Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau kembali menjadi perhatian setelah abu vulkaniknya terpantau mencapai sejumlah wilayah di sekitar Jabodetabek dan Jawa Barat. Sekilas, abu yang menempel tipis di kendaraan, jendela, atau halaman rumah mungkin terlihat seperti debu biasa dan tidak terlalu mengkhawatirkan. Padahal, abu vulkanik memiliki karakteristik berbeda dari debu sehari-hari karena mengandung partikel batuan dan mineral yang sangat halus.
Partikel tersebut dapat terhirup, mengiritasi mata dan saluran pernapasan, bahkan memperburuk keluhan pada orang yang sensitif terhadap paparan debu. Risiko ini juga tidak selalu ditentukan oleh seberapa tebal abu yang terlihat di permukaan, karena partikel halusnya dapat tetap masuk ke udara dan terhirup. Lalu, kenapa abu vulkanik Anak Krakatau tetap bisa berbahaya meski hanya terlihat tipis? Yuk, simak penjelasan lengkapnya di bawah ini!
