Potret sapi perah (pexels.com/Matthias Zomer)
Apabila susu berlarut-larut dibiarkan menumpuk tanpa dikeluarkan, tubuh sapi lama-lama menganggap masa memproduksi susu sudah diakhiri. Proses ini dikenal sebagai involusi kelenjar susu, yakni fase ketika jaringan ambing beralih dari kondisi aktif memproduksi menuju fase istirahat. Berdasarkan penelitian (Dado dkk., 2018), involusi mulai terpicu seusai penghentian pengeluaran susu, yang ditandai oleh kenaikan tekanan dalam ambing, penurunan sekresi, perubahan respons imun, sampai kematian sel-sel penghasil susu pada tahap lanjut. Respons ini sebenarnya alami, sebab tubuh sapi memang dirancang untuk menyesuaikan diri dengan kebutuhan.
Dalam praktik peternakan, fase berhenti produksi diatur dengan cermat. Peternak biasanya menyiapkan masa kering kandang secara bertahap supaya sapi tetap nyaman dan ambingnya tidak kaget. Jika penghentian terjadi mendadak di tengah masa produksi aktif, efeknya bisa cukup merepotkan. Bukan cuma mengganggu kondisi tubuh sapi, ritme laktasi berikutnya pun berpeluang ikut terdampak.
Susu pada sapi perah tidak dapat diperlakukan seenaknya, seolah bisa disimpan penuh di ambing tanpa konsekuensi. Begitu sapi perah susunya tidak dipanen setiap hari, yang dipertaruhkan tidak hanya volume susu, melainkan kenyamanan, kesehatan ambing, dan kestabilan produksi.