Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Livia Drusilla, Perempuan Berpengaruh di Kekaisaran Romawi

Livia Drusilla, Perempuan Berpengaruh di Kekaisaran Romawi
Livia Drusilla (commons.wikimedia.org/Livia Drusilla)
  • Livia Drusilla, bangsawan Claudii, menikahi Octavianus pada 38 SM saat mengandung Drusus; pernikahan kontroversial itu bertahan lebih dari 50 tahun hingga Augustus wafat pada 14 M.
  • Tanpa jabatan resmi, Livia berpengaruh dalam lingkungan istana berkat kedekatannya dengan Augustus, kekayaan pribadi, dan peran yang terus berlanjut saat putranya, Tiberius, menjadi kaisar.
  • Livia membangun citra matrona sederhana lewat kegiatan sosial dan nilai tradisional; wajahnya tampil pada koin, lalu ia resmi didewakan sebagai Diva Augusta oleh Claudius pada 42 M.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Livia Drusilla dikenal sebagai salah satu perempuan penting pada masa awal Kekaisaran Romawi. Namanya tidak hanya lekat dengan Augustus, kaisar pertama Romawi, tetapi juga dengan dinasti Julio-Claudian yang berkuasa setelahnya. Selama hidupnya, Livia menempati posisi yang cukup istimewa sebagai istri, ibu, sekaligus sosok yang dipercaya di lingkungan kekaisaran.

Meski tidak pernah memegang jabatan politik secara resmi, Livia tetap memiliki pengaruh yang cukup besar dan berhasil membangun citra sebagai perempuan Romawi yang terhormat. Kehidupannya pun terus mendapat perhatian bahkan setelah kematiannya. Lantas, apa saja fakta menarik tentang Livia Drusilla? Yuk, simak selengkapnya!

  1. 1. Menjadi istri ketiga Augustus

    Livia Drusilla
    Livia Drusilla (commons.wikimedia.org/Louvre Museum)

    Livia Drusilla lahir dari keluarga bangsawan Claudii yang terpandang di Romawi. Sebelum bertemu Octavianus (yang kelak dikenal sebagai Kaisar Augustus), Livia telah menikah dengan Tiberius Claudius Nero dan memiliki dua putra. Pertemuannya dengan Octavianus kemudian mengubah hidupnya. Octavianus tertarik pada Livia dan juga melihat nilai politik dari latar belakang keluarganya. Setelah Livia bercerai dari suami pertamanya, keduanya menikah pada 17 Januari 38 SM. Livia pun menjadi istri ketiga Octavianus setelah Claudia dan Scribonia.

    Pernikahan tersebut berlangsung dalam situasi yang tidak biasa dan sempat menjadi bahan pembicaraan di Roma. Saat bercerai, Livia sedang mengandung putra keduanya, Drusus. Ia melahirkan Drusus pada 14 Januari 38 SM dan hanya tiga hari kemudian menikah dengan Octavianus. Meski diawali secara kontroversial, pernikahan mereka justru bertahan lebih dari 50 tahun hingga Augustus meninggal pada 14 M.

  2. 2. Memiliki pengaruh besar di lingkungan kekaisaran

    Livia Drusilla
    Livia Drusilla (commons.wikimedia.org/Carole Raddato)

    Meskipun aturan hukum Romawi membatasi perempuan untuk memegang jabatan publik resmi, Livia mampu memainkan peran politik yang signifikan dari balik layar. Kedekatannya dengan Augustus membuat pandangan dan sarannya sangat diperhitungkan dalam pengambilan keputusan istana. Ia juga memiliki kekayaan pribadi yang melimpah serta memperoleh kebebasan untuk mengelola asetnya secara mandiri. Pengaruh besar ini terus berlanjut bahkan ketika putranya, Tiberius, naik takhta menjadi kaisar.

    Livia juga kerap dikaitkan dengan perjalanan Tiberius menuju takhta. Setelah beberapa calon pewaris Augustus meninggal, Tiberius akhirnya diadopsi oleh Augustus pada 4 M dan kemudian menjadi penerusnya. Sejumlah sumber kuno bahkan menuduh Livia terlibat dalam kematian beberapa calon pewaris, tetapi tuduhan tersebut tidak memiliki bukti kuat dan masih diperdebatkan oleh para sejarawan.

  3. 3. Membangun citra sebagai istri yang sederhana

    Livia Drusilla
    Livia Drusilla (commons.wikimedia.org/Richard Mortel from Riyadh, Saudi Arabia)

    Di tengah upaya Augustus menghidupkan kembali nilai-nilai moral tradisional, Livia menampilkan dirinya sebagai sosok matrona, yaitu perempuan yang dianggap ideal sebagai istri dan ibu. Ia dikenal dengan gaya hidup yang sederhana, tidak berlebihan dalam berhias, serta menjalankan kegiatan yang sesuai dengan nilai tradisional Romawi. Citra tersebut membuat Livia tampil sebagai pasangan yang sejalan dengan nilai-nilai tradisional yang sedang ditekankan Augustus.

    Livia juga dikenal dekat dengan pekerjaan rumah tangga, termasuk membuat pakaian dan tidak mengenakan perhiasan secara berlebihan. Selain itu, ia menunjukkan perannya sebagai matrona melalui berbagai kegiatan sosial, seperti memberikan maskawin kepada perempuan muda yang kurang mampu dan membantu anak-anak yatim. Gambaran tersebut kemudian memperkuat citranya sebagai perempuan terhormat yang menjalankan nilai-nilai tradisional Romawi.

  4. 4. Wajahnya muncul pada koin Romawi

    koin Romawi Kuno bergambar Livia Drusilla
    koin Romawi Kuno bergambar Livia Drusilla (commons.wikimedia.org/Sailko)

    Kedudukan istimewa Livia tidak hanya terlihat di dalam istana, tetapi juga melalui representasinya pada mata uang Romawi. Wajah Livia diabadikan pada sejumlah koin kekaisaran, salah satunya adalah jenis dupondius. Dalam koin-koin tersebut, Livia ditampilkan secara idealistis dan disamakan dengan personifikasi dewi-dewi Romawi, seperti Dewi Salus.

    Kemunculan Livia pada mata uang menjadi hal menarik karena koin merupakan salah satu media penting untuk menampilkan simbol dan tokoh yang berkaitan dengan kekaisaran. Representasinya menunjukkan bahwa sosok Livia menduduki posisi yang sangat terhormat dalam keluarga kekaisaran dan kehidupan publik Romawi.

  5. 5. Didewakan setelah kematiannya

    Livia Drusilla
    Livia Drusilla (commons.wikimedia.org/Richard Mortel from Riyadh, Saudi Arabia)

    Perjalanan hidup Livia Drusilla berakhir pada 29 M, ketika ia wafat pada usia hampir 90 tahun. Setelah kematiannya, Senat mengusulkan berbagai penghormatan untuk mengenangnya, termasuk pendewaan. Namun, putranya, Kaisar Tiberius, menolak dan menunda pengesahan usulan tersebut. Penghormatan itu baru terwujud pada masa pemerintahan cucunya, Kaisar Claudius, yang pada 42 M secara resmi mendewakan Livia dan memberinya gelar Diva Augusta.

    Pendewaan tersebut membuat Livia tidak hanya dikenang sebagai anggota keluarga kekaisaran, tetapi juga dihormati sebagai figur ilahi. Namanya kemudian muncul dalam berbagai bentuk penghormatan keagamaan, termasuk patung dan representasi sebagai sosok dewi. Pendewaan Livia juga menunjukkan betapa pentingnya kedudukannya dalam sejarah keluarga kekaisaran Romawi, bahkan bertahun-tahun setelah ia meninggal.

    Terlepas dari berbagai kontroversi yang menyertai kisah hidupnya, Livia Drusilla tetap menjadi salah satu perempuan paling berpengaruh dalam sejarah Kekaisaran Romawi. Perannya sebagai istri Augustus, figur penting di lingkungan kekaisaran, hingga sosok yang akhirnya didewakan, membuat jejak hidupnya terus dikenang hingga kini.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More