Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Danau Baru Muncul Usai Gletser Nepal Runtuh, Ancaman Banjir Susulan Mengintai
Banjir dan longsor di Nepal, ratusan orang masih hilang. (AFP/Prakash Mathema)
  • Keruntuhan gletser di Nepal dan Tibet memicu longsoran yang membendung aliran sungai dan membentuk dua danau baru.
  • Bendungan alami dari batu dan lumpur menahan 1,5 juta hingga 2 juta meter kubik air serta berisiko memicu banjir susulan.
  • Otoritas China memantau danau dengan survei udara, pemodelan 3D, citra satelit, dan rekaman drone.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
2019

Sebuah studi yang dikutip National Geographic menemukan 210 danau glasial yang berpotensi mengancam permukiman manusia melalui banjir bandang secara tiba tiba.

26 Agustus 2026

Bencana menerjang wilayah Nepal dan Tibet. Keruntuhan gletser memicu longsoran yang membendung aliran sungai dan membentuk dua danau baru.

selama tiga hari

Sekitar 3 juta meter kubik air lainnya diperkirakan dapat mengalir ke danau.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Dua danau baru terbentuk setelah keruntuhan gletser memicu longsoran dan membendung aliran sungai.
  • Who?
    Otoritas China, Kementerian Sumber Daya Air China, delapan teknisi, dan Pawan Bhattarai dari Tribhuvan University terlibat dalam pemantauan dan penjelasan risiko.
  • Where?
    Danau berada di sekitar perbatasan Nepal dan China, termasuk dekat pertemuan Sungai Chhochen Khola dan Purepu Tsangpo dalam sistem Sungai Lhende di Nepal.
  • When?
    Bencana di wilayah Nepal dan Tibet terjadi pada 26 Agustus 2026.
  • Why?
    Longsoran membawa batu, es, lumpur, dan puing ke sistem sungai hingga mempersempit atau menutup jalur drainase.
  • How?
    Otoritas China melakukan survei udara dan pemodelan tiga dimensi, serta menggunakan citra satelit dan rekaman drone untuk mengamati dua danau.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Gletser di Nepal runtuh lalu batu, es, dan lumpur menutup sungai. Air jadi berkumpul dan membuat dua danau baru. Danau itu dijaga oleh tumpukan batu dan lumpur yang tidak kuat. Otoritas China mengirim delapan teknisi memakai satelit, drone, dan gambar tiga dimensi untuk melihat danau.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pemantauan danau dengan survei udara, pemodelan tiga dimensi, citra satelit, dan rekaman drone memberi gambaran kondisi wilayah saat observasi darat sulit dilakukan. Langkah ini juga memungkinkan otoritas terus mengamati perubahan permukaan air serta kondisi bendungan alami di lokasi yang terpencil dan bercurah medan curam.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bencana yang menerjang wilayah Nepal dan Tibet pada 26 Agustus 2026 lalu masih menyisakan ketakutan bagi warga. Rentetan bencana tersebut tidak berhenti pada banjir pertama. Dilansir dari Al Jazeera, material batu, es, lumpur, dan puing yang dihasilkan oleh banjir turut membendung aliran sungai. Akibatnya terbentuklah danau baru di sekitar perbatasan Nepal dan China.

Kemunculan danau tersebut menjadi perhatian karena permukaan air terus meningkat, sementara bendungannya terbentuk secara alami dari material longsoran yang relatif tidak stabil. Jika penghalang itu terkikis atau jebol secara tiba-tiba, air yang tertahan dapat kembali mengalir deras ke wilayah hilir dan membawa material sedimen, sehingga menciptakan ancaman banjir susulan bagi masyarakat maupun tim penyelamat.

Fenomena di Nepal tersebut memperlihatkan risiko berantai yang dapat terjadi ketika gletser di kawasan pegunungan tinggi mengalami ketidakstabilan. Pemanasan global disebut sebagai salah satu faktor yang berkontribusi terhadap berbagai peristiwa keruntuhan gletser karena kenaikan temperatur mempercepat pencairan es, mendorong pembentukan danau glasial, dan meningkatkan ketidakstabilan kawasan pegunungan dengan kondisi geologi yang rapuh.

Dua danau baru terbentuk setelah gletser runtuh

potret wilayah pegunungan Himalaya, Nepal (commons.wikimedia.org/Vyacheslav Argenberg)

Para ilmuwan menemukan bahwa bencana tersebut menghasilkan bukan hanya satu, tetapi dua danau baru. Danau pertama terbentuk di kawasan yang lebih tinggi dekat gletser ketika air hasil pencairan terperangkap dan tidak dapat mengalir secara normal, sedangkan danau kedua yang berukuran lebih besar terbentuk di sungai wilayah Nepal setelah longsoran besar menutup lembah dan membendung aliran air.

Danau kedua berada di sekitar pertemuan Sungai Chhochen Khola dan Purepu Tsangpo dalam sistem Sungai Lhende di Nepal. Aliran dari kawasan tersebut kemudian terhubung dengan Sungai Bhotekoshi dan Trishuli yang membawa air ke arah selatan menuju Kathmandu, membuat kondisi bendungan alami itu menjadi perhatian bagi wilayah di bagian hilir.

Proses terbentuknya danau bermula ketika keruntuhan gletser memicu longsoran yang membawa batu, es, lumpur, serta berbagai material lain ke sistem sungai. Tumpukan material dalam jumlah besar kemudian mempersempit atau menutup jalur drainase, menciptakan semacam bendungan alami yang membuat air terus terkumpul di belakangnya.

Bendungan alami menyimpan jutaan meter kubik air

Risiko terbesar dari danau tersebut bukan semata mata terletak pada volumenya, tetapi pada karakter bendungan yang menahan air. Material batu dan lumpur yang tersusun secara longgar dapat terkikis ketika air meluap, sehingga kegagalan bendungan berpotensi terjadi secara cepat dan menghasilkan banjir berisi puing yang bergerak dengan kecepatan tinggi menuju kawasan hilir.

Berdasarkan laporan dari Al Jazeera, Kementerian Sumber Daya Air China memperkirakan danau tersebut menampung sekitar 1,5 juta hingga 2 juta meter kubik air. Jumlah itu masih berpotensi bertambah karena sekitar 3 juta meter kubik air lainnya diperkirakan dapat mengalir ke danau selama tiga hari, membuat otoritas terus memantau perubahan permukaan air dan kondisi bendungan.

Ancaman tersebut juga dapat mempersulit operasi pencarian dan penyelamatan setelah banjir sebelumnya. Jika bendungan alami jebol, aliran air dapat kembali membawa lumpur dan batu dalam jumlah besar, sekaligus mengancam penyintas serta pekerja atau teknisi yang berada di terowongan dan fasilitas pembangkit listrik tenaga air di wilayah hilir.

Teknologi satelit dan pemodelan 3D digunakan untuk memantau danau

Lokasi danau yang terpencil dan memiliki medan curam menjadi tantangan tersendiri dalam proses pemantauan. Keruntuhan gletser juga menghasilkan sejumlah tebing terjal dan area yang terisolasi, sehingga membawa kru maupun alat berat langsung menuju lokasi bukan perkara mudah.

Otoritas China mengerahkan tim beranggotakan delapan teknisi untuk melakukan survei udara dan pemodelan tiga dimensi terhadap danau tersebut. Citra satelit dan rekaman drone juga digunakan untuk mengamati dua danau yang terbentuk setelah bencana, memberikan gambaran kondisi wilayah ketika observasi langsung dari darat sulit dilakukan.

Teknologi pemantauan menjadi penting karena pembentukan bendungan alami akibat longsoran sulit dicegah. Pawan Bhattarai dari Tribhuvan University menjelaskan bahwa dampaknya masih dapat dikurangi melalui pemantauan satelit yang lebih baik, deteksi cepat terhadap penyumbatan sungai dan pembentukan danau, pemantauan sungai secara real time, evakuasi tepat waktu, serta sistem peringatan dini lintas batas Nepal dan China.

Pemanasan global meningkatkan risiko di pegunungan tinggi

potret citra satelit wilayah Nepal (commons.wikimedia.org/ Jacques Descloitres, MODIS Rapid Response Team, NASA/GSFC)

Peristiwa seperti ini bukan fenomena yang benar benar baru di kawasan Himalaya. Keruntuhan gletser terjadi ketika massa es dalam jumlah besar terlepas, terkadang membawa jutaan meter kubik es, batu, dan air yang kemudian dapat berubah menjadi longsoran maupun aliran puing dengan daya rusak tinggi. Sementara glacial lake outburst flood atau GLOF terjadi ketika air dalam jumlah besar dari danau yang mendapatkan pasokan air pencairan gletser terlepas secara tiba tiba.

Pemanasan global menjadi salah satu faktor yang dikaitkan dengan meningkatnya ketidakstabilan tersebut. Ketika temperatur naik, pencairan gletser berlangsung lebih cepat dan pembentukan danau glasial dapat meningkat, sementara kondisi pegunungan ikut menjadi lebih tidak stabil akibat kombinasi perubahan es dan geologi yang rapuh.

Kawasan Himalaya memiliki kerentanan tambahan karena banyak gletser berada di lereng yang sangat curam dan berhadapan dengan lembah sungai yang juga terjal serta memiliki berbagai infrastruktur. Sebuah studi pada 2019 yang dikutip National Geographic bahkan menemukan 210 danau glasial yang berpotensi mengancam permukiman manusia melalui banjir bandang secara tiba tiba.

Bencana serupa diperkirakan akan kembali terjadi

Foto udara pemukiman yang terdampak banjir bandang dan longsor Nepal pada 27 Agustus 2026 (AFP/PRABIN RANABHAT)

Para ilmuwan memperkirakan ketidakstabilan di kawasan pegunungan tinggi akan semakin sering terjadi jika atmosfer dan lautan Bumi terus menghangat. Bencana di Nepal kali ini memang tergolong sangat besar, tetapi peristiwa keruntuhan gletser dalam skala yang lebih kecil diperkirakan tetap akan terjadi pada masa mendatang.

Kasus Nepal memperlihatkan bagaimana satu keruntuhan gletser dapat berkembang menjadi rangkaian bencana yang saling terhubung, mulai dari longsoran, banjir bandang, penyumbatan sungai, hingga terbentuknya danau baru yang kembali mengancam wilayah hilir. Pemantauan satelit, pemodelan kondisi danau, sistem peringatan dini, dan evakuasi tepat waktu pun menjadi semakin penting ketika perubahan pada kawasan pegunungan berlangsung lebih cepat.

Curated For You

Editorial Team

Related Article