Dulu para ilmuwan berpikir mereka harus mengebor lapisan es Europa hingga puluhan kilometer untuk mencari tanda-tanda kehidupan. Tugas seperti itu tentu sangat sulit dilakukan dengan teknologi saat ini.
Namun, penelitian terbaru memberikan harapan baru. Studi menunjukkan bahwa molekul biologis seperti asam amino kemungkinan dapat bertahan hanya beberapa sentimeter di bawah permukaan es, terutama di wilayah lintang menengah hingga tinggi. Artinya, wahana antariksa di masa depan mungkin cukup mengambil sampel dari permukaan tanpa perlu mengebor terlalu dalam. Jika benar demikian, pencarian tanda-tanda kehidupan di Europa akan menjadi jauh lebih realistis dibandingkan perkiraan sebelumnya. (Nature Astronomy, 2016)
Sampai hasil pengamatan dari Europa Clipper benar-benar diperoleh, Europa akan tetap menjadi salah satu tujuan paling menarik dalam eksplorasi luar angkasa. Dengan lautan raksasa yang tersembunyi, keberadaan senyawa organik, serta kemungkinan adanya sumber energi di dasar lautnya, satelit es milik Jupiter ini masih menjadi kandidat terbaik untuk menjawab pertanyaan apakah kita benar-benar sendirian di alam semesta.
Referensi
National Aeronautics and Space Administration. Diakses pada Juni 2026. Why Europa?
Nordheim, T. A., Hand, K. P., & Paranicas, C. (2018). Preservation of potential biosignatures in the shallow subsurface of Europa. Nature Astronomy, 2(8), 673–679. https://doi.org/10.1038/s41550-018-0499-8
Reuters. Diakses pada Juni 2026. Study Casts Doubt on Potential for Life on Jupiter's Moon Europa
Smithsonian Magazine. Diakses pada Juni 2026. The Search for Life on Europa Just Got Easier
The Conversation. Diakses pada Juni 2026. The Search for Life Beneath The Ice: Why We’re Going Back to Europa
The Conversation.Diakses pada Juni 2026. NASA Is Launching a Major Mission to Look for Habitable Spots on Jupiter’s Moon Europa