Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bagaimana Cara Membuat Hujan Buatan? Ternyata Begini Prosesnya
ilustrasi hujan dan petir di kejauhan (unsplash.com/Raychel Sanner)

Peristiwa kebakaran hutan dan lahan atau karhutla masih terjadi di Kalimantan. Kasus terparah terjadi di Kalimantan Barat, dengan jumlah titik panas yang mencapai 1.836 titik dengan indikasi luas lahan terbakar mencapai 36.310 hektare. Jika melihat ke belakang, ini bukan pertama kalinya Kalimantan mengalami kebakaran hutan dan lahan besar-besaran. 

Keberadaan lahan gambut yang sangat luas dan kering selama musim kemarau menjadi salah satu penyebabnya. Situasinya diperparah dengan adanya praktik pembukaan lahan dengan cara pembakaran. Untuk memadamkan sejumlah titik api, sejumlah cara telah dilakukan, termasuk Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membuat hujan buatan. Namun, bagaimana kita bisa membuat hujan buatan? Berikut prosesnya!

1. Apa itu hujan buatan?

ilustrasi hujan di daerah yang mengalami kekeringan (unsplash.com/Osman Rana)

Penyemaian awan atau yang lebih dikenal dengan istilah hujan buatan merupakan teknik modifikasi cuaca. Sesuai dengan namanya, teknik ini mengubah cuaca secara artifisial dengan meningkatkan pembentukan kristal es di awan untuk menghasilkan hujan buatan atau bahkan salju. Dilansir Badan Riset dan Inovasi Nasional, biasanya teknik ini dilakukan untuk meningkatkan curah hujan di area yang mengalami kekeringan, mendukung produktivitas pertanian, hingga memastikan warga di suatu daerah memiliki pasokan air yang cukup.

Upaya untuk membuat hujan buatan sendiri pertama kali dilakukan pada 1940. Dua peneliti berkebangsaan Amerika Serikat, Vincent Schaefer dan Bernard Vonnegut, menemukan bahwa dengan memasukkan bahan kimia tertentu dapat memicu terjadinya proses jatuhnya materi air dari atmosfer ke permukaan Bumi alias presipitasi. Di Indonesia sendiri, proyek hujan buatan dimulai sejak 1977. Awalnya, proyek ini digunakan untuk mendukung sektor pertanian. Namun, kini, hujan buatan lebih sering digunakan untuk mitigasi bencana, seperti memadamkan kebakaran hutan dan lahan yang kerap terjadi di Indonesia. 

2. Bagaimana cara membuat hujan buatan?

ilustrasi seseorang sedang berjalan di tengah hujan (unsplash.com/Jon Sailer)

Penyemaian awan atau hujan buatan dilakukan dengan menyuntikkan zat, seperti perak iodida, kalium iodida, karbon dioksida padat, propana cair, atau garam ke dalam awan. Dengan memasukkan zat-zat tertentu ke dalam awan, kita dapat merangsang pembentukan kristal es. Ketika kristal es sudah semakin berat, mereka akan jatuh ke Bumi sebagai tetesan air hujan atau salju. Dilansir laman Greenly, proses pelepasan zat ini sebenarnya bisa dilakukan dengan menggunakan mekanisme penyebaran berbasis darat, seperti generator. Namun, kebanyakan justru dilakukan dengan menggunakan pesawat terbang karena dianggap lebih efektif.

Dengan teknologi yang ada saat ini, metode untuk menciptakan hujan buatan pun menjadi lebih beragam. Kini, terdapat tiga metode yang bisa dilakukan. Pertama, ada penyemaian statis dengan pesawat terbang menyemprotkan larutan kimia perak iodida ke bagian awan yang lebih hangat untuk membentuk lebih banyak kristal es. Metode kedua dikenal dengan penyemaian dinamis, yang biasanya dilakukan untuk menghasilkan curah hujan yang lebih besar. Terakhir, ada penyemaian higroskopis yang merupakan metode terbaru. Namun, alih-alih menggunakan perak iodida, pesawat justru akan melepaskan garam ke bagian bawah kanopi awan menggunakan suar atau peledak.

3. Mengapa hujan buatan gak bisa dilakukan sembarangan?

ilustrasi awan hujan di kejauhan (magnific.com/ededchechine)

Mengingat manusia sudah bisa menciptakan hujan buatan, rasanya pasti menyenangkan kalau kita bisa melakukannya saat cuaca mulai terasa panas. Meski secara teori terdengar sederhana, kenyataannya proses menciptakan hujan buatan gak selalu semudah yang dibayangkan. Dilansir laman SWI swissinfo.ch, faktanya gak semua awan bisa diubah menjadi awan hujan.

Untuk menciptakan hujan buatan, awan harus sudah memiliki kelembaban dan uap air yang cukup. Sayangnya, awan seperti itu agak sulit untuk ditemukan, terutama di daerah yang memang kering. Untuk menghasilkan hujan buatan, awan kumulonimbus atau yang juga dikenal sebagai awan badai merupakan jenis yang paling ideal untuk menciptakan hujan buatan. Selain itu, jenis awan lainnya yang bisa digunakan adalah nimbostratus, awan rendah berwarna gelap dan tebal yang juga dikenal sebagai awan hujan.

Menciptakan hujan buatan memang bisa menjadi solusi terbaik untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan yang banyak terjadi saat ini. Namun, mengingat setiap daerah memiliki kondisi cuaca yang berbeda, solusi ini gak bisa diterapkan di semua tempat. Terakhir, hujan buatan jelas gak bisa dijadikan solusi jangka panjang untuk mengatasi kebakaran yang kerap terjadi. Alih-alih memadamkan, pencegahan karhutla tetap menjadi solusi terbaik agar kebakaran gak terjadi setiap tahunnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

EditorYudha ‎

Related Article