Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Fakta Abu Vulkanik, Lebih Parah dari Debu Biasa!

5 Fakta Abu Vulkanik, Lebih Parah dari Debu Biasa!
Ilustrasi letusan gunung berapi aktif. (pexels.com/Diego Girón)
  • Erupsi Anak Krakatau, Semeru, Ili Lewotolok, dan Ibu memicu hujan abu vulkanik, yakni tephra dari pecahan magma, batuan, mineral, serta kaca vulkanik.
  • Partikelnya sangat kecil, berongga, dan ringan sehingga dapat terbawa angin hingga puluhan kilometer, tetapi keras serta tajam dan mudah terhirup.
  • Abu vulkanik mengancam kesehatan, bangunan, mesin pesawat, perairan, dan tanaman; namun setelah pelapukan bertahun-tahun, kandungan mineralnya dapat menyuburkan tanah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Indonesia baru-baru ini kembali dilanda bencana alam berupa erupsi gunung berapi. Beberapa gunung aktif tercatat baru saja meletus dan mengalami peningkatan aktivitas, di antaranya Gunung Anak Krakatau, Gunung Semeru, Gunung Ili Lewotolok, serta Gunung Ibu. Akibat dari erupsi gunung-gunung tersebut, timbul hujan abu vulkanik yang melayang di udara dan menyelimuti wilayah permukiman sekitarnya.

Lantas, apa sebenarnya abu vulkanik itu dan fakta menarik apa saja yang tersembunyi di baliknya? Yuk, simak artikel ini untuk menemukan jawabannya!

  1. 1. Abu vulkanik adalah bagian dari tephra

    Asap abu-abu pekat dan tebal membubung tinggi ke langit dari kawah utama yang berada di puncak gunung berapi.
    Asap abu-abu pekat dan tebal membubung tinggi ke langit dari kawah utama yang berada di puncak gunung berapi. (pexels.com/Diego Girón)

    Dilansir National Geographic, partikel abu vulkanik disebut tephra, yaitu istilah untuk semua material padat yang disemburkan oleh gunung berapi. Abu ini dihasilkan dari letusan gunung berapi secara eksplosif. Saat gas di dalam ruang magma mengembang, gas tersebut mendorong batuan cair atau magma ke atas dan keluar gunung berapi dengan sangat keras.

    Kekuatan ledakan yang dahsyat ini kemudian menghancurkan dan melontarkan magma cair tersebut ke udara. Di udara, magma mendingin lalu mengeras menjadi batuan vulkanik serta pecahan kaca. Letusan ini juga bisa menghancurkan batuan padat gunung berapi, lalu bercampur dengan lava yang mengeras hingga membentuk awan abu.

  2. 2. Berukuran sangat kecil dan punya banyak rongga

    Gambar mikrograf elektron pemindaian dari partikel abu vulkanik.
    Gambar mikrograf elektron pemindaian dari partikel abu vulkanik. (commons.wikimedia.org/Thegreatdr/United States Geological Survey)

    Abu vulkanik adalah sebutan untuk debu halus berukuran sangat kecil yang keluar saat gunung berapi meletus. Dilansir National Geographic, partikel ini punya banyak rongga di dalamnya sehingga bobotnya terasa sangat ringan. Saat letusan terjadi, abu ini membumbung tinggi ke udara bersama uap air dan gas panas hingga membentuk gumpalan kolom asap gelap.

    Karena ukurannya yang kecil dan bobotnya yang ringan, abu vulkanik bisa terbang terbawa angin hingga jarak yang sangat jauh. Gumpalan abu yang terus tertiup angin ini perlahan akan turun dan jatuh kembali ke bumi. Akibatnya, wilayah yang berjarak berpuluh-puluh kilometer dari lokasi gunung bisa tertutup lapisan debu yang cukup tebal.

  3. 3. Bukan abu hasil pembakaran

    Sampel abu vulkanik, khususnya dari letusan Gunung St. Helens tahun 1980.
    Sampel abu vulkanik, khususnya dari letusan Gunung St. Helens tahun 1980. (commons.wikimedia.org/Nessa Eull)

    Abu vulkanik sering kali disalahartikan sebagai sisa pembakaran biasa, padahal karakteristik fisiknya jauh lebih keras dan berbahaya. Dilansir U.S. Geological Survey, material ini sama sekali bukan hasil pembakaran lembut seperti abu kertas atau dedaunan yang sering kita lihat. Abu vulkanik justru terdiri dari pecahan batuan, mineral, dan potongan kaca vulkanik yang sangat tajam.

    Ukuran butirannya sangat bervariasi, mulai dari yang sekasar pasir hingga sehalus tanah liat. Partikel terkecilnya bahkan bisa berukuran kurang dari 0,004 milimeter yang sangat mudah terhirup. Karakterisitik fisik inilah yang membuat abu vulkanik jauh lebih merusak dibanding abu biasa.

  4. 4. Sangat berbahaya karena dapat merusak organ vital manusia

    Seorang warga yang sedang menyapu abu vulkanik di jalanan.
    Seorang warga yang sedang menyapu abu vulkanik di jalanan. (commons.wikimedia.org/Crisco 1492)

    Abu vulkanik dapat menyebabkan iritasi mata, hidung, dan paru-paru, serta memicu masalah pernapasan pada manusia. Selain itu, abu vulkanik bisa meleleh di dalam ruang bakar mesin pesawat jet dan menyebabkan mesin mati mendadak di udara. Hujan abu yang meninggalkan lapisan abu tebal juga memicu risiko merobohkan atap rumah.

    Dampak buruk abu vulkanik ternyata tidak berhenti sampai di darat dan udara saja. Abu ini juga dapat terbawa air masuk ke dalam aliran sungai maupun danau. Akibatnya, keberadaan abu tersebut dapat membahayakan kehidupan akuatik dan makhluk hidup di dalamnya.

  5. 5. Abu vulkanik membawa dampak positif jangka panjang

    Kebun anggur unik di kawasan La Geria, Spanyol, di atas tanah vulkanik hitam.
    Kebun anggur unik di kawasan La Geria, Spanyol, di atas tanah vulkanik hitam. (pexels.com/Arnika Jesiolowski)

    Dilansir Terra Cultura, saat meletus, gunung berapi melepaskan lava, abu vulkanik, dan pecahan batuan yang akan mendingin membentuk endapan mineral baru. Batuan baru ini awalnya tampak tandus, padahal sudah mengandung banyak unsur kimia penting seperti kalium, kalsium, magnesium, fosfor, dan besi. Nutrisi penting ini akan terkunci di dalam mineral vulkanik dan baru keluar secara bertahap saat batuan mulai hancur.

    Abu vulkanik yang partikelnya sangat halus ikut berperan mempercepat proses pelapukan batuan tersebut. Partikel halus ini meningkatkan permukaan kontak dengan air sehingga batuan lebih cepat hancur dan menyatu dengan bumi. Hasilnya, setelah mengalami pelapukan selama beberapa tahun, tanah yang tercampur abu vulkanik atau tanah andosol ini menjadi sangat subur untuk pertanian. Tapi, abu vulkanik tetap bisa merusak tanaman dalam jangka pendek jika tidak segera dibersihkan.

    Meskipun abu vulkanik memiliki dampak positif bagi kesuburan tanah di masa depan, bahaya langsungnya terhadap kesehatan dan keselamatan tetap tidak boleh diabaikan. Selalu siapkan masker, lindungi mata serta sumber air bersih, dan terus ikuti imbauan resmi dari pihak berwenang saat terjadi bencana erupsi di sekitar kamu.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More