Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Banyak Gunung Berbentuk Kerucut? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Kenapa Banyak Gunung Berbentuk Kerucut? Ini Penjelasan Ilmiahnya
Gunung Semeru (commons.wikimedia.org/M Joko Apriyo Putro)
  • Banyak gunung berapi berbentuk kerucut karena material erupsi menumpuk hingga mencapai sudut kemiringan stabil, lalu melorot bila lereng terlalu curam.
  • Pertumbuhan dari satu pusat letusan membuat lava dan material vulkanik mengendap relatif seimbang di sekeliling kawah, sehingga gunung kerap tampak simetris.
  • Kekentalan magma, jenis erupsi, serta erosi dan letusan berikutnya menentukan variasi bentuk gunung, dari stratovolcano curam hingga shield volcano yang melebar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Kalau diperhatikan, banyak gunung di berbagai belahan dunia memiliki siluet yang hampir serupa, yaitu meruncing ke atas dengan lereng yang melebar ke bawah. Bentuk ini lazim ditemukan pada gunung berapi di Indonesia, Jepang, hingga Amerika, meskipun masing-masing terbentuk di lingkungan yang berbeda. Kemiripan tersebut sering membuat orang mengira bahwa semua gunung memang tercipta dengan bentuk seperti itu.

Padahal, kenyataannya tidak semua gunung memiliki bentuk kerucut, dan gunung yang tampak mirip pun belum tentu terbentuk melalui proses yang sama. Lalu, apa sebenarnya yang membuat banyak gunung berakhir dengan bentuk yang hampir sama?

  1. 1. Gunung kerucut terbentuk karena material memiliki batas kemiringan

    Gunung Fuji
    Gunung Fuji (commons.wikimedia.org/Hannes_24)

    Saat gunung berapi meletus, lava tidak menjadi satu-satunya material yang keluar dari kawah. Abu vulkanik, lapili, batu pijar, hingga pecahan batuan ikut terlontar ke udara sebelum akhirnya jatuh kembali di sekitar gunung. Seiring waktu, material tersebut terus menumpuk dan membentuk lereng yang semakin tinggi. Namun, tumpukan itu tidak bisa terus bertambah curam tanpa batas karena setiap material memiliki kemampuan berbeda dalam menopang bebannya sendiri.

    Dalam geologi, batas kemiringan tersebut dikenal sebagai angle of repose, yaitu sudut maksimum yang masih membuat tumpukan material tetap stabil. Jika lereng menjadi terlalu curam, sebagian material akan melorot ke bawah hingga kemiringannya kembali seimbang. Proses sederhana ini terjadi berulang setiap kali gunung mengalami erupsi sehingga lerengnya cenderung memiliki sudut yang hampir sama di berbagai sisi. Itulah sebabnya banyak gunung berapi akhirnya memiliki bentuk yang menyerupai kerucut.

  2. 2. Gunung berapi terbentuk dari satu pusat letusan

    ilustrasi gunung berapi
    ilustrasi gunung berapi (pexels.com/Archie Binamira)

    Berbeda dengan pegunungan yang terbentuk akibat pergerakan lempeng tektonik, gunung berapi tumbuh dari satu titik yang sama, yaitu kawah tempat keluarnya magma. Setiap kali terjadi letusan, lava dan berbagai material vulkanik akan muncul melalui saluran tersebut, lalu mengendap di sekelilingnya. Karena proses ini berlangsung berulang dari lokasi yang sama, tubuh gunung perlahan membesar dari bagian tengah ke arah luar.

    Lapisan baru yang dihasilkan setiap letusan akan menutupi endapan yang lebih lama sehingga ukuran gunung terus bertambah. Selama pusat letusannya tidak banyak bergeser, penumpukan material akan terjadi di semua sisi gunung dengan pola yang relatif seimbang. Akibatnya, gunung berapi sering terlihat simetris jika dilihat dari kejauhan. Meski tidak semua gunung memiliki bentuk yang benar-benar sempurna, proses pertumbuhan dari satu pusat letusan menjadi salah satu alasan mengapa bentuk kerucut begitu sering dijumpai pada gunung berapi.

  3. 3. Kekentalan magma ikut menentukan bentuk gunung

    ilustrasi magma
    ilustrasi magma (commons.wikimedia.org/National Park Service Digital Image Archives)

    Tidak semua magma memiliki sifat yang sama. Ada magma yang sangat kental sehingga mengalir lambat, tetapi ada pula yang lebih cair dan mampu menjalar jauh sebelum akhirnya membeku di permukaan. Perbedaan sifat inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa bentuk gunung berapi di dunia tidak selalu sama. Semakin kental magmanya, semakin sulit lava menyebar ke area yang luas setelah keluar dari kawah. Akibatnya, material vulkanik lebih banyak menumpuk di sekitar pusat letusan sehingga gunung tumbuh semakin tinggi dengan lereng yang curam. Kondisi tersebut umum ditemukan pada gunung berapi bertipe stratovolcano.

    Sebaliknya, magma yang lebih encer dapat mengalir hingga puluhan kilometer sebelum mendingin dan mengeras. Aliran lava yang menyebar luas membuat gunung bertambah besar ke arah samping, bukan hanya ke atas. Karena itulah gunung yang terbentuk cenderung memiliki lereng landai dan ukuran yang sangat luas. Perbedaan ini dapat dilihat jika membandingkan Gunung Fuji di Jepang yang menjulang dengan bentuk kerucut yang tegas dan Mauna Loa di Hawaii yang melebar menyerupai perisai. Jadi, bentuk gunung bukan hanya ditentukan oleh letusannya, tetapi juga oleh sifat magma yang keluar dari dalam bumi.

  4. 4. Setiap jenis letusan membangun gunung dengan cara yang berbeda

    ilustrasi letusan gunung berapi
    ilustrasi letusan gunung berapi (pexels.com/Joni Parlindungan Manurung)

    Cara gunung berapi tumbuh ternyata tidak selalu sama. Ada gunung yang terbentuk melalui letusan eksplosif dengan lontaran abu, batuan, dan material vulkanik ke udara, tetapi ada juga yang lebih sering mengeluarkan aliran lava tanpa ledakan besar. Perbedaan pola erupsi tersebut membuat proses penumpukan material di permukaan menjadi berbeda sejak awal. Itulah sebabnya bentuk gunung berapi di berbagai wilayah tidak selalu memiliki karakter yang sama. Jenis letusan menjadi salah satu faktor yang menentukan bagaimana tubuh gunung berkembang dari waktu ke waktu.

    Gunung berapi bertipe stratovolcano terbentuk dari lapisan lava dan material piroklastik yang saling menumpuk selama banyak siklus letusan sehingga menghasilkan lereng yang relatif curam. Berbeda dengan itu, shield volcano didominasi oleh aliran lava yang sangat cair sehingga tubuh gunung melebar ke segala arah. Ada pula cinder cone, yaitu gunung berapi berukuran lebih kecil yang tersusun dari pecahan batuan vulkanik hasil letusan eksplosif. Meskipun sama-sama terbentuk oleh aktivitas vulkanik, ketiga tipe tersebut memiliki bentuk yang berbeda karena proses pembentukannya juga tidak sama. Perbedaan inilah yang membuat tidak semua gunung berapi memiliki siluet kerucut yang identik ketika dilihat dari kejauhan.

  5. 5. Bentuk kerucut bisa berubah seiring waktu

    ilustrasi gunung api
    ilustrasi gunung api (pexels.com/Kelly)

    Bentuk kerucut yang terlihat pada gunung berapi bukan berarti akan bertahan selamanya. Setelah terbentuk, permukaan gunung terus dipengaruhi oleh hujan, angin, aliran air, hingga perubahan suhu yang perlahan mengikis batuan di lerengnya. Proses pengikisan ini memang berlangsung sangat lambat, tetapi dalam rentang ribuan hingga jutaan tahun dapat mengubah bentuk gunung secara signifikan. Itulah sebabnya gunung yang sudah sangat tua biasanya tidak lagi memiliki lereng yang simetris seperti saat pertama kali terbentuk.

    Perubahan bentuk juga bisa terjadi dalam waktu yang jauh lebih singkat ketika gunung kembali meletus. Material baru berupa lava, abu vulkanik, dan batuan akan menambah lapisan pada tubuh gunung, sedangkan letusan yang sangat besar dapat menyebabkan puncaknya runtuh hingga membentuk kaldera. Karena terus mengalami pengikisan sekaligus penambahan material, bentuk gunung sebenarnya selalu berubah dari waktu ke waktu. Jadi, bentuk kerucut yang terlihat saat ini merupakan hasil dari proses geologi yang masih terus berlangsung, bukan bentuk yang akan tetap sama selamanya.

    Bentuk kerucut yang dimiliki banyak gunung merupakan hasil dari perpaduan antara aktivitas vulkanik, gaya gravitasi, dan sifat material penyusunnya yang bekerja selama jutaan tahun. Karena setiap gunung terbentuk melalui proses geologi yang berbeda, tidak semuanya memiliki bentuk yang sama meskipun sekilas terlihat mirip. Lantas, fenomena alam apa lagi yang menurutmu tampak sederhana, tetapi ternyata memiliki penjelasan ilmiah yang tidak kalah menarik?

    Referensi:

    "Types of Volcanic Cones." National Geographic. Diakses pada Agustus 2026

    "Geology and Physical Processes." National Park Service of the United States. Diakses pada Agustus 2026

    "One of Earth’s most explosive supervolcanoes is recharging with fresh magma." Kobe University. Diakses pada Agustus 2026

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More