Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Perbedaan Liger dan Tigon, Hibrida Kucing Besar yang Sangat Kuat

Perbedaan Liger dan Tigon, Hibrida Kucing Besar yang Sangat Kuat
potret liger (kiri) dan tigon (kanan) si kucing hibrida (commons.wikimedia.org/Ali West | Doyle of London)

Kamu pasti sering mendengar hewan hibrida berukuran besar dengan nama liger dan tigon, kan? Ya, mereka merupakan jenis hewan hasil kawin silang antara dua jenis kucing besar berbeda. Induk dari kedua kucing besar hibrida ini sebenarnya sama, yaitu seekor singa (Panthera leo) dengan seekor harimau (Panthera tigris).

Namun, sekalipun induk mereka berasal dari kucing besar yang sama, penampilan dan nama dari keduanya tampak sangat kontras. Kira-kira apa yang menyebabkan hal tersebut? Lalu, apa saja perbedaan antara liger dan tigon? Yuk, cari tahu faktanya sama-sama!

1. Beda jenis kelamin induk

potret tigon dengan warna bulu lebih gelap (commons.wikimedia.org/The bellman)
potret tigon dengan warna bulu lebih gelap (commons.wikimedia.org/The bellman)

Meskipun liger dan tigon sama-sama hasil hibrida antara singa dan harimau, tetapi jenis kelamin induk keduanya berbeda, lho. AZ Animals melansir kalau liger itu berasal dari hasil kawin silang antara singa jantan dengan harimau betina. Sementara itu, tigon berasal dari kawin silang harimau jantan dengan singa betina.

Maka dari itu, kosakata untuk menyebut nama kedua kucing besar hibrida ini sebenarnya diambil dari potongan nama induk jantan dan betina. Liger berarti “lion/tiger”, sementara tigon berarti “tiger/lion”. Oleh karena perbedaan indukan jantan dan betina yang digunakan dalam proses hibrida keduanya, ciri fisik antara liger dan tigon pun jadi cukup berbeda.

2. Beda penampilan

liger muda yang dipelihara di China (commons.wikimedia.org/Dinkun Chen)
liger muda yang dipelihara di China (commons.wikimedia.org/Dinkun Chen)

Indukan jantan ternyata mengambil porsi paling besar dalam penampilan liger dan tigon. Dilansir AZ Animals, liger memiliki warna tubuh cokelat kejinggaan yang mirip seperti singa. Lalu, ada pula pola garis samar di punggung dan bintik di perut.

Di sisi lain, tigon lebih mirip seperti harimau. Rambut di tubuh tigon lebih berwarna jingga gelap dengan garis gelap yang jelas pada bagian punggung. Sementara itu, ada bintik putih juga pada bagian perut, tetapi warnanya lebih putih. Dibandingkan liger yang tidak memiliki surai, tigon ternyata memiliki surai pendek yang lebih mirip seperti surai harimau saat sedang merasa terancam.

3. Beda ukuran tubuh

sosok tigon yang sedang beristirahat (commons.wikimedia.org/The bellman)
sosok tigon yang sedang beristirahat (commons.wikimedia.org/The bellman)

Perbandingan ukuran antara liger dengan tigon ternyata cukup jauh. Malahan, kalau kita melepaskan fakta kalau mereka adalah hewan hibrida, maka liger dan tigon masuk dalam kelompok kucing besar dengan ukuran paling masif di dunia. Hanya saja, liger masih jauh lebih unggul dalam kategori tersebut.

How Stuff Works melansir kalau liger jantan yang sudah dewasa mampu tumbuh sepanjang 3,4 meter dengan bobot 408 kg. Hal ini disebabkan karena liger tak mewarisi gen yang menghambat pertumbuhan pasca-remaja sehingga ukuran mereka terus tumbuh. Malah, sempat ada mitos yang berkembang kalau ukuran liger itu akan terus bertambah seiring bertambahnya usia.

Di sisi lain, tigon memiliki ukuran yang relatif serupa dengan kedua induk. Panjang tubuh mereka antara 1,2—2,7 meter dengan bobot rata-rata sekitar 181 kg. Berbeda dengan kasus liger, induk harimau jantan dari tigon itu memiliki gen pembatas pertumbuhan yang diwariskan pada tigon. Maka dari itu, ukuran tubuh kucing hibrida ini jadi terhenti pada fase tertentu dan cenderung sama seperti ukuran kedua induk.

4. Beda perilaku

Liger punya sifat yang mirip seperti singa, yakni suka hidup berkelompok. (commons.wikimedia.org/Hkandy)
Liger punya sifat yang mirip seperti singa, yakni suka hidup berkelompok. (commons.wikimedia.org/Hkandy)

Tak hanya ciri fisik dan ukuran, ternyata perilaku berbeda juga ditunjukkan oleh liger dan tigon. Hal ini lagi-lagi disebabkan oleh perbedaan induk jantan yang jadi basis dua kucing hibrida ini. How Stuff Works melansir kalau liger bisa hidup secara sosial, sementara tigon lebih condong sebagai penyendiri.

Perilaku liger ini merujuk pada perilaku singa jantan di alam liar yang sangat sosial dan membentuk kelompok. Di sisi lain, harimau jantan yang terbiasa soliter dan independen turut memengaruhi perilaku dari tigon. Hanya saja, mungkin kedua kucing hibrida ini memiliki perilaku unik lain yang tak dapat diprediksi.

Kontroversi dibalik kehadiran dua kucing besar hibrida ini

sosok tigon yang diawetkan di museum (commons.wikimedia.org/Doyle of London)
sosok tigon yang diawetkan di museum (commons.wikimedia.org/Doyle of London)

Yang namanya melahirkan hewan hibrida pastinya tak lepas dari kontroversi, baik dari sisi hewan hibrida yang lahir ataupun sisi etika penelitian bagi manusia. Kita mulai dari sisi kedua hewan hibrida ini.

Ingat dengan ukuran liger yang masif? Nah, tubuh mereka sangat rentan mengalami obesitas dan organ tubuh tidak dapat menopang fungsinya secara maksimal karena perbandingan ukuran yang sangat jauh, dilansir AZ Animals. Sementara itu, tigon yang punya ukuran lebih terjaga memang tidak sama rentannya mengalami gagal organ kalau dibandingkan dengan liger. Namun, tigon lebih sering terlahir cacat bawaan dan komplikasi karena ukuran janin tigon jauh lebih besar dari janin singa yang biasa dikandung singa betina.

Dari sisi etika penelitian, hewan hibrida seperti liger dan tigon menghasilkan pandangan yang berbeda. PBS melansir kalau ada pihak yang melihat hibrida hewan tak sepenuhnya negatif karena membantu peneliti dalam mempelajari proses evolusi dan genetik hewan. Di sisi lain, masalah etika karena menciptakan sesuatu yang seharusnya tidak pernah ada membuat peneliti khawatir dengan masa depan penelitian hewan hasil rekayasa yang berpotensi menghasilkan masalah serius.

Apa pun itu, hewan hibrida tetap tidak boleh dilepas ke alam liar ataupun dikembangbiakkan secara masif. Sebab, sedari awal mereka tidak ada dan sekalipun dikembangkan dalam jumlah tertentu, risiko cacat, masalah kesehatan yang tak diketahui sebelumnya, sampai rentang usia yang pendek jadi konsekuensi yang tak boleh diambil peneliti. Jadi, jangan berharap kalau kita bisa melihat liger dan tigon di alam liar. Saat ini, mereka hanya bisa dilihat di beberapa kebun binatang ataupun suaka milik pribadi saja.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Izza Namira
EditorIzza Namira
Follow Us

Latest in Science

See More

Perbedaan Liger dan Tigon, Hibrida Kucing Besar yang Sangat Kuat

27 Feb 2026, 18:06 WIBScience