Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Kebakaran di Lahan Gambut Sulit Dipadamkan?
ilustrasi kebakaran lahan gambut (pexels.com/K)
  • Turunnya muka air tanah membuat gambut kehilangan kelembapan, sehingga tumpukan bahan organik yang terbentuk ribuan tahun menjadi lebih mudah terbakar.
  • Api gambut dapat membara perlahan di bawah permukaan tanpa nyala jelas, menjalar melalui lapisan tanah, dan tetap bergerak meski kobaran permukaan mereda.
  • Penyemprotan air dari permukaan sering tidak menjangkau bara serta panas di dalam gambut; injeksi air langsung ke titik panas dinilai lebih efektif.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi salah satu persoalan lingkungan yang kerap terjadi di sejumlah wilayah, terutama saat kondisi panas dan kering. Sebagian karhutla dapat terjadi di lahan gambut, yaitu ekosistem yang memiliki karakteristik berbeda dari tanah mineral. Sebagai contoh, Kalimantan memiliki sekitar 4,54 juta hektare lahan gambut, atau sekitar 10 persen dari wilayah daratannya.

Lahan gambut secara alami menyimpan banyak air dan terbentuk dari tumpukan bahan organik yang terakumulasi selama ribuan tahun. Saat muka air tanah turun, gambut kehilangan kelembapannya sehingga bahan organik tersebut menjadi lebih mudah terbakar. Lalu, apa saja yang membuat kebakaran di lahan gambut sulit dipadamkan? Berikut penjelasan lengkapnya.

1. Ketika muka air tanah turun, gambut lebih mudah terbakar

ilustrasi kebakaran lahan gambut (pexels.com/Michal Petráš)

Berdasarkan penelitian yang diterbitka dalam jurnal IOP Conference Series: Earth and Environmental Science tahun 2020, peneliti dari Universitas Palangka Raya, Kyoto University, dan Center for International Forestry Research (CIFOR) mengkaji kebakaran gambut di kawasan Kahayan–Sebangau, Kalimantan Tengah. Penelitian tersebut menjelaskan bahwa kondisi gambut yang mengering dapat meningkatkan risiko terjadinya kebakaran. Penurunan muka air tanah membuat lapisan gambut kehilangan kelembapan sehingga bahan organik di dalamnya menjadi lebih mudah terbakar.

Kebakaran pada gambut juga dapat berlangsung melalui proses smouldering, yaitu pembakaran perlahan tanpa nyala api yang jelas di bawah permukaan. Proses ini memungkinkan api menjalar melalui lapisan gambut dan menghasilkan asap dalam jumlah besar. Karena itu, menjaga kondisi hidrologis gambut dan muka air tanah menjadi bagian penting dalam mencegah kebakaran meluas di kawasan gambut.

2. Api bisa membara di bawah permukaan

ilustrasi kebakaran lahan gambut (pexels.com/Vladyslav Dukhin)

Pada kebakaran lahan gambut, api tidak selalu tampak sebagai kobaran besar di permukaan karena proses pembakaran dapat berlangsung di dalam lapisan gambut. Fenomena ini disebut smouldering, yaitu pembakaran perlahan tanpa nyala api yang jelas. Menurut studi yang terbit dalam jurnal Tropics pada 2004, proses smouldering pada kebakaran gambut diamati di sejumlah lokasi di Kalimantan Tengah.

Studi tersebut menunjukkan bahwa api dapat bergerak melalui lapisan gambut selama proses pembakaran berlangsung. Temuan ini sejalan dengan studi yang terbit dalam Singapore Journal of Tropical Geography tahun 2020, yang menunjukkan bahwa kebakaran di permukaan dapat bertransisi menjadi kebakaran di bawah permukaan pada kondisi tertentu di Kalimantan Tengah. Artinya, api dapat terus bergerak di dalam gambut meski kobaran di permukaan tidak lagi terlihat jelas.

3. Air tak mudah menjangkau bara di dalam gambut

ilustrasi kebakaran lahan gambut (pixabay.com/fish96)

Air yang disiramkan dari permukaan tidak selalu langsung mencapai sumber panas yang berada di dalam lapisan gambut. Menurut studi yang terbit dalam Fire Safety Journal pada 2017, penyemprotan air dalam waktu singkat belum cukup untuk memadamkan proses smouldering pada gambut karena panas masih tersimpan di bagian dalam. Panas yang tersisa tersebut bahkan dapat memicu api kembali setelah pemadaman.

Studi lain yang terbit di Alexandria Engineering Journal tahun 2022 menunjukkan bahwa injeksi air langsung ke titik panas di bawah permukaan lebih efektif dibandingkan penyemprotan dari permukaan dalam percobaan laboratorium. Temuan tersebut menunjukkan bahwa air perlu mencapai sumber panas di dalam gambut agar proses pembakaran benar-benar berhenti. Oleh sebab itu, karakter api yang berada di bawah permukaan menjadi salah satu alasan kebakaran gambut membutuhkan metode pemadaman yang berbeda.

Karhutla di lahan gambut memiliki karakter berbeda karena api dapat menyebar dan membara di bawah permukaan. Ketika gambut kehilangan air, proses pembakaran menjadi lebih mudah terjadi dan sulit dijangkau saat pemadaman. Menurutmu, apa langkah paling efektif untuk mencegah kebakaran di lahan gambut sebelum api muncul?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article