Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mitos hingga Bahan Obat, Kenapa Sisik Trenggiling Diburu Sangat Masif?
potret trenggiling di alam liar (unsplash.com/Nomad Sabor)
  • Perburuan trenggiling berlangsung masif karena mitos pengobatan tradisional, meski sisiknya hanya keratin seperti kuku dan rambut serta tidak terbukti memiliki khasiat medis.
  • Harga sisik yang mencapai puluhan juta rupiah dan nilai pengiriman jutaan dolar membuat perdagangan trenggiling berkembang menjadi industri kejahatan transnasional.
  • Permintaan daging sebagai simbol status, disinformasi soal narkotika, serta sisik yang mudah diselundupkan memperparah perdagangan ilegal dan menguras populasi trenggiling liar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Di balik statusnya sebagai salah satu satwa paling dilindungi di dunia, trenggiling justru menanggung nasib tragis sebagai target utama sindikat kejahatan satwa liar global. Ribuan ton sisik trenggiling disita di berbagai pelabuhan dan perbatasan setiap tahunnya, menandakan skala perburuan liar yang berada pada tingkat amat kritis. Fenomena ini memicu ancaman kepunahan nyata bagi seluruh spesies trenggiling yang tersebar di wilayah Asia hingga Afrika.

Masifnya perburuan ini utamanya dipicu oleh kombinasi antara tingginya nilai ekonomi di pasar gelap dan mitos khasiat medis yang terlanjur mengakar kuat. Dalam beberapa pengobatan tradisional Asia, sisik hewan ini dipercaya dapat memperlancar asi, meredakan nyeri sendi, hingga mengobati penyakit fatal. Tragisnya, tingginya permintaan dan harga fantastis yang ditawarkan pasar gelap membuat perburuan tak kunjung surut, terlepas dari fakta ilmiah yang menegaskan bahwa sisik trenggiling tidak memiliki medis ajaib selain zat keratin biasa. Yuk, simak alasan utama kenapa sisik hewan ini selalu jadi incaran pemburu?

1. Mitos mendorong khasiat obat tradisional

ilustrasi trenggiling (unsplash.com/Studio Crevettes)

Perburuan masif terhadap trenggiling utamanya dipicu oleh kepercayaan tradisional yang menganggap sisiknya memiliki khasiat ajaib. Dalam pengobatan tradisional Tionghoa, sisik hewan ini dipercaya dapat menyembuhkan berbagai masalah kesehatan mulai dari melancarkan asi, meredakan nyeri sendi, hingga mengatasi penyakit berat seperti kanker.

Kepercayaan turun-temurun inilah yang menciptakan permintaan pasar gelap yang sangat tinggi dan mengancam keberadaan trenggiling di alam liar. Dilansir laman World Animal Protection, dari sudut pandang medis modern, seluruh klaim khasiat tersebut hanyalah mitos tanpa bukti ilmiah. Penelitian medis mengonfirmasi bahwa sisik trenggiling sepenuhnya terbuat dari keratin, zat yang sama persis dengan bahan pembentuk kuku dan rambut manusia.

2. Nilai ekonomi fantastis di pasar gelap

ilustrasi pasar gelap (unsplash.com/Evan Krause)

Perburuan liar trenggiling telah berkembang dari kejahatan lokal menjadi industri kejahatan transnasional yang sangat menguntungkan. Di pasar gelap, harga sisik trenggiling bisa melambung hingga puluhan juta rupiah. Mengingat satu ekor trenggiling memiliki hingga ratusan hingga seribu sisik, nilai ekonomi dari tiap individu satwa ini sangatlah menggiurkan bagi para pemburu liar dan jaringan pasar gelap.

Besarnya nilai ekonomis ini memicu perdagangan illegal dalam skala yang sangat masif. Tingginya perputaran uang yang mencapai jutaan dolar AS dari sekali pengiriman kontainer ini menjadikan sisik trenggiling sebagai salah satu komoditas paling bernilai tinggi di dunia.

3. Simbol status sosial dan gaya hidup

ilustrasi trenggiling (commons.wikimedia.org/Frendi Apen Irawan)

Beberapa negara di Asia seperti Tiongkok dan Vietnam telah menggeser fungsi produk trenggiling. Konsumsi daging trenggiling yang disajikan di restoran-restoran mahal kini dijadikan sebagai simbol status sosial, keagungan gaya hidup, hingga sarana memamerkan kekayaan. Tren gaya hidup mewah ini mendorong harga pasar trenggiling melambung sangat tinggi hingga menjadi salah satu komoditas termahal di pasar gelap.

Tingginya permintaan akan komoditas mewah ini berdampak fatal terhadap kelangsungan hidup trenggiling di alam liar. Dengan lebih dari 1 juta ekor trenggiling yang diperkirakan diburu dalam kurun waktu satu dekade terakhir, spesies trenggiling sangat sulit berkembang biak di penangkaran, perburuan liar untuk memenuhi gaya hidup elit ini terus menguras populasi alami mereka sangat drastis.

4. Isu penggunaan industri narkotika

ilustrasi trenggiling dengan narkotika (unsplash.com/Colin Davis)

Rumor yang berkembang bahwa sisik trenggiling sebagai bahan baku obat teralarang atau bahan industri farmasi sintetis terbukti murni disinformasi. Secara ilmiah, sisik trenggiling hanya terdiri dari keratin. Isu keliru ini sengaja dimanfaatkan dan disebarkan oleh jaringan kejahatan untuk menciptakan permintaan baru di pasar gelap, khususnya di kawasan Asia Tenggara dan Amerika Serikat.

Akibatnya, ancaman terhadap kepunahan trenggiling semakin meningkat pesat, padahal satwa ini sudah sangat terancam akibat perburuan liar untuk pengobatan tradisional. Mitos industri narkotika ini memberi tekanan tambahan yang membahayakan populasi trenggiling di alam liar.

5. Sifat sisik yang mudah disimpan dan diselundupkan

potret sisik trenggiling (commons.wikimedia.org/Rachad sanoussi)

Investigasi penyamaran seperti di Laos, mengungkap bahwa jaringan kejahatan terorganisir di Laos memanfaatkan toko rokok, mi, hingga pusat kebudayaan. Dilansir laman The Guardian, di balik pajangan barang biasa, oknum menyembunyikan sisik trenggiling, tulang harimau, hingga empedu beruang yang dilarang keras secara internasional.

Produk-produk ini dijual sebagai obat tradisional klaim yang tidak memiliki bukti ilmiah sama sekali serta simbol status sosial. Peningkatan perdagangan illegal ini didorong oleh infrastruktur kereta api cepat. Kemudahan dan murahnya akses transportasi memicu lonjakan turis dengan anggaran terbatas dari Tiongkok ke Laos. Sindikat kejahatan memanfaatkan celah ini dengan mengorganisir paket tur murah, lalu memaksa dan mengarahkan para turis untuk membeli komoditas satwa liar illegal melalui transaksi digital.

Masifnya perburuan trenggiling dipicu oleh kombinasi faktor tradisional dan disinformasi modern. Meskipun pengujian laboratorium forensik telah berkali-kali membuktikan bahwa sisik trenggiling hanyalah zat keratin tanpa kandungan medis maupun psikoaktif, klaim palsu ini terus dilestarikan oleh oknum kejahatan demi meraup keuntungan finansial. Tragisnya, satwa unik yang tidak berbahaya ini harus menanggung konsekuensi fatal akibat persepsi keliru yang terus dipelihara di pasar gelap.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article