Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Abu Vulkanik Anak Krakatau Berbahaya meski Tipis?
ilustrasi erupsi gunung api (pexels.com/Diego Giron)
  • Abu Anak Krakatau yang tipis tetap berbahaya karena partikel berukuran kurang dari 10 mikrometer dapat terhirup hingga paru-paru dan memperburuk gangguan pernapasan.
  • Partikel kasar abu dapat mengiritasi mata dan kulit, bahkan menggores kornea; hindari mengucek mata, penggunaan lensa kontak, serta bersihkan paparan dengan air.
  • Abu dapat masuk melalui celah kendaraan dan elektronik, menyumbat filter atau ventilasi, memicu panas berlebih, serta berisiko menyebabkan hubungan pendek ketika basah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau kembali menjadi perhatian setelah abu vulkaniknya terpantau mencapai sejumlah wilayah di sekitar Jabodetabek dan Jawa Barat. Sekilas, abu yang menempel tipis di kendaraan, jendela, atau halaman rumah mungkin terlihat seperti debu biasa dan tidak terlalu mengkhawatirkan. Padahal, abu vulkanik memiliki karakteristik berbeda dari debu sehari-hari karena mengandung partikel batuan dan mineral yang sangat halus.

Partikel tersebut dapat terhirup, mengiritasi mata dan saluran pernapasan, bahkan memperburuk keluhan pada orang yang sensitif terhadap paparan debu. Risiko ini juga tidak selalu ditentukan oleh seberapa tebal abu yang terlihat di permukaan, karena partikel halusnya dapat tetap masuk ke udara dan terhirup. Lalu, kenapa abu vulkanik Anak Krakatau tetap bisa berbahaya meski hanya terlihat tipis? Yuk, simak penjelasan lengkapnya di bawah ini!


1. Partikelnya aangat halus dan bisa masuk ke paru-paru

ilustrasi abu vulkanik (pexels.com/Mario Spencer)

Abu vulkanik bukan sekadar debu biasa karena sebagian partikelnya berukuran sangat kecil dan dapat terhirup saat berada di udara. Mengutip dari U.S. Geological Survey (USGS), partikel abu yang berukuran kurang dari 10 mikrometer dapat masuk jauh ke dalam paru-paru ketika terhirup. Ukurannya yang sangat kecil membuat abu tetap berpotensi mengganggu kesehatan meskipun hanya terlihat sebagai lapisan tipis di permukaan rumah atau kendaraan.

Paparan abu juga dapat menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan, terutama pada orang yang memiliki masalah pernapasan sebelumnya. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) pun menjelaskan bahwa menghirup abu vulkanik dapat mengiritasi saluran napas dan memperburuk gejala pada orang dengan asma atau penyakit pernapasan kronis. Karena itu, jangan menilai risiko abu hanya dari ketebalannya, tetapi juga dari seberapa banyak partikel halus yang terhirup.


2. Bisa mengiritasi mata dan kulit

ilustrasi sakit mata (pexels.com/Karolina Grabowska)

Abu vulkanik tidak hanya berisiko jika terhirup, tetapi juga bisa mengganggu mata dan kulit ketika menempel ke tubuh. Partikelnya yang kasar dapat membuat mata terasa seperti kemasukan benda asing, gatal, perih, merah, atau terus berair. Menurut USGS, abu vulkanik bahkan bisa menyebabkan goresan pada bagian depan mata atau corneal abrasion, yaitu luka kecil akibat permukaan mata tergores partikel abu.

Kondisi tersebut lebih perlu diperhatikan jika abu masuk ke mata dan kemudian mata digosok. Sementara itu, mengutip dari Health New Zealand, paparan abu vulkanik juga dapat menyebabkan mata gatal atau terasa sakit serta membuat kulit mengalami iritasi dan kemerahan. Penggunaan lensa kontak saat ada abu di udara juga sebaiknya dihindari karena partikel abu dapat terjebak di bawah lensa dan menggores mata.

Jika abu mengenai kulit, segera bersihkan dengan air dan hindari menggosok bagian yang terkena terlalu keras. Bila abu masuk ke mata, jangan menguceknya karena tindakan tersebut justru dapat memperparah iritasi atau menyebabkan goresan. Artinya, meski abu Anak Krakatau hanya terlihat tipis, tetap gunakanlah perlindungan seperti kacamata saat berada di area yang terdampak.

3. Bisa mengganggu kendaraan dan peralatan elektronik

ilustrasi vacuum cleaner (pexels.com/Liliana Drew)

Abu vulkanik yang terlihat tipis tetap bisa masuk ke kendaraan dan peralatan elektronik melalui celah, ventilasi, atau saluran udara. Pada kendaraan, abu dapat menyumbat filter udara dan mengganggu kerja mesin, sedangkan pada perangkat elektronik abu dapat menutup ventilasi sehingga membuat perangkat lebih cepat panas. USGS menjelaskan, abu vulkanik yang basah juga dapat menghantarkan listrik dan menyebabkan hubungan pendek atau short circuit pada komponen listrik yang terbuka.

Kondisi tersebut tidak hanya berisiko merusak peralatan, tetapi juga dapat menyebabkan gangguan listrik hingga membahayakan orang di sekitarnya. Oleh sebab itu, peralatan yang terkena abu sebaiknya dimatikan dan sumber listriknya diputus sebelum dibersihkan. Meski abu Anak Krakatau yang sampai ke rumah tampak tipis, tetap hati-hati karena partikel kecilnya bisa mengganggu perangkat dan berisiko bagi keselamatan.

Abu vulkanik yang terlihat tipis tetap perlu diwaspadai karena partikel kecilnya dapat berdampak pada kesehatan, kendaraan, hingga peralatan elektronik di rumah. Jika abu Anak Krakatau masih terpantau di wilayahmu, lakukan pembersihan dengan hati-hati dan gunakan perlindungan yang sesuai. Menurutmu, dari ketiga bahaya tersebut, mana yang paling sering tidak disadari orang saat abu vulkanik sampai ke rumah?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article