ilustrasi ikan mati (unsplash.com/Clay Knight)
Kematian ikan dapat terjadi ketika perubahan kondisi sungai berlangsung cukup parah. Paparan abu dalam jumlah besar dapat terjadi bersamaan dengan perubahan pH, gangguan pada insang, berkurangnya oksigen, serta terganggunya sumber makanan. Kombinasi beberapa kondisi tersebut membuat ikan jauh lebih sulit bertahan dibandingkan dengan ketika hanya menghadapi satu perubahan lingkungan.
Jika yang terjadi pada ikan saat abu vulkanik masuk sungai adalah kematian, maka belum tentu penyebabnya hanya satu zat tertentu dari abu. Kondisi air secara keseluruhan dapat berubah setelah material vulkanik masuk dalam jumlah besar. Jika ditemukan banyak ikan mati setelah erupsi, sebaiknya ikan tersebut tidak langsung dikonsumsi karena penyebab kematiannya belum tentu diketahui dan kualitas air di lokasi juga sedang mengalami perubahan.
Dampak abu vulkanik terhadap sungai memang bisa berbeda tergantung pada jumlah material yang masuk dan kondisi air. Sungai dengan aliran deras mungkin lebih cepat membawa material ke tempat lain, sementara sungai dengan aliran lebih lambat dapat mengalami pengendapan yang lebih banyak. Karena itu, pemulihan ekosistem perairan juga tidak selalu berlangsung dalam waktu yang sama setelah erupsi.
Referensi
"Volcanic ash in the water column: Physiological impact on the suspension-feeding bivalve Mytilus chilensis." Marine Pollution Bulletin. Diakses pada September 2026.
"Effects of the volcanic ash that has fallen on our lakes and rivers?" Faraway Fly Fishing. Diakses pada September 2026.