Referensi
Sanvictores, T., Casale, J., & Huecker, M. R. (2018). Physiology, fasting.
Lepkovsky, S. (1977). The Role of the Chemical Senses in. The Chemical Senses and Nutrition, 413.
Kane, E., Rogers, Q. R., & Morris, J. G. (1981). Feeding behavior of the cat fed laboratory and commercial diets. Nutrition Research, 1(5), 499-507.
Wei, S., Zhao, J., Bai, M., Li, C., Zhang, L., & Chen, Y. (2019). Comparison of glycemic improvement between intermittent calorie restriction and continuous calorie restriction in diabetic mice. Nutrition & Metabolism, 16(1), 60.
Blanchard, G., Priymenko, N., & Oh, W. S. (2025). Nutrition and aging in dogs and cats: assessment and dietary strategies. Journal of Veterinary Science, 26(Suppl 1), S96.
Baldwin, K., Bartges, J., Buffington, T., Freeman, L. M., Grabow, M., Legred, J., & Ostwald Jr, D. (2010). AAHA nutritional assessment guidelines for dogs and cats. Journal of the American Animal Hospital Association, 46(4), 285-296.
Apakah Kucing Bisa Mengikuti Pola Makan Manusia saat Puasa?

- Kucing tidak bisa mengikuti pola puasa manusia karena metabolisme mereka membutuhkan asupan protein hewani rutin dan tidak mampu menahan lapar dalam waktu lama seperti manusia.
- Menunda makan terlalu lama dapat memicu hepatic lipidosis atau fatty liver pada kucing, terutama jika dilakukan berhari-hari tanpa pengawasan medis.
- Pemilik disarankan menyesuaikan jadwal makan kucing secara bijak selama Ramadan dan berkonsultasi dengan dokter hewan agar kebutuhan nutrisi tetap terpenuhi.
Bulan puasa selalu membawa perubahan ritme dalam rumah, mulai dari jam bangun, waktu makan, hingga suasana dapur yang lebih ramai saat sahur dan berbuka. Di tengah perubahan itu, banyak pemilik kucing bertanya-tanya apakah si meong di rumah juga bisa “menyesuaikan diri” dengan pola makan manusia yang berpuasa? Pertanyaan ini terdengar sederhana, tapi jawabannya tidak sesimpel ikut-ikutan sahur kemudian menunggu azan magrib.
Sebagai hewan karnivora sejati, kucing punya sistem metabolisme yang dirancang untuk asupan protein hewani rutin. Tubuhnya tidak bereaksi sama dengan tubuh manusia yang sanggup beradaptasi terhadap pola makan intermittent fasting. Jadi, sebelum ikut menggeser jadwal makan si kucing demi “biar barengan”, ada baiknya pahami terlebih dahulu fakta ilmiah mengenai apakah kucing bisa mengikuti pola makan manusia saat puasa.
1. Metabolisme kucing dirancang untuk makan rutin, bukan menahan lapar

Kucing termasuk karnivora obligat, yang berarti kebutuhan utamanya adalah protein hewani. Dilansir Primal Pet Foods, kucing memerlukan asupan protein tinggi dan tidak dapat menggantinya dengan nutrisi nabati. Uniknya, enzim di tubuh kucing masih aktif memecah protein meski tidak ada asupan makanan yang masuk. Itu sebabnya jeda makan panjang mendatangkan dampak buruk bagi kesehatan mereka.
Berbeda dengan manusia yang saat puasa akan mengalihkan sumber energi ke cadangan lemak dan glikogen, metabolisme kucing tidak sefleksibel itu. Tubuh kucing tidak efisien dalam menghemat protein ketika asupan makanan berhenti. Kalau terlalu lama tidak makan, tubuh kucing justru bisa mengalami gangguan metabolik. Menyamakan kucing dengan manusia yang puasa seharian jelas kurang tepat dari sisi fisiologis.
2. Risiko hepatic lipidosis jika terlalu lama tidak makan

Salah satu risiko serius bila kucing berhenti makan cukup lama adalah hepatic lipidosis atau fatty liver. Kondisi ini sering muncul pada kucing yang tidak makan selama beberapa hari, khususnya yang kelebihan berat badan. Lemak yang seharusnya menjadi cadangan energi malah menumpuk di hati lalu mengganggu fungsinya.
Berpuasa dari subuh sampai magrib mungkin normal bagi manusia, tapi bagi kucing, jeda panjang tanpa makanan bisa menjadi beban metabolik. Apalagi jika pola tersebut berlangsung berhari-hari. Hati kucing bekerja keras memproses lemak saat tidak ada asupan makanan masuk. Sekiranya muncul gejala seperti muntah, lemas, atau tidak mau makan sama sekali, itu sudah masuk zona bahaya.
3. Pola makan alami kucing memang sedikit-sedikit tapi sering

Kucing rumahan pada dasarnya tetap membawa naluri berburu dari leluhurnya. Studi yang dipublikasikan di Nutrition Research mencatat bahwa kucing cenderung makan 8–16 kali sehari dalam porsi kecil begitu diberi akses bebas ke makanan. Pola ini mencerminkan kebiasaan berburu di alam liar yang dilakukan berkali-kali dalam sehari. Makanya, sistem tubuh kucing terbiasa dengan asupan berkala, bukan satu atau dua kali makan besar.
Kalau kita tiba-tiba mengubahnya menjadi sahur dan berbuka, itu jelas bertolak belakang dengan pola biologis kucing. Rasa lapar berkepanjangan dapat memicu stres. Kadar gula darah pun ikut terpengaruh. Di sinilah pentingnya memahami kebiasaan biologis sebelum mengubah rutinitas.
4. Puasa intermittent fasting pada hewan tidak sama dengan puasa manusia

Ada yang beranggapan pembatasan makan identik dengan intermittent fasting. Beberapa penelitian benar mengamati efek restriksi kalori terkontrol pada hewan. Namun, pendekatan ilmiah tersebut dikerjakan dengan pengawasan ketat dan tujuan medis. Konsep ini tidak sama dengan meniadakan makan dari pagi hingga petang mengikuti ibadah manusia.
Kucing tidak memahami makna spiritual di balik rasa lapar. Mereka cuma merasakan perubahan jadwal dan perut yang tak terisi, mirip biasanya. Karena itu, tugas pemilik adalah memastikan kebutuhan biologis kucing terpenuhi dengan baik.
5. Cara aman menyesuaikan jadwal makan kucing selama Ramadan

Perubahan aktivitas rumah kala Ramadan memang tak terhindarkan. Solusinya bukan dengan membuat kucing ikut berpuasa, melainkan dengan mengatur ulang jam makan dengan bijak. Porsi tetap diberikan sesuai kebutuhan hariannya. Air minum pun harus selalu tersedia agar tubuhnya terhidrasi dengan baik.
Jika ingin melakukan perubahan pola makan kucing, sebaiknya konsultasikan dulu dengan dokter hewan. Terutama bagi kucing yang punya riwayat penyakit, obesitas, atau sudah lanjut usia. Dokter hewan bisa membantu menyusun jadwal makan yang aman.
Puasa merupakan ibadah manusia, sementara merawat hewan adalah tanggung jawab kita. Berdasarkan penjelasan mengenai apakah kucing bisa mengikuti pola makan manusia saat puasa, jawabannya adalah perlu dikonsultasikan terlebih dahulu dengan dokter hewan. Hal ini dikarenakan kucing berbeda dengan manusia. Mereka membutuhkan nutrisi yang cukup, jadwal yang konsisten, serta perhatian dari pemiliknya.


















