7 Penyakit Kucing yang Harus Segera Ditangani Dokter Hewan, Bahaya!

Kucing sering menyembunyikan rasa sakit sehingga pemilik harus selalu peka terhadap perubahan perilaku mereka.
Tujuh penyakit berbahaya yang mengancam nyawa kucing antara lain gagal ginjal, FIV, diabetes, leukemia, rabies, FIP, dan hipertiroidisme.
Pencegahan terbaik dapat dilakukan dengan memberikan makanan sehat, rutin berobat dan vaksinasi ke dokter hewan, serta menjauhkan kucing dari hewan liar.
Selama ini, kucing dikenal sebagai hewan yang tangguh. Mereka kerap bergerak lincah sehingga tampak baik-baik aja. Nyatanya, sama seperti kita, seekor kucing juga bisa sakit, lho! Bukan sakit yang biasa, kucing juga bisa menderita penyakit serius.
Sedihnya, kita sebagai pemilik kadang gak menyadari hal tersebut. Padahal, beberapa penyakit pada kucing justru membutuhkan penanganan cepat sebelum kondisi mereka semakin membahayakan, bahkan bisa berujung pada kematian. Berikut beberapa penyakit kucing yang harus segera ditangani dokter hewan. Bisa fatal kalau sampai terlambat!
1. Penyakit gagal ginjal

ilustrasi kucing hitam berbulu panjang (unsplash.com/Stefan Ivanov) Penyakit gagal ginjal merupakan penyebab kematian nomor satu bagi kucing. Meski penyakit gagal ginjal dapat menyerang semua ras dan kucing dari segala usia, penyakit ini lebih umum ditemukan pada kucing yang berusia 7 tahun ke atas atau kucing berbulu panjang seperti kucing persia. Pada kucing, penyakit gagal ginjal terjadi dalam dua jenis, yaitu gagal ginjal akut dan gagal ginjal kronis. Gagal ginjal akut sering kali menyebabkan penurunan fungsi ginjal secara tiba-tiba, sedangkan gagal ginjal kronis menyebabkan penurunan fungsi ginjal secara progresif.
Penyakit ini ditandai dengan sejumlah gejala, termasuk sering buang air kecil, peningkatan rasa haus, mual, muntah, dehidrasi, sembelit, kehilangan nafsu makan, penurunan berat badan, hingga bau mulut, dan air liur berlebihan. Kabar buruknya, penyakit gagal ginjal pada kucing gak bisa diobati. Sebagai gantinya, dokter akan menyarankan penyesuaian pola makan, pengobatan, dan terapi hidrasi yang dapat membantu kucing untuk hidup lebih lama.
2. Feline immunodeficiency virus (FIV)

ilustrasi kucing berbaring di jalan (unsplash.com/Ludemeula Fernandes) Bisa dibilang, FIV merupakan AIDS versi kucing. Disebut demikian karena penyakit FIV memiliki beberapa kemiripan dengan AIDS. Pertama, FIV biasanya menyebar melalui luka gigitan. Kedua, virus ini juga melemahkan sel-sel pada sistem kekebalan tubuh sehingga kucing mudah terserang penyakit serius, termasuk kanker. Satu hal yang berbahaya ialah virus ini diklasifikasikan sebagai virus lambat.
Itu artinya, kucing yang sudah terinfeksi bisa terlihat normal selama bertahun-tahun tanpa menyadari bahwa virus sedang melemahkan sistem kekebalan tubuh mereka secara perlahan. Kabar baiknya, meski obat untuk menyembuhkan FIV ini belum ditemukan, tetapi ada beberapa cara yang bisa dilakukan guna meminimalkan risiko terkena penyakit ini, mulai dari menjaga mereka tetap berada di dalam rumah, menjauhkan dari kucing liar, melakukan sterilisasi, hingga melakukan vaksinasi secara teratur setiap tahunnya.
3. Diabetes

ilustrasi kucing oranye (unsplash.com/Shubham Wankhede) Ternyata bukan hanya manusia yang bisa kena diabetes, kucing juga bisa. Terdapat dua tipe diabetes yang bisa diderita oleh kucing. Diabetes tipe 1 disebabkan karena kekurangan insulin, sedangkan diabetes tipe 2 justru terjadi karena ada resistensi terhadap insulin. Dibandingkan dengan diabetes tipe 1, diabetes tipe 2 lebih umum terjadi.
Umumnya, penyakit ini menyerang kucing yang sudah berusia lanjut, mengalami obesitas, atau sering mengonsumsi makanan tinggi karbohidrat. Pada kucing, diabetes ditandai dengan sejumlah gejala, seperti peningkatan minum dan buang air kecil, nafsu makan meningkat, penurunan berat badan, kondisi mantel yang buruk, pincang pada tungkai belakang, serta infeksi saluran kemih. Pada kasus yang lebih serius, gejala yang muncul bisa lebih parah seperti, lesu hingga pingsan, muntah, diare, dan ketidakmampuan untuk makan.
4. Leukimia

ilustrasi anak-anak kucing di dalam keranjang (unsplash.com/Jari Hytönen) Diabetes bukan satu-satunya penyakit manusia yang ditemukan pada kucing. Pasalnya, selain diabetes, kucing ternyata juga bisa menderita leukimia. Bedanya pada kucing, kanker sel darah putih disebabkan oleh virus yang menyebar melalui air liur, cairan hidung, dan urine. Kucing yang sakit dapat menularkan virus ke kucing sehat melalui mangkuk makan bersama atau perkelahian. Lebih bahaya lagi, induk kucing juga bisa menularkan penyakit ini kepada anak-anak yang dikandung.
Pada beberapa kasus, kucing akan langsung sakit ketika tertular virus ini. Namun, dalam kasus lain, gejala penyakit justru muncul setelah beberapa minggu atau bahkan bertahun-tahun setelah penularan. Gejalanya sendiri cukup umum, yakni demam, lesu, penurunan berat badan, nafsu makan berkurang, hingga infeksi berulang. Sayangnya, leukimia termasuk salah satu penyakit yang fatal bagi kucing. Bahkan, setelah melakukan kemoterapi, rata-rata kucing hanya mampu bertahan kurang dari 1 tahun.
5. Rabies

ilustrasi kucing sedang bermain dengan anjing (unsplash.com/Krista Mangulsone) Selama ini, banyak orang mengira kalau rabies hanya menyerang anjing. Kenyataannya, kucing justru lebih rawan terkena rabies ketimbang anjing. Naluri berburu kucing dan sifat ingin tahu mereka yang tinggi membuat kucing lebih sering berinteraksi dengan hewan lain. Gak menutup kemungkinan, salah satu hewan itu terinfeksi rabies. Virus rabies menyebar melalui gigitan atau air liur dari hewan yang terinfeksi.
Begitu memasuki tubuh kucing, virus akan menyerang sistem saraf, sumsum tulang belakang, hingga otak kucing. Gejala yang muncul pun cukup mudah dikenali, yakni demam, penurunan berat badan, hiperaktif, kejang, mengeluarkan air liur berlebihan, hingga menjadi lebih agresif. Pada kucing rabies berakibat fatal. Lebih berbahaya lagi, virus ini juga bisa menyebar dan menyebabkan kematian pada manusia. Satu-satunya cara untuk menjaga kucing dari rabies ialah dengan melakukan vaksinasi dan menjauhkan mereka dari hewan liar.
6. Feline infectious peritonitis (FIP)

ilustrasi anak kucing sedang duduk (unsplash.com/River Kao) Sekilas, nama penyakit ini mirip dengan penyakit kucing lain. Namun, penyakit-penyakit ini sebenarnya sangat berbeda. FIP disebabkan oleh Feline coronavirus (FCoV) yang ditularkan dari feses. Kabar baiknya, meski berasal dari keluarga yang sama, FCoV berbeda dengan COVID-19 yang sempat membuat dunia kuncitara beberapa tahun lalu. FCoV hanya menyerang hewan dan gak menyebar ke manusia.
Pada kucing, virus ini menyebabkan beragam gejala, seperti penurunan berat badan, lesu, demam, masalah pernapasan, hingga memengaruhi organ dalam kucing, seperti ginjal, hati, dan sistem saraf. FIP umumnya menyerang kucing yang berusia di bawah 2 tahun dan biasanya berakibat fatal. Sayangnya, meski vaksinasi untuk virus ini memang tersedia, banyak dokter hewan gak merekomendasikan vaksinasi karena bukti keberhasilan yang masih terbatas. Satu-satunya pengobatan yang bisa dilakukan ialah dengan melakukan perawatan paliatif dengan mengobati gejala sehingga kucing tetap merasa nyaman.
7. Hipertiroidisme

ilustrasi kucing sedang duduk (unsplash.com/Janan) Sesuai dengan namanya, hipertiroidisme disebabkan oleh produksi hormon tiroid yang berlebihan. Pada kucing, kondisi ini bisa jadi membahayakan karena produksi hormon tiroid yang berlebih dapat meningkatkan metabolisme kucing sekaligus memberikan tekanan pada sejumlah organ vital, seperti jantung, ginjal, dan hati. Dibandingkan dengan kucing yang masih kecil, penyakit ini lebih umum ditemukan pada kucing berusia lanjut.
Gejalanya meliputi muntah, diare, penurunan berat badan, peningkatan frekuensi buang air kecil, bulu kering, dan perubahan nafsu makan. Untungnya, hipertiroidisme bisa diobati. Terdapat tiga metode pengobatan yang dapat dilakukan, seperti pembedahan, penggunaan obat antitiroid, hingga terapi radioaktif. Meski begitu, terapi radioaktif menjadi pilihan populer karena risikonya yang rendah, tetapi memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi.
Salah satu fase paling berat bagi pemilik hewan peliharaan ialah saat melihat kucing atau hewan kesayangan sakit, terutama jika sakit yang diderita cukup kronis yang sulit untuk disembuhkan. Untuk itu, penting bagi pemilik hewan melindungi kucing kesayangan. Kamu perlu memastikan asupan makanan yang sehat, menjauhkan kucing dari hewan liar, hingga melakukan tes kesehatan dan vaksinasi secara teratur. Jangan lupa berkonsultasi dengan dokter hewan saat anabul menunjukkan gejala sakit, ya! Dengan begitu, kamu tahu apa yang harus kamu lakukan selanjutnya.





















