ilustrasi sesak napas (pexels.com/cottonbro studio)
Menurut jurnal yang ditulis oleh David Egilman, dkk., berjudul "Popcorn-worker Lung Caused by Corporate and Regulatory Negligence: An Avoidable Tragedy" (2013), dalam International Journal of Occupational and Environmental Health, pada awal abad ini, karyawan pabrik popcorn microwave menderita penyakit yang dijuluki popcorn lung. Ini adalah penyakit serius yang menyebabkan jaringan parut permanen di paru-paru, mengakibatkan batuk, sesak napas, dan mengi. Diketahui bahwa menghirup diasetil—bahan kimia rasa mentega yang digunakan pada popcorn—adalah penyebabnya.
Alhasil, beberapa produsen popcorn rumahan di AS menghilangkan diasetil dari produk mereka pada tahun 2007 dan menggantinya dengan asetil propionil (2,3 pentanedion). Namun, asetil propionil juga terbukti menyebabkan cedera saluran pernapasan yang parah jika dihirup. Diasetil dan asetil propionil pun menjadi kontroversial karena, meskipun menyebabkan masalah kesehatan serius jika dihirup, keduanya "umumnya dianggap aman" untuk dikonsumsi oleh FDA, menurut National Institute for Occupational Safety and Health.
Hal ini karena keduanya merupakan bahan kimia yang terjadi secara alami dalam makanan dan reaksi kimia selama proses pembuatan kue. Oleh karena itu, keduanya masih digunakan dalam makanan olahan. Sementara itu, NIOSH merekomendasikan pembatasan paparan zat kimia terhadap pekerja hingga 5 bagian per miliar untuk diasetil dan 9,3 bagian per miliar untuk asetil propionil selama 8 jam kerja.
Meskipun mengonsumsinya dianggap aman, zat kimia ini menimbulkan risiko inhalasi yang parah ketika digunakan dalam produk seperti semprotan minyak goreng dan menjadi partikel di udara. Dikutip Newsweek, bahkan hakim memberikan ganti rugi sebesar 25 juta dolar AS atau setara dengan Rp442 miliar pada Februari 2026 kepada seorang laki-laki yang menggugat Conagra Brands pada tahun 2020. Ia mengklaim terpapar diasetil, asetil propionil, dan zat kimia berbahaya serupa saat menggunakan produk Pam sejak tahun 1993. Hal ini menyebabkan kerusakan pada sistem pernapasannya dan masalah paru-paru lainnya. Meskipun Conagra berdalih telah menghilangkan diasetil dari produknya pada tahun 2009, tapi perusahaan tersebut tidak bisa memberikan cukup bukti.