Pemerintah Nepal Makamkan Korban Banjir Usai Pengambilan Sampel DNA

- Nepal menyiapkan pemakaman ratusan korban banjir bandang yang belum teridentifikasi atau tak diklaim, setelah 734 jenazah ditemukan dan kapasitas penyimpanan di Chitwan penuh.
- Sebelum dimakamkan, setiap jenazah diambil sampel DNA, diberi nomor unik, serta lokasi kuburnya didokumentasikan dan dipetakan untuk memungkinkan identifikasi di kemudian hari.
- Keluarga korban dapat menyerahkan sampel DNA di rumah sakit untuk dicocokkan; sekitar 2.500 orang, termasuk ratusan warga asing, masih dinyatakan hilang akibat banjir.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Nepal mulai mempersiapkan pemakaman bagi ratusan jenazah korban banjir bandang yang belum teridentifikasi dan tidak diklaim oleh pihak keluarga. Langkah ini diambil oleh otoritas setempat guna mencegah risiko penularan penyakit serta dampak pembusukan jenazah yang kian memburuk.
Banjir bandang dan lumpur terjang berbagai desa dan kota di Nepal sejak Rabu (26/8/2026). Ratusan korban jiwa telah ditemukan, sementara ribuan orang lainnya dilaporkan masih hilang di wilayah-wilayah terdampak.
1. Risiko kesehatan dan krisis ruang penyimpanan jenazah

ilustrasi makam (unsplash.com/Caroline Attwood) Bencana banjir bandang yang dipicu luapan Sungai Bhotekoshi di Rasuwa sejak Rabu (26/8/2026) telah meluas hingga ke beberapa distrik di Nepal. Dilansir The New Indian Express, setidaknya 734 jenazah berhasil ditemukan oleh tim penyelamat di berbagai wilayah pemukiman. Distrik Chitwan yang berada di Nepal bagian selatan dan berbatasan dengan India mencatat jumlah penemuan jasad tertinggi, yakni mencapai 233 jenazah.
Penumpukan jenazah di rumah sakit dan fasilitas penyimpanan sementara membuat kapasitas tempat penampungan di Chitwan penuh. Pejabat kesehatan setempat memperingatkan bau busuk dan proses pembusukan jasad berisiko memicu ancaman kesehatan masyarakat. Otoritas di Distrik Chitwan akhirnya memutuskan pada Sabtu (29/8/2026) untuk segera memakamkan jenazah yang belum teridentifikasi.
Seorang pejabat setempat mengungkapkan kondisi darurat yang memaksa keputusan pemakaman tersebut diambil. "Karena jumlah mayat terus menumpuk, kami menggunakan sebuah rumah sebagai cooling centre untuk menyimpan jenazah," kata pejabat tersebut sebagaimana dilansir The New Indian Express. Pejabat itu menambahkan, "Ketika rumah tersebut juga kehabisan ruang, kami tidak punya alternatif lain selain menguburnya."
2. Pengambilan sampel DNA dan pengkodean tempat pemakaman

ilustrasi DNA (pixabay.com/Miroslaw Miras) Pemerintah Nepal memastikan bahwa prosedur pemakaman tetap memperhatikan hak-hak keluarga korban di masa mendatang. Sebelum proses penguburan dilakukan, petugas medis mengumpulkan sampel DNA dan memberikan nomor identifikasi unik pada setiap jenazah. Perdana Menteri Nepal, Balendra Shah, menyampaikan keterangan resmi mengenai kebijakan penanganan jenazah tersebut.
"Hanya jenazah yang tidak dapat diidentifikasi yang akan dikelola oleh pemerintah setelah mengamankan DNA dan bukti lain yang dapat membantu menentukan identitas mereka," kata Balendra Shah melalui unggahan di media sosial pada Sabtu (29/8/2026) malam, sebagaimana dilansir The Kathmandu Post. Dia menegaskan bahwa jenazah yang sudah dikenali oleh keluarga telah diserahkan langsung kepada kerabat mereka. Balendra Shah juga menambahkan, "Menyelamatkan nyawa setiap warga negara yang terdampak tetap menjadi prioritas utama pemerintah."
Proses pemakaman ini diatur sesuai dengan Pedoman Manajemen Jenazah Tidak Dikenal dan Tidak Diklaim (Amandemen Pertama) 2026. Pejabat terkait menyampaikan bahwa analisis profil DNA terhadap lebih dari 100 jenazah telah diselesaikan hingga Sabtu (29/8/2026) siang. Setiap jenazah dimasukkan ke dalam kantong kedap udara yang diberi label nomor referensi khusus.
Guna mempermudah proses pembongkaran makam kelak, lubang kubur digali sedalam 1,5 meter dengan jarak sekitar 40 sentimeter antar bagian jenazah. Tempat pemakaman juga dilengkapi landasan beton, papan penanda nomor identifikasi, serta dokumentasi berupa foto dan video. Otoritas setempat memetakan lokasi kuburan menggunakan geo-tagging agar koordinat presisi makam tersimpan dalam rekaman permanen.
3. Prosedur identifikasi lanjutan untuk pihak keluarga korban

tampilan CCTV saat banjir bandang Nepal terjadi pada Agustus 2026. (Unknown author, Public Domain, via Wikimedia Commons) Keluarga yang kehilangan anggota kerabat dapat mendatangi rumah sakit yang telah ditunjuk di seluruh Nepal untuk menyerahkan sampel DNA mereka. Petugas kesehatan kemudian membandingkan sampel DNA milik keluarga dengan profil DNA jenazah yang telah dimakamkan. Kepolisian Nepal juga mengunggah data detail mengenai jenazah yang belum teridentifikasi di situs web resmi mereka.
Jika pencocokan DNA berhasil menemukan kesesuaian, pihak berwenang akan melacak nomor identifikasi jenazah hingga ke titik koordinat makamnya. Kepolisian Nepal selanjutnya memfasilitasi proses pembongkaran makam dan menyerahkan jasad korban kepada keluarga. Otoritas mencatat sekitar 2.500 orang, termasuk ratusan warga negara asing, masih dinyatakan hilang akibat bencana banjir ini.




















