Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

3 Fenomena Langit Januari 2026, Ada Oposisi Jupiter

ilustrasi langit malam dan lampu kota (pexels.com/Hudson McDonald)
ilustrasi langit malam dan lampu kota (pexels.com/Hudson McDonald)
Intinya sih...
  • Oposisi Jupiter (6 Januari): Jupiter berada pada jarak terdekat dengan Bumi, tampak besar dan terang di langit malam.
  • Konjungsi Bulan dan Antares (15 Januari): Bulan berpapasan sangat dekat dengan Antares, menciptakan pemandangan langit yang kontras.
  • Okultasi Beta Tauri oleh Bulan (29 Januari): Elnath akan menghilang di balik piringan Bulan dan muncul kembali beberapa waktu kemudian.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Langit bulan Januari 2026 menawarkan beragam fenomena menarik yang bisa disaksikan baik oleh pengamat kasual maupun pecinta astronomi. Dengan cuaca yang cenderung lebih cerah di sebagian wilayah Indonesia, bulan ini bisa menjadi waktu yang tepat untuk menikmati keindahan keindahan langit tanpa teleskop.

Dari oposisi Jupiter hingga Okultasi Beta Tauri oleh Bulan, bulan ini menyimpan banyak momen yang patut dinantikan oleh para pengamat langit. Melansir laman Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan sumber lainnya, berikut 3 fenomena langit bulan Januari 2026.

1. Oposisi Jupiter (6 Januari)

Oposisi Jupiter pada 6 Januari menjadi salah satu fenomena langit paling menarik di awal tahun 2026 karena menandai momen ketika planet terbesar di Tata Surya berada pada jarak terdekatnya dengan Bumi. Pada saat ini, Jupiter berjarak sekitar 4,23 SA dengan diameter piringan mencapai 45,6 detik busur, membuatnya tampak besar dan sangat terang di langit malam.

Berada di rasi Gemini dengan kecerlangan sekitar -2,7 magnitudo, Jupiter dapat diamati sejak Matahari terbenam hingga menjelang fajar. Kondisi ini juga ideal untuk pengamatan menggunakan teleskop kecil, karena pengamat berkesempatan melihat satelit-satelit Galilean yang tampak berjejer mengitari planet raksasa tersebut.

2. Konjungsi Bulan dan Antares (15 Januari)

ilustrasi bulan (pexels.com/Doğan Alpaslan)
ilustrasi bulan (pexels.com/Doğan Alpaslan)

Pada 15 Januari, Bulan akan berpapasan sangat dekat dengan Antares, bintang paling terang di rasi Scorpius, dengan jarak sudut hanya sekitar 1°. Fenomena ini dapat diamati menjelang fajar, ketika Antares terbit pada 02:27 WIB dan Bulan menyusul hanya satu menit kemudian.

Kedekatan Bulan dan Antares akan menciptakan pemandangan langit yang kontras, mempertemukan cahaya putih kekuningan Bulan dengan warna kemerahan khas Antares. Meski keduanya relatif rendah di horizon timur, peristiwa ini tetap menarik untuk diamati dengan mata telanjang maupun menggunakan binokular dari lokasi yang memiliki pandangan timur terbuka.

3. Okultasi Beta Tauri oleh Bulan (29 Januari)

Fenomena langit yang lebih jarang terjadi hadir pada 29 Januari, ketika Bulan berpapasan sangat dekat hingga mengokultasi Beta Tauri (Elnath), bintang terang di rasi Taurus. Pada peristiwa ini, Elnath akan tampak menghilang di balik piringan Bulan dan muncul kembali beberapa waktu kemudian.

Proses masuknya Elnath ke balik Bulan terjadi sekitar 15:52 WIB dan tidak dapat disaksikan dari Indonesia karena masih berlangsung sebelum Matahari terbenam. Namun, pengamat di Indonesia bagian tengah dan timur berpeluang menyaksikan kemunculan kembali Elnath dari balik Bulan setelah Matahari terbenam.

Sementara itu, pengamat di Indonesia bagian barat hanya dapat menikmati momen papasan dekat Bulan dan Elnath di langit malam, sebelum keduanya terbenam berurutan pada dini hari.

Januari 2026 menawarkan beragam fenomena langit yang menarik, mulai dari oposisi Jupiter hingga Okultasi Beta Tauri oleh Bulan. Ini adalah waktu yang ideal untuk menikmati keindahan langit malam.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Achmad Fatkhur Rozi
EditorAchmad Fatkhur Rozi
Follow Us

Latest in Science

See More

7 Misi Luar Angkasa 2025, Ada dari NASA hingga SpaceX

06 Jan 2026, 19:06 WIBScience