan rumor emas terkutuk (yang bahkan tidak pernah sepenuhnya ditemukan).

4. Dua kasus pencurian perhiasan di Hotel Cannes

Hotel Cannes, Prancis
Hotel Cannes, Prancis (commons.wikimedia.org/Christophe.Finot)

Hotel Carlton di Cannes, Prancis, mengalami perampokan pada tahun 1994 dan 2013. Pencurian pertama mirip seperti adegan film, ketika tiga penyusup bertopeng memasuki hotel sambil menembakkan senapan mesin. Tiga pencuri ini menuju ke toko perhiasan hotel dan membawa kabur permata senilai 77 juta dolar AS atau setara dengan Rp1,3 triliun.

Pada Juli 2013, sekelompok pencuri lain memasuki hotel mewah Carlton. Kali ini karena lobi hotel menjadi tempat pameran perhiasan. Pajangan dan ruang penyimpanan yang terbengkalai menjadi sasaran pencuri.

Dikutip The Los Angeles Times, para pencuri ini mengambil permata dan perhiasan senilai 136 juta dolar AS atau setara dengan Rp2,2 triliun. Beberapa orang berspekulasi bahwa pencuri itu sebenarnya adalah bagian dari jaringan pencuri perhiasan Pink Panthers. Tapi ada yang menduga kalau pencuri itu beroperasi sendirian. Namun, tanpa adanya petunjuk, tanpa adanya yang ditangkap, dan tanpa perhiasan yang ditemukan, hanya sedikit yang diketahui tentang kasus ini.

5. Pencurian di Graff Diamonds yang direncanakan secara matang

toko perhiasan Graff
toko perhiasan Graff (commons.wikimedia.org/GKOACOIT menuso)

Seperti yang dilaporkan The Guardian, pada Agustus 2009, dua laki-laki masuk ke toko perhiasan Graff Diamonds di London. Nah, dengan memakai setelan jas, mereka justru mengeluarkan senjata api dan memaksa staf untuk membuka etalase serta memberikan perhiasan mahal di dalamnya. Perhiasan tersebut diperkirakan bernilai 32 juta dolar AS atau setara dengan Rp538 miliar.

Seorang asisten toko disandera sementara, agar para pencuri ini bisa pergi ke mobil yang sedang menunggu mereka di luar. Pada saat itu, seorang pejalan kaki mencoba menghalangi mereka, tetapi disambut dengan tembakan peringatan. Untungnya, tidak ada yang terluka. Mobil pencuri itu pun melaju kencang dan menabrak taksi. Seperti di film, para perampok keluar dari mobil, menyerahkan tas berisi perhiasan kepada pengendara motor yang sedang menunggu, dan masuk ke mobil lain lalu melaju kencang.

Namun, pelarian itu tidak berhasil, karena pihak berwenang berhasil melacak para pelaku, yang merupakan Aman Kassaye dan Craig Calderwood. Tujuh laki-laki lainnya diadili bersama mereka. Adapun, jaksa penuntut menuduh mereka semua sebagai bagian dari geng yang berkonspirasi untuk merampok toko tersebut.

Tak hanya itu, kelompok pencuri tersebut menyewa seorang penata rias untuk mengubah penampilan mereka. Di samping itu, Aman Kassaye akhirnya dijatuhi hukuman 23 tahun, Craig Calderwood dihukum 21 tahun, dan tiga orang lainnya dijatuhi hukuman penjara 16 tahun. Perhiasan itu sendiri tidak pernah ditemukan dan kemungkinan besar telah dipecah untuk dijual di pasar gelap.

6. Pencurian di Millennium Dome yang berhasil digagalkan

Millennium Dome di London
Millennium Dome di London (commons.wikimedia.org/CGP Grey)

Pencurian di Millennium Dome dilakukan oleh delapan orang pada November 2000. Mereka mencuri berlian De Beers Millennium Star, yang nilainya lebih dari 462 juta dolar AS saat ini atau setara dengan Rp7,7 triliun, lapor CNN. Selain itu, mereka merupakan pencuri profesional, karena pernah menargetkan dua truk lapis baja. Namun, dalam pencurian itu mereka gagal.

Sayangnya, para pencuri itu lolos dari penangkapan untuk sementara waktu. Mereka pun kembali beraksi dengan menargetkan Millennium Dome dan berlian De Beers yang dipamerkan di dalamnya. Para pencuri tersebut membobol Millennium Dome di malam hari menggunakan peralatan konstruksi untuk mendobrak masuk.

Namun, para pencuri tersebut tertangkap basah di antara etalase yang hancur dan berhasil ditangkap. Tak lama kemudian, mereka mengetahui bahwa berlian di depan mereka palsu. Pasalnya, berlian itu diganti dengan replika.

7. Pencurian di Museon, Den Haag, Belanda yang tidak diketahui siapa pelakunya

Museum Sains Museon, Den Haag, Belanda
Museum Sains Museon, Den Haag, Belanda (commons.wikimedia.org/Chemical Engineer)

Seperti yang dijelaskan The Guardian, pada tahun 2002, Museon di Den Haag, Belanda menjadi rumah bagi pameran perhiasan berlian dari koleksi kerajaan dan milik pribadi. Petugas keamanan berjaga 24 jam, ditambah CCTV dan sensor gerak inframerah—yang semuanya diarahkan ke etalase terkunci yang terbuat dari kaca. Namun, staf terkejut saat melihat isi perhiasan dari enam etalase kosong, tetapi kuncinya tidak rusak.

Setalah dilakukan pemeriksaan rekaman CCTV, tidak ada yang mencurigakan sama sekali. Tidak ada sensor gerak yang terpicu, dan tidak ada penjaga yang mengaku melihat apa pun. Satu-satunya petunjuk pembobolan (selain perhiasan senilai 12 juta dolar AS yang hilang atau setara dengan Rp202 miliar) adalah jendela yang pecah.

Hingga hari ini, tidak ada yang tahu bagaimana para pencuri berhasil melakukannya. Tapi, sudah dipastikan kalau pencuri itu tahu betul tentang sistem keamanan museum. Mungkin dengan mengamati lokasi kejadian atau bahkan punya kontak dengan orang dalam. Jadi, tidak ada yang tahu jumlah pencuri yang terlibat atau ke mana permata itu di bawa pergi. Setelah beberapa tahun penyelidikan, para penyelidik yang kebingungan terpaksa menyerah.

8. Pencurian di Antwerp World Diamond Centre

pusat berlian Antwerp
pusat berlian Antwerp (commons.wikimedia.org/Thorsten1997l

Pencurian berlian tahun 2003 yang dilakukan di Antwerp, Belgia, bisa dibilang sangat nekat dan punya rencana yang tidak main-main. Pencurian berlian tersebut bernilai sekitar 100 juta dolar AS atau setara dengan Rp1,6 triliun dari Antwerp World Diamond Centre, sebagaimana yang dikutip People. Butuh waktu empat tahun bagi si pencuri untuk merencanakan pencurian itu, hingga menyewa kantor di gedung yang sama dengan Pusat Berlian tersebut. Hal ini memungkinkan para pencuri untuk mengamati lokasi tersebut secara detail.

Pada waktu yang ditentukan—ketika banyak orang lebih fokus pada pertandingan tenis Diamond Games—para pencuri melewati sistem keamanan dan mengakses brankas dengan menggunakan kunci duplikat. Mereka juga mengambil rekaman keamanan sistem tersebut dan membuatnya seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Setelah membawa pergi lebih dari 120 brankas, para pencuri melarikan diri tanpa diketahui siapa pun.

Namun, pihak berwenang menemukan berbagai macam bukti yang dibuang di pinggir jalan, termasuk kaset, tas, dan sandwich yang setengah dimakan. Hal ini pun meninggalkan bukti DNA penting. Tak hanya itu, para perampok juga meninggalkan DNA di brankas. Akhirnya, pemimpin geng tersebut, yaitu Leonardo Notarbartolo, ditangkap dan dijatuhi hukuman 10 tahun. Sayangnya, berlian-berlian itu tidak diketahui keberadaannya.

9. Pencurian di toko perhiasan di Milan dengan membuat terowongan bawah tanah

ilustrasi pencuri
ilustrasi pencuri (pixabay.com/d-keller)

Seperti yang dilaporkan ABC News, para pencuri di toko perhiasan Damiani dengan nekat menggali terowongan bawah tanah ke toko perhiasan tersebut. Kebisingannya bahkan di dengar tetangga sekitar, tetapi keluhan tetangga tersebut tidak digubris. Jadi, pada pagi hari di bulan Februari 2008, para pencuri ini menerobos masuk dari ruang bawah tanah yang mereka gali. Mereka kemudian naik tangga, dan masuk ke ruang perhiasan toko. Para pencuri ini juga memaksa karyawan masuk ke ruangan terpisah dan mengikat mereka, dan memaksa salah satu dari karyawan itu untuk membuka brankas.

Untungnya, tidak ada yang terluka secara fisik selama perampokan itu. Di sisi lain, dua penjaga bersenjata yang seharusnya berjaga di pintu masuk justru tidak ada di lokasi kejadian selama setengah jam, dan salah satunya baru menemukan kejanggalan tak lama setelah para perampok pergi. Para perampok sendiri membawa kabur perhiasan senilai 20 juta dolar AS atau setara dengan Rp336 miliar. Uniknya, beberapa perhiasan penting ini sempat dipinjamkan kepada aktor film di upacara penghargaan Oscar tahun itu. Namun, perhiasan yang dicuri tetap hilang.

10. Pencurian di toko perhiasan Harry Winston

toko perhiasan Harry Winston di Avenue Montaigne di Paris (cabang dari toko di New York)
toko perhiasan Harry Winston di Avenue Montaigne di Paris (cabang dari toko di New York) (commons.wikimedia.org/Elliott Brown)

Toko perhiasan Harry Winston di Paris, didatangi empat laki-laki, beberapa di antaranya mengenakan kacamata hitam, syal, dan wig. Para penyusup ini mengeluarkan senjata, mengacungkan granat tangan, dan mengancam karyawan serta pembeli. Para pencuri mengambil sebagian besar perhiasan di depan mereka, kemudian pindah ke penyimpanan tersembunyi di belakang. Lalu, dalam waktu 10 menit, para pencuri itu pergi dengan barang senilai lebih dari 110 juta dolar AS atau setara dengan Rp1,8 triliun.

Sayangnya, ini bukan pertama kalinya toko perhiasan itu menjadi sasaran perampokan. Setahun sebelumnya, pencuri dibiarkan masuk oleh petugas keamanan dan mencuri perhiasan senilai 37 juta dolar AS atau setara dengan Rp622 miliar, seperti yang dilansir Vanity Fair. Diketahui bahwa para pencuri ini adalah orang yang sama, yang juga melakukan pencurian untuk kedua kalinya di toko perhiasan tersebut. Delapan orang akhirnya ditangkap, tetapi ada yang berpendapat bahwa pelaku sebenarnya masih buron.

11. Pencurian di Istana Kerajaan Dresden pada tahun 2019

Istana Kerajaan Dresden
Istana Kerajaan Dresden (commons.wikimedia.org/Fred Romero)

Perhiasan di Ruang Penyimpanan Hijau di Istana Kerajaan Dresden menjadi target pencurian yang menggiurkan. Hal itu benar adanya ketika para pencuri membobol bagian museum Jerman tersebut pada tahun 2019. Tindakan ini disebut-sebut sangat nekat karena disaksikan oleh petugas keamanan yang memantau rekaman kamera CCTV di gedung tersebut.

Para petugas yang tidak bersenjata itu segera memanggil polisi. Sayangnya, saat petugas polisi tiba 10 menit kemudian, para pencuri sudah pergi. Pencurian ini rupanya hampir bersamaan dengan adanya kebakaran listrik di sebuah jembatan, yang membuat aliran listrik ke daerah tersebut harus dimatikan, sehingga lampu jalan di sekitar museum tidak menyala. Kemudian, setelah berhasil ditangkap, para pencuri mengaku bahwa merekalah yang sengaja membakar listrik tersebut untuk memutus aliran listrik agar mereka bisa melarikan diri dengan aman.

Meskipun tidak semua perhiasan berkilauan era Barok (termasuk pedang bertatahkan permata) diambil dari Ruang Penyimpanan Hijau, perhiasan yang dicuri tersebut senilai 123 juta dolar AS atau setara dengan Rp2 triliun, seperti yang diungkapkan NPR. Benda-benda berharga tersebut juga punya nilai sejarah yang sangat penting, karena terkait dengan sejarah budaya Saxony, negara bagian Jerman tempat museum tersebut berada.

Pencarian besar-besaran membuahkan hasil berupa ditemukannya kembali perhiasan yang dicuri pada tahun 2022. Beruntungnya lagi, benda-benda berharga tersebut tidak dipreteli menjadi bagian-bagian yang lebih mudah untuk dijual. Lima pencuri, yang terkait dengan geng terkenal di Berlin, ditangkap dan dijatuhi hukuman penjara atas pencurian tersebut. Empat di antaranya menerima pengurangan hukuman karena membantu menemukan kembali beberapa perhiasan.

12. Pencurian di Museum Louvre pada 2025 terjadi di siang bolong

Truk tangga yang digunakan para pencuri untuk mengakses jendela Galeri Apollo di Museum Louvre.
Truk tangga yang digunakan para pencuri untuk mengakses jendela Galeri Apollo di Museum Louvre. (commons.wikimedia.org/HaT59)

Museum Louvre menjadi lokasi yang diincar para pencuri, mulai dari pencurian Mona Lisa pada tahun 1911 hingga perampokan tahun 1998 yang melibatkan lukisan karya Jean Baptiste Camille Corot yang hingga kini masih hilang. Namun, perampokan yang terjadi pada 19 Oktober 2025 menjadi salah satu yang paling nekat. Diketahui bahwa empat pencuri memasuki museum tak lama setelah dibuka. Para pencuri ini memanjat tangga untuk masuk ke Galeri Apollo museum. Setelah masuk, mereka hanya membutuhkan tujuh menit untuk membobol dua lemari kaca berisi perhiasan mahkota Prancis, dan membawa kabur sembilan perhiasan yang memukau.

Setelah keluar dan tak sengaja menjatuhkan mahkota emas yang pernah dikenakan oleh Permaisuri Eugénie abad ke-19, para pencuri itu melaju kencang dengan sepeda motor. BBC melansir kabar bahwa perhiasan yang hilang diperkirakan bernilai 102 juta dolar AS atau setara dengan Rp1,7 triliun. Di antara perhiasan tersebut terdapat tiara bertatahkan safir yang dikenakan oleh Ratu Marie-Amélie pada abad ke-19 (yang mencakup lebih dari 1.000 berlian) dan satu set anting-anting zamrud dan berlian serta kalung yang diberikan Napoleon kepada istri keduanya, Marie-Louise.

Pada awal November, dua orang didakwa terkait kejahatan tersebut. Sementara itu, dua laki-laki lainnya mengakui bahwa mereka adalah bagian dari tim perampokan yang beranggotakan empat orang tersebut. Adapun, para pejabat dari Museum Louvre dan Paris saling menyalahkan dan berdebat tentang siapa yang seharusnya mendanai sistem keamanan museum. Namun, perhiasan bersejarah tersebut masih hilang.

Kamu mungkin mengira kalau pencurian nekat semacam itu hanya terjadi di film-film. Eits, rupanya di dunia nyata tidak kalah nekatnya, lho. Seperti yang sudah kita bahas di poin-poin sebelumnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Izza Namira
EditorIzza Namira
Follow Us

Latest in Science

See More