Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Mengapa Durasi Puasa Ramadan Berbeda di Setiap Negara?
ilustrasi ramadan (vecteezy.com/Abdulah Ajis)
  • Durasi puasa Ramadan berbeda di tiap negara karena dipengaruhi posisi geografis terhadap garis khatulistiwa, yang menentukan panjang siang dan malam melalui sudut penyinaran Matahari.
  • Kemiringan sumbu Bumi sekitar 23,5 derajat menyebabkan perubahan musim, sehingga lama siang dan malam bergeser setiap tahun dan memengaruhi panjang waktu puasa di berbagai wilayah.
  • Kalender Hijriah yang berbasis peredaran Bulan membuat Ramadan bergeser sekitar sebelas hari tiap tahun, menjadikan durasi puasa berubah sesuai musim dan posisi Matahari.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Ramadan selalu identik dengan perubahan jam makan, waktu tidur, hingga aktivitas, tetapi ada satu hal yang sering memicu rasa penasaran, yaitu durasi puasa yang ternyata tidak sama di setiap negara. Di Indonesia, waktu menahan lapar biasanya terasa normal sekitar belasan jam, sementara di beberapa wilayah lain durasinya bisa jauh lebih panjang atau justru lebih singkat.

Perbedaan ini bukan disebabkan faktor budaya atau kebiasaan lokal, melainkan berkaitan langsung dengan pergerakan Bumi dan posisi Matahari. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa Ramadan tidak hanya berkaitan dengan kalender Hijriah, tetapi juga terhubung dengan sistem kosmik yang bekerja secara presisi. Berikut penjelasan kenapa durasi puasa Ramadan bisa berbeda di berbagai belahan dunia.

1. Garis lintang menentukan panjang siang di tiap wilayah

ilustrasi siang hari (unsplash.com/Musandam Dhow Tours)

Letak suatu negara terhadap garis khatulistiwa memengaruhi lama penyinaran Matahari yang diterima setiap hari. Wilayah yang berada dekat khatulistiwa cenderung memperoleh durasi siang hampir sama sepanjang tahun karena sudut datang cahaya Matahari relatif konsisten. Sebaliknya, daerah yang semakin mendekati kutub mengalami variasi siang yang ekstrem, bahkan bisa mencapai belasan hingga puluhan jam.

Perbedaan ini terjadi karena bentuk Bumi yang bulat membuat sudut penyinaran Matahari tidak merata pada setiap garis lintang. Ketika Ramadan jatuh pada periode tertentu, negara di lintang tinggi bisa mengalami siang sangat panjang sehingga waktu puasa ikut memanjang. Kondisi ini juga menjelaskan mengapa beberapa kota di Eropa Utara dapat memiliki waktu puasa jauh lebih lama dibanding wilayah tropis. Dampak garis lintang terhadap durasi siang menjadi faktor paling langsung yang menentukan lama puasa.

2. Kemiringan sumbu Bumi memicu perubahan musim yang berpengaruh pada durasi siang dan malam

ilustrasi kemiringan sumbu Bumi (commons.wikimedia.org/Dna-webmaster)

Bumi tidak berdiri tegak saat mengelilingi Matahari, melainkan memiliki kemiringan sekitar 23,5 derajat. Kemiringan ini menyebabkan distribusi cahaya Matahari bergeser sepanjang tahun, sehingga muncullah pergantian musim di berbagai wilayah. Saat satu belahan Bumi condong ke arah Matahari, wilayah tersebut menerima penyinaran lebih lama.

Jika Ramadan terjadi saat belahan utara mengalami musim panas, waktu siang akan memanjang sehingga puasa berlangsung lebih lama. Sebaliknya, ketika periode Ramadan jatuh pada musim dingin, durasi siang menjadi lebih pendek dan waktu puasa ikut berkurang. Kemiringan sumbu ini menjadikan variasi puasa tidak tetap dari tahun ke tahun. Faktor ini pula yang membuat durasi puasa di negara tertentu bisa berubah drastis dalam siklus beberapa tahun.

3. Posisi khatulistiwa menjaga durasi siang tetap seimbang

ilustrasi khatulistiwa (commons.wikimedia.org/Hawesthoughts)

Wilayah yang terletak tepat di sekitar garis khatulistiwa memiliki karakter unik karena menerima distribusi cahaya Matahari yang hampir stabil sepanjang tahun. Sudut penyinaran di daerah ini tidak banyak berubah, sehingga perbedaan panjang siang dan malam relatif kecil. Akibatnya, durasi puasa di negara tropis cenderung konsisten dari tahun ke tahun.

Kondisi ini menjelaskan mengapa negara seperti Indonesia, Brasil, atau Kenya memiliki rentang waktu puasa yang hampir sama setiap Ramadan. Variasi waktu hanya dipengaruhi perubahan kecil posisi Matahari, bukan pergeseran musim ekstrem. Stabilitas tersebut membuat durasi puasa di wilayah khatulistiwa jarang mengalami lonjakan drastis. Fenomena ini menjadi contoh bagaimana posisi geografis dapat memengaruhi pengalaman Ramadan secara langsung.

4. Rotasi Bumi menentukan waktu terbit dan terbenam Matahari

ilustrasi rotasi Bumi (commons.wikimedia.org/Foonarres)

Bumi berputar pada porosnya setiap sekitar 24 jam, dan rotasi ini menjadi penyebab utama pergantian siang dan malam. Saat suatu wilayah menghadap Matahari, terjadilah siang hari, sedangkan ketika berbalik arah, wilayah tersebut memasuki malam. Waktu terbit dan terbenam Matahari yang berbeda di tiap lokasi muncul karena posisi Bumi yang terus bergerak.

Rotasi ini menentukan momen fajar dan magrib yang menjadi patokan awal serta akhir puasa. Meski semua wilayah mengalami rotasi yang sama, posisi geografis membuat waktu matahari terbit tidak seragam. Karena itu, dua kota dalam satu negara pun bisa memiliki durasi puasa berbeda beberapa menit. Mekanisme rotasi menjadi dasar harian yang mengatur panjang waktu puasa di seluruh dunia.

5. Kalender Hijriah membuat Ramadan bergeser setiap tahun

ilustrasi kalender hijriah (commons.wikimedia.org/مشاري محمد بن خنين)

Ramadan mengikuti kalender Hjiriah yang berbasis siklus Bulan, bukan kalender Matahari. Satu tahun di kalender ini lebih pendek sekitar sebelas hari dibanding tahun solar, sehingga Ramadan terus bergeser lebih awal setiap tahun dalam kalender Masehi. Pergeseran ini membuat Ramadan bisa jatuh pada musim berbeda dalam siklus beberapa dekade.

Akibatnya, durasi puasa di suatu negara tidak selalu sama setiap tahun karena posisi musim terus berubah. Negara di lintang tinggi bisa mengalami puasa panjang pada satu periode, lalu jauh lebih pendek beberapa tahun kemudian. Siklus pergeseran ini menunjukkan bahwa faktor waktu juga berperan besar dalam variasi durasi puasa. Kombinasi kalender Hijirah dan sistem astronomi Bumi menciptakan dinamika waktu puasa yang unik di seluruh dunia.

Durasi puasa yang berbeda di setiap negara sebenarnya merupakan hasil kerja sistem astronomi yang saling berkaitan, mulai dari garis lintang hingga pergerakan Bumi terhadap Matahari. Ramadan pun menjadi momen yang secara tidak langsung memperlihatkan bagaimana posisi planet memengaruhi aktivitas manusia sehari-hari. Setelah memahami mekanismenya, apakah perbedaan durasi puasa masih terasa sebagai hal yang membingungkan?

Referensi

"Why Does Fasting Duration Vary in Different Regions? Explanation from a Theoretical Physics Professor at IPB University". IPB. Diakses pada Februari 2026.

"Ramadan 2026 Fasting Hours Vary Worldwide, From 11 to 15 Hours". Jakarta Globe. Diakses pada Februari 2026.

"Fasting in Countries Where The Day is Very Long or Very Short: A Study of Muslims in the Netherlands". Al Jamiah. Diakses pada Februari 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team