Aksi aktivis Greenpeace yang membentangkan banner raksasa di Bundaran HI, Jakarta, dengan pesan “Tangani Krisis Iklim, Turunkan Biaya Hidup” menyoroti hubungan antara kerusakan lingkungan dan beban ekonomi masyarakat. Krisis iklim sering dianggap hanya berkaitan dengan kenaikan suhu bumi, cuaca ekstrem, atau mencairnya es di kutub. Padahal, dampaknya bisa merambat hingga ke kebutuhan sehari-hari, mulai dari harga pangan, tagihan listrik, hingga biaya kesehatan.
Perubahan pola hujan dan suhu ekstrem, misalnya, dapat mengganggu produksi pertanian dan memengaruhi pasokan bahan makanan. Sementara itu, cuaca yang semakin panas bisa meningkatkan kebutuhan listrik untuk pendinginan dan memperbesar risiko gangguan kesehatan. Lantas, bagaimana krisis iklim bisa membuat biaya hidup makin mahal? Berikut tiga alasan ilmiahnya.
