Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kebakaran Hutan di Kalimantan Sulit Dipadamkan karena Dominasi Gambut
ilustrasi kebakaran hutan (pixabay.com/fish96)
  • Hingga Agustus 2026, NOAA-20 mencatat hampir 4.000 titik panas di Kalimantan; karhutla memperburuk udara, memangkas jarak pandang di bawah 1 km, dan menaikkan ISPA hingga 30 persen.
  • Dominasi gambut membuat api dapat membara di bawah tanah berhari-hari dan muncul kembali. Saat gambut mengering, pori-porinya menyalurkan oksigen sehingga bara merambat serta sulit dijangkau air.
  • Risiko kebakaran meningkat akibat pembakaran lahan, kanal drainase, dan ekspansi pertanian yang mengeringkan gambut; kemarau panjang serta El Niño turut memperparah kondisi kering.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Hingga Agustus 2026, satelit National Oceanic and Atmospheric Administration-20 (NOAA-20) mencatat hampir 4.000 titik panas (hotspot) tersebar di seluruh provinsi di Kalimantan. Peristiwa ini sebenarnya bukan menjadi hal yang baru, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi 'langganan' sejak 1990-an.

Dampak dari karhutla ini membuat kualitas udara memburuk, jarak pandang menyempit hingga di bawah 1 km dan meningkatnya kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) sampai 30 persen yang didominasi anak-anak dan lansia.

Karhutla di Kalimantan disebut berbeda

Mengutip akun Instagram @geologipedia, peristiwa kebakaran di Kalimantan berbeda dari kebakaran hutan biasa yang membakar pohon dan semak di permukaan. Titik api di sana menyebar dan bertahan di bawah permukaan tanah.

"Api di banyak titik Kalimantan menjalar dan bertahan di bawah permukaan tanah, bisa sampai berhari-hari, muncul kembali walau sudah tampak padam. Elemen krusial dari fenomena ini ada pada jenis tanah yang mendominasi, yaitu gambut (peat)," tulis mereka dalam postingannya.

Kalimantan diketahui memiliki salah satu hamparan gambut tropis terluas di Indonesia, selain Sumatra. Secara geologi, gambut adalah sedimen organik tidak terkonsolidasi yang terbentuk dari akumulasi sisa tumbuhan pada lingkungan jenuh air.

Ciri khas ini membatasi masuknya oksigen sehingga menciptakan lingkungan anaerobik yang memperlambat dekomposisi material organik. Ketika akumulasi material organik lebih cepat daripada penguraiannya, gambut terus menumpuk selama ribuan tahun. Proses ini disebut peatifikasi, yang menjadi tahap awal pembentukan batubara.

Kebakaran gambut sulit dipadamkan

Ilustrasi kebakaran hutan (unsplash.com/Matt Howard)

Di banyak wilayah Kalimantan, gambut membentuk kubah gambut (peat dome), dengan ketebalan maksimum di bagian tengah dan menipis ke arah tepi. Ketebalannya dapat mencapai 8–10 meter.

Jenis tanah ini memiliki porositas tinggi dan mampu menyimpan air seperti spons. Saat kondisi basah, gambut efektif sebagai penyimpan karbon. Tetapi ketika mengering, dia menjadi sangat mudah terbakar dan sulit dipadamkan.

"Gambut alami umumnya jenuh air dan sulit terbakar. Risiko meningkat ketika muka air tanah turun akibat drainase dan periode cuaca kering berkepanjangan.Kondisi ini mengurangi kadar air gambut dan meningkatkan kerentanan terhadap kebakaran," lanjut Geologipedia.

Saat terpapar oksigen, bahan organik mengalami oksidasi eksotermik yang menghasilkan panas. Jika panas terakumulasi, gambut dapat mengalami smouldering combustion, yaitu pembakaran tanpa nyala yang berlangsung lambat namun persisten dan dapat merambat di bawah permukaan.

Smouldering combustion pada gambut berbeda dari kebakaran biasa. Ada 3 hal penting yang perlu diketahui, di antaranya:

  • Suhu lebih rendah (sekitar 300-600 derajat C) tapi jauh lebih persisten.

  • Merambat ke segala arah, termasuk ke bawah dan menyamping, mengikuti pori-pori dan retakan gambut kering yang menyalurkan oksigen.

  • Sulit dipadamkan karena air harus meresap cukup dalam untuk menjangkau bara di bawah permukaan.

Tiga kondisi ini menjadi tantangan petugas dalam pemadaman kebakaran hutan di lahan gambut. Karakter geologi dari gambut menjelaskan mengapa api sulit dikendalikan, tetapi gambut alami yang masih basah relatif tahan api.

Ada tangan manusia di baliknya?

Pemicu kebakaran paling umum yang berasal dari aktivitas manusia, seperti:

  • Pembukaan lahan dengan pembakaran.

  • Pembangunan kanal drainase yang mengeringkan gambut.

  • Ekspansi pertanian di kawasan hidrologis gambut.

  • Kemarau panjang dan El Niño bisa memperparah kekeringan dan meningkatkan risiko kebakaran

Kombinasi ini membuat krisis karhutla gambut kini digambarkan bukan lagi sebagai bencana musiman, melainkan krisis struktural tahunan.

Kebakaran lahan bukan sekadar persoalan api. Ketika tata lahan dan air dikelola dengan keliru, gambut dapat berubah menjadi sumber bencana.

Curated For You

Editorial Team

Related Article