Ilustrasi kebakaran hutan (unsplash.com/Matt Howard)
Di banyak wilayah Kalimantan, gambut membentuk kubah gambut (peat dome), dengan ketebalan maksimum di bagian tengah dan menipis ke arah tepi. Ketebalannya dapat mencapai 8–10 meter.
Jenis tanah ini memiliki porositas tinggi dan mampu menyimpan air seperti spons. Saat kondisi basah, gambut efektif sebagai penyimpan karbon. Tetapi ketika mengering, dia menjadi sangat mudah terbakar dan sulit dipadamkan.
"Gambut alami umumnya jenuh air dan sulit terbakar. Risiko meningkat ketika muka air tanah turun akibat drainase dan periode cuaca kering berkepanjangan.Kondisi ini mengurangi kadar air gambut dan meningkatkan kerentanan terhadap kebakaran," lanjut Geologipedia.
Saat terpapar oksigen, bahan organik mengalami oksidasi eksotermik yang menghasilkan panas. Jika panas terakumulasi, gambut dapat mengalami smouldering combustion, yaitu pembakaran tanpa nyala yang berlangsung lambat namun persisten dan dapat merambat di bawah permukaan.
Smouldering combustion pada gambut berbeda dari kebakaran biasa. Ada 3 hal penting yang perlu diketahui, di antaranya:
Suhu lebih rendah (sekitar 300-600 derajat C) tapi jauh lebih persisten.
Merambat ke segala arah, termasuk ke bawah dan menyamping, mengikuti pori-pori dan retakan gambut kering yang menyalurkan oksigen.
Sulit dipadamkan karena air harus meresap cukup dalam untuk menjangkau bara di bawah permukaan.
Tiga kondisi ini menjadi tantangan petugas dalam pemadaman kebakaran hutan di lahan gambut. Karakter geologi dari gambut menjelaskan mengapa api sulit dikendalikan, tetapi gambut alami yang masih basah relatif tahan api.