Langit Merah akibat Karhutla Bisa Bertahan Berapa Lama?

- Asap karhutla menghamburkan cahaya biru, sehingga merah dan oranye lebih dominan, terutama saat Matahari dekat cakrawala; kondisi atmosfer dan karakteristik asap turut memengaruhi warna langit.
- Langit merah tidak berdurasi pasti: asap dapat terbawa angin hingga ribuan kilometer dan bertahan berminggu-minggu, tetapi warna mencoloknya bisa berubah dalam menit, jam, atau sepanjang hari.
- Langit yang kembali biru dan jarak pandang membaik menandakan asap berkurang, tetapi tidak menjamin polutan hilang; risiko paparan perlu dinilai melalui pemantauan kualitas udara, termasuk PM2.5.
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dapat menimbulkan kabut asap yang membuat langit tampak merah. Fenomena ini terjadi ketika partikel asap di atmosfer memengaruhi cara cahaya Matahari melewati udara. Akibatnya, warna merah dan oranye terlihat lebih dominan di atmosfer, terutama ketika Matahari berada dekat cakrawala.
Namun, warna langit tidak hanya ditentukan oleh banyaknya asap, tetapi juga oleh kondisi atmosfer dan posisi Matahari. Perubahan warna tersebut juga tidak selalu menunjukkan seberapa tinggi tingkat pencemaran udara di suatu wilayah. Untuk memahami fenomena ini, berikut beberapa hal yang perlu kamu ketahui tentang penyebab langit merah, durasi kemunculannya, dan proses kembalinya langit ke kondisi normal.
1. Penyebab langit merah saat karhutla

ilustrasi karhutla (unsplash.com/Matt Palmer) Langit merah yang muncul saat karhutla berkaitan dengan asap yang menyebar di atmosfer. Mengutip dari NASA, partikel kecil dalam asap dapat memengaruhi cara cahaya Matahari melewati udara. Partikel tersebut menghamburkan dan menghalangi sebagian cahaya, terutama cahaya dengan panjang gelombang lebih pendek seperti biru.
Akibatnya, cahaya merah dan oranye dapat terlihat lebih dominan dari permukaan Bumi. Efek ini bisa semakin jelas ketika Matahari berada dekat cakrawala karena cahayanya harus melewati lapisan atmosfer yang lebih tebal. Namun, warna langit juga dipengaruhi oleh kondisi atmosfer dan karakteristik asap, sehingga tidak setiap karhutla akan membuat langit tampak merah.
2. Durasi langit merah dan faktor yang memengaruhinya

ilustrasi langit merah (pexels.com/Cara Denison) Lamanya langit merah akibat karhutla bergantung pada kondisi asap dan atmosfer di sekitarnya. NASA menjelaskan, asap kebakaran dapat terbawa angin hingga ribuan kilometer dari lokasi kebakaran. Asap tersebut juga dapat bertahan di udara selama beberapa minggu, bergantung pada kondisi atmosfer.
Hujan bisa membantu menghilangkan sebagian partikel asap dari udara, sedangkan angin dapat memindahkan asap ke wilayah lain. Namun, langit merah tidak selalu terlihat sepanjang asap masih berada di atmosfer karena warna langit juga dipengaruhi posisi Matahari dan kondisi udara. Karena itu, durasi langit merah bisa berbeda-beda, sementara keberadaan asap dan polusi udara dapat berlangsung lebih lama.
Sebagai contoh, pada 9 September 2020, langit di San Francisco dan wilayah Bay Area, California, berubah menjadi jingga kemerahan akibat asap dari kebakaran hutan. Menurut University of California, Berkeley, kondisi langit jingga dan berkabut tersebut berlangsung sepanjang hari, tetapi kualitas udara memburuk dan tetap terdampak selama lebih dari sepekan. Contoh ini menunjukkan bahwa warna langit yang mencolok dapat berlangsung lebih singkat daripada dampak asap terhadap kualitas udara.
3. Tanda langit kembali normal setelah karhutla

ilustrasi kabut asap (pexels.com/KoolShooters) Langit yang kembali tampak biru dan jarak pandang yang membaik dapat menjadi tanda bahwa kabut asap karhutla mulai berkurang. Menurut NASA, partikel asap dapat berpindah mengikuti aliran udara sehingga kondisi langit di suatu wilayah bisa berubah seiring pergerakan asap. Hujan juga dapat membantu mengurangi partikel di atmosfer dengan membawa sebagian partikel turun ke permukaan Bumi.
Namun, langit yang terlihat cerah tidak selalu berarti seluruh polutan sudah hilang dari udara. Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA) menyarankan masyarakat memperhatikan kualitas udara, termasuk konsentrasi partikel halus PM2.5, untuk memahami risiko paparan asap kebakaran. Karena itu, kondisi udara setelah karhutla sebaiknya dinilai melalui pemantauan kualitas udara, bukan hanya berdasarkan perubahan warna langit.
Langit merah akibat karhutla tidak memiliki durasi yang pasti karena dipengaruhi oleh kondisi atmosfer, pergerakan asap, dan posisi Matahari. Berdasarkan penjelasan NASA, asap kebakaran dapat bertahan di udara selama beberapa minggu, tetapi warna merah pada langit bisa berubah lebih cepat, bahkan dalam hitungan menit hingga jam. Oleh sebab itu, meskipun langit kembali tampak cerah, kualitas udara tetap perlu dipantau untuk memastikan paparan polutan telah berkurang.
























