ilustrasi pesawat terbang perang (commons.wikimedia.org/whatsthatpicture)
Sejarah antraks gak berhenti sebagai endemi saja. Infeksi berbahaya ini justru dimanfaatkan sebagai salah satu bentuk senjata biologis saat agresi. Hal ini pertama kali dilakukan pada dekade awal 1900-an selama Perang Dunia I.
Sumber yang sama menyebutkan, ada bukti tentara Jerman menggunakan antraks untuk menginfeksi pakan dan ternak yang diperdagangkan ke Negara Sekutu. Hal ini menyebabkan kematian cukup tinggi pada 1917 dan 1918.
Bukan hanya itu, Jepang pun mengembangkan antraks sebagai senjata untuk disebarkan ke negara dudukannya. Selama program berlangsung, tercatat setidaknya ada 11 kota di China yang menjadi sasaran senjata ini. Penggunaannya, Jepang menyemprotkan bakteri tersebut ke rumah-rumah dari atas pesawat.
Eksperimen penggunaan antraks sebagai bioweapons pun dilakukan oleh Amerika Serikat dan Inggris Raya. Amerika Serikat sudah mempersiapkan 5 ribu bom dengan antraks untuk persiapan menghadapi Jerman.
Sementara, Inggris bersiap dengan percobaan di Pulai Gruinard, melansir Department of Epidemiology UCLA. Inggris menguji pelepasan antraks secara luas. Hasilnya, seluruh hewan uji coba mati. Pulau tersebut bahkan tidak boleh dikunjungi sampai 1986 sebelum akhirnya direndam selama setahun dan dinyatakan didesinfeksi.
Sejarah antraks terus berlangsung hingga kini. Sejumlah wabah terkait penyakit ini pernah terjadi. Salah satunya yang terbesar pada 1978. Wabah tersebut bahkan tidak terkendali hingga 1980-an, melansir studi dalam PeerJ.