ilustrasi kalender hijriah (commons.wikimedia.org/مشاري محمد بن خنين)
Ramadan mengikuti kalender Hjiriah yang berbasis siklus Bulan, bukan kalender Matahari. Satu tahun di kalender ini lebih pendek sekitar sebelas hari dibanding tahun solar, sehingga Ramadan terus bergeser lebih awal setiap tahun dalam kalender Masehi. Pergeseran ini membuat Ramadan bisa jatuh pada musim berbeda dalam siklus beberapa dekade.
Akibatnya, durasi puasa di suatu negara tidak selalu sama setiap tahun karena posisi musim terus berubah. Negara di lintang tinggi bisa mengalami puasa panjang pada satu periode, lalu jauh lebih pendek beberapa tahun kemudian. Siklus pergeseran ini menunjukkan bahwa faktor waktu juga berperan besar dalam variasi durasi puasa. Kombinasi kalender Hijirah dan sistem astronomi Bumi menciptakan dinamika waktu puasa yang unik di seluruh dunia.
Durasi puasa yang berbeda di setiap negara sebenarnya merupakan hasil kerja sistem astronomi yang saling berkaitan, mulai dari garis lintang hingga pergerakan Bumi terhadap Matahari. Ramadan pun menjadi momen yang secara tidak langsung memperlihatkan bagaimana posisi planet memengaruhi aktivitas manusia sehari-hari. Setelah memahami mekanismenya, apakah perbedaan durasi puasa masih terasa sebagai hal yang membingungkan?
Referensi
"Why Does Fasting Duration Vary in Different Regions? Explanation from a Theoretical Physics Professor at IPB University". IPB. Diakses pada Februari 2026.
"Ramadan 2026 Fasting Hours Vary Worldwide, From 11 to 15 Hours". Jakarta Globe. Diakses pada Februari 2026.
"Fasting in Countries Where The Day is Very Long or Very Short: A Study of Muslims in the Netherlands". Al Jamiah. Diakses pada Februari 2026.