Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Orbit LEO Terancam Sesak, BRIN Desak Tata Kelola Antariksa
Ilustrasi satelit buatan di sekitar Bumi (commons.wikimedia.org/NASA image)
  • BRIN menilai kepadatan satelit di orbit rendah Bumi sudah mendesak dan berisiko bagi ekosistem antariksa Indonesia, terutama menjelang rencana pembangunan spaceport nasional.
  • Melalui Kolokium Series #7, BRIN mendorong perubahan paradigma pada desain, kebijakan, dan operasi satelit, termasuk pemantauan objek antariksa, mitigasi sampah, serta deorbit.
  • BRIN menekankan perlunya standar keselamatan, data lintasan transparan, manuver antitab­rakan, regulasi berbasis riset, dan keterlibatan internasional untuk menjaga keberlanjutan ruang angkasa.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jumlah satelit di orbit rendah Bumi (Low Earth Orbit/LEO) kini menjadi perhatian serius para peneliti antariksa dunia. Peneliti Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN, Ery Fitrianingsih mengungkapkan bahwa isu kepadatan orbit LEO bukan lagi sekadar wacana akademis, melainkan urgensi mendesak bagi masa depan ekosistem antariksa Indonesia.

Hal ini juga berkesinambungan dengan kesiapan negara kita yang tengah merencanakan pembangunan Bandar Antariksa (Spaceport) nasional. Untuk itu, diperlukan kesadaran bersama dalam menghadapi tantangan tersebut.

Melalui Pusat Riset Teknologi Satelit, BRIN menggelar Kolokium Series #7 bertema “Surviving a Congested LEO Future: A Paradigm Shift for Sustainable Space Operations”.

Mengetahui tantangan orbit LEO di masa depan

Tujuan utama dari kolokium ini adalah membangun kesadaran bersama mengenai tantangan orbit LEO di masa depan. BRIN sebagai pelaku sektor keantariksaan perlu mengubah paradigma secara mendasar di seluruh aspek yang saling berkaitan, mulai dari teknis perancangan, kebijakan, hingga operasional harian.

Ery menjelaskan bahwa kolokium ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi berbagai pemangku kepentingan dalam ekosistem keantariksaan.

Bagi peneliti, forum ini menjadi sarana untuk memperkuat kapasitas riset internal, khususnya di bidang Space Situational Awareness (SSA), pemantauan objek antariksa, pengembangan desain satelit ramah lingkungan (eco-design), serta teknologi mitigasi sampah antariksa dan deorbit satelit.

Hal yang menjadi sorotan

ilustrasi satelit pengindraan jauh (unsplash.com/NASA Hubble Space Telescope)

Bagi kalangan akademisi, isu kepadatan orbit Bumi rendah diharapkan dapat mendorong pengembangan kurikulum dan riset terapan di bidang sains maupun hukum keantariksaan.

Hasil kajian tersebut juga diharapkan dapat menjadi masukan berbasis bukti ilmiah dalam penyusunan regulasi keantariksaan nasional yang selaras dengan prinsip tata kelola antariksa global.

Mereka menyoroti standar keselamatan antariksa yang tinggi, penyediaan data lintasan satelit secara transparan dan real-time, penerapan manuver penghindaran tabrakan, serta perencanaan deorbit yang matang.

Pentingnya menjaga ekosistem

Kepala Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN, Wahyudi Hasbi menegaskan bahwa kepemilikan spaceport dan kemandirian teknologi satelit harus diimbangi dengan tanggung jawab menjaga ruang angkasa yang bersih.

“Orbit LEO adalah sumber daya bersama yang terbatas. Jika Indonesia ingin menjadi pemain kunci dalam industri antariksa global melalui pembangunan spaceport, kita juga harus siap menjadi bagian dari solusi menjaga keberlanjutan ruang angkasa,” ujarnya.

Pentingnya kesadaran bersama dalam menjaga ekosistem antariksa Indonesia turut ditekankan oleh Kepala Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa BRIN, Robertus Heru Triharjanto.

“Selain mengembangkan kapasitas pemantauan objek antariksa dan satelit yang andal, BRIN berkomitmen aktif dalam forum-forum internasional yang membahas tata kelola ruang angkasa yang berkelanjutan. Kolokium ini menjadi langkah penting untuk menyatukan visi nasional sebelum kita melangkah lebih jauh dalam pemanfaatan antariksa dan pengoperasian spaceport di tanah air,” Robertus mengatakan.

Curated For You

Editorial Team

Related Article