Mengapa Amfibi Semakin Dekat dengan Kepunahan?

- Kulit tipis membuat amfibi rentan terhadap zat berbahaya dari lingkungan, seperti pestisida dan logam berat.
- Amfibi hidup bergantung pada dua habitat sekaligus, sehingga perubahan iklim dan rusaknya habitat dapat menghentikan siklus hidup mereka.
- Penyakit jamur chytrid dan hilangnya habitat akibat aktivitas manusia juga menjadi ancaman serius bagi kelestarian amfibi.
Amfibi—seperti katak, kodok, salamander, dan sesilia—memiliki peran penting dalam ekosistem. Mereka berperan sebagai predator serangga, menjadi sumber makanan bagi burung dan ikan, serta membantu siklus nutrisi melalui sekresi kulit dan limbah tubuhnya. Namun ironisnya, kelompok hewan ini justru termasuk yang paling terancam punah.
Menurut data Daftar Merah IUCN, sekitar 41 persen spesies amfibi yang telah dikaji berada dalam status terancam, angka yang jauh lebih tinggi dibandingkan burung, mamalia, maupun reptil. Namun, apa sebenarnya yang membuat hewan berkulit licin ini rentan terhadap kepunahan? Di sini, kita akan mencoba menlihatnya lebih dalam.
1. Kulit tipis yang sangat rentan
Tidak seperti reptil atau mamalia, amfibi bernapas dan mengatur keseimbangan air melalui kulitnya yang tipis dan permeabel. Kulit ini tidak dilindungi sisik atau bulu, sehingga zat berbahaya dari lingkungan—seperti pestisida, logam berat, dan hujan asam—dapat langsung masuk ke aliran darah. Bahkan, di wilayah pertanian, katak dapat menyerap herbisida seperti atrazin, yang kemudian memicu gangguan perkembangan hingga penurunan populasi secara drastis.
2. Hidup bergantung pada dua dunia
Sebagian besar amfibi membutuhkan dua habitat sekaligus untuk menyelesaikan siklus hidupnya. Telur dan berudu berkembang di air, sementara individu dewasa hidup di daratan. Ketergantungan ganda ini membuat mereka jauh lebih rentan. Saat lahan basah mengering atau hutan ditebangi, siklus hidup amfibi bisa terhenti sepenuhnya. Di Amerika Tengah, rusaknya kolam-kolam alami menjadi salah satu faktor yang mendorong punahnya katak emas atau golden toad.
3. Perubahan iklim yang mengacaukan siklus alami

Kenaikan suhu dan perubahan pola hujan berdampak langsung pada fisiologi dan waktu berkembang biak amfibi. Banyak spesies mengandalkan hujan musiman tertentu untuk bertelur. Saat hujan datang terlalu cepat, terlambat, atau justru digantikan oleh kekeringan dan banjir, telur bisa mengering atau berudu kekurangan makanan. Di kawasan Amazon, terjadi penurunan populasi katak harlequin karena waktu reproduksi mereka tak lagi selaras dengan ketersediaan serangga.
4. Penyakit yang menyebar dengan cepat
Amfibi memiliki sistem kekebalan yang lemah terhadap patogen baru, terutama jamur chytrid Batrachochytrium dendrobatidis (Bd). Jamur ini menyerang kulit, menyumbat pori-pori, dan pada akhirnya menyebabkan gagal jantung. Penyakit ini telah memusnahkan lebih dari 90 spesies amfibi, termasuk katak Australia yang mengerami telur di dalam lambungnya. Aktivitas manusia—seperti perdagangan hewan peliharaan dan pariwisata—mempercepat penyebaran jamur ini, sementara perubahan iklim memperluas wilayah hidupnya.
5. Hilangnya habitat akibat aktivitas manusia
Pembalakan hutan, perluasan kota, dan pertanian skala besar menghancurkan habitat tempat amfibi berkembang biak dan mencari makan. Di Asia Tenggara, ekspansi perkebunan kelapa sawit tercatat menurunkan keanekaragaman katak hingga separuhnya. Di Amerika Serikat, pembangunan kawasan suburban memecah lahan basah menjadi fragmen-fragmen kecil. Populasi yang terisolasi ini kehilangan keragaman genetik dan menjadi semakin rentan terhadap kepunahan lokal.
Mengapa kepunahan amfibi berdampak besar

Kepunahan amfibi menjadi ancaman serius bagi kestabilan ekosistem karena hewan-hewan ini menempati posisi penting di tingkat menengah rantai makanan, baik sebagai predator yang sangat aktif maupun sebagai mangsa yang krusial. Pada fase larva, berudu memakan alga dan tumbuhan air sehingga mencegah pertumbuhan berlebihan yang dapat memicu eutrofikasi dan menurunkan kadar oksigen di perairan. Sementara itu, katak, kodok, dan salamander dewasa memangsa serangga dalam jumlah besar—termasuk nyamuk, lalat, dan hama pertanian—sehingga membantu menekan penyebaran penyakit dan kerusakan tanaman tanpa bergantung pada pestisida kimia.
Ketika amfibi menghilang, dampaknya merambat ke atas rantai makanan: predator seperti burung, ular, kelelawar, dan ikan kehilangan sumber pakan dan sering kali kesulitan beradaptasi. Hal ini dapat memicu penurunan populasi dan berkurangnya keanekaragaman hayati.
Penurunan populasi amfibi bukan sekadar hilangnya satu kelompok hewan, melainkan peringatan bahwa lingkungan sedang mengalami kerusakan serius. Amfibi sering disebut sebagai “alarm hidup” bagi kesehatan ekosistem, ketika mereka menghilang, itu menandakan air tercemar dan keseimbangan alam terganggu. Melindungi amfibi berarti juga melindungi lingkungan tempat manusia bergantung, melalui konservasi habitat, pengendalian penyakit, dan perubahan cara kita memperlakukan alam.
Referensi
The Environmental Literacy Council. Diakses pada Januari 2026. Why Are Amphibians Sensitive to Pollution?
IFAW (International Fund for Animal Welfare). Diakses pada Januari 2026. Golden Toads
IUCN Red List. Diakses pada Januari 2026. Species on the Red List (State of the World’s Amphibians)
The Nature Conservancy. Diakses pada Januari 2026. Why Are Amphibians the Most Endangered Class of Animals?
Phys.org. Diakses pada Januari 2026. Amphibians Facing Mounting Threats From Droughts Worldwide



















