“BMKG memprediksi fenomena El Nino akan terus bertahan hingga awal tahun 2027 dengan peluang intensitas mencapai kategori moderat sebesar 98 persen dan kategori kuat sebesar 62 persen, namun demikian dampaknya untuk wilayah Indonesia ketika bertemu periode musim kemarau hingga pertengahan Oktober,” kata Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan.
El Nino Sangat Kuat Mengancam Kemarau Panjang dan Karhutla

- BMKG memperkirakan El Nino sangat kuat berpeluang 75 persen dan berlangsung setidaknya hingga awal 2027, membuat kemarau Indonesia lebih kering serta panjang hingga pertengahan Oktober 2026.
- Puncak kemarau diprediksi terjadi pada Juli–September, sehingga masyarakat dan sektor terdampak perlu mengantisipasi ketersediaan air, kesehatan, pangan, sumber daya air, serta operasional energi.
- BMKG, pemerintah daerah, dan pemangku kepentingan memperkuat kesiapsiagaan kekeringan serta karhutla, termasuk pencegahan melalui Operasi Modifikasi Cuaca yang dilaksanakan sesuai dinamika atmosfer.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menganalisis fenomena El Nino akan berlangsung setidaknya hingga awal 2027, kategori sangat kuat dengan peluang 75 persen. Hal ini berdasarkan perhitungan mereka di pertengahan Juli 2026.
Mereka juga memprediksi puncak musim kemarau di Indonesia terjadi pada Juli–September. Kondisi ini harus mulai diantisipasi seluruh lapisan masyarakat untuk memastikan ketersediaan air, kondisi kesehatan, serta kebutuhan multisektor yang terdampak dapat terkendali.
Membuat kemarau lebih kering
El Nino yang sangat kuat berdampak langsung terhadap berkurangnya curah hujan di sebagian besar Tanah Air setidaknya hingga Oktober 2026.
Adanya peluang El Nino juga membuat musim kemarau kali ini diprediksi lebih kering dan lebih panjang dibanding rata-rata normalnya. Kondisi ini memerlukan penyesuaian ekstra.
Rekomendasi BMKG di musim kemarau

Dalam menghadapi puncak musim kemarau, BMKG rekomendasikan kepada pelaku sektor pangan untuk menyesuaikan jadwal tanam dan memilih varietas tanaman yang membutuhkan lebih sedikit air, lebih tahan kekeringan, serta memiliki siklus tanam yang lebih pendek.
Sementara bagi sektor sumber daya air, dapat melakukan revitalisasi waduk, memperbaiki jaringan distribusi air, serta memastikan ketersediaan air untuk kebutuhan masyarakat.
BMKG turut mengimbau pelaku sektor energi untuk memastikan kapasitas air bendungan untuk operasional PLTA. Kemudian, pemerintah daerah diharapkan menyiapkan mekanisme respons cepat untuk antisipasi memburuknya kualitas udara yang berpotensi memicu ISPA.
Pencegahan karhutla juga diprioritaskan
Dengan kondisi iklim yang kering, kesiapsiagaan terhadap potensi kekeringan dan kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) perlu ditingkatkan. BMKG bersama pemerintah daerah dan pemangku kepentingan berkoordinasi untuk memperkuat pencegahan karhutla, salah satunya melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Plt. Deputi Bidang Meteorologi, Andri Ramdhani, menegaskan bahwa pelaksanaan OMC dilakukan secara situasional dengan menyesuaikan dinamika atmosfer yang sedang aktif dalam skala jam hingga 10 hari.
Informasi pemutakhiran prediksi iklim ini diharapkan dapat menjadi referensi terkini bagi para pemangku kepentingan dalam menyusun langkah antisipasi lanjutan dan penguatan strategi adaptasi, khususnya pada sektor-sektor yang sensitif terhadap variabilitas iklim.




















