Pahami Gempa Dalam di Utara Jakarta, Mengapa Guncangannya Terasa Luas?

- Gempa M6,6 di Laut Jawa utara Jakarta bersumber pada kedalaman sekitar 358 kilometer.
- Patahan batuan pada slab Lempeng Samudra Australia memicu gempa dalam dengan mekanisme intra-slab.
- Getaran menjangkau Sumatra, Jawa bagian timur, dan Kalimantan, tetapi energi di permukaan telah terdisipasi.
Gempa bumi berkekuatan M6,6 terjadi di wilayah Laut Jawa sebelah utara Jakarta pada Sabtu, 12 September 2026, pukul 04.23 WIB. Meski memiliki magnitudo cukup besar, gempa ini memiliki karakter yang berbeda dari gempa dangkal karena sumbernya berada pada kedalaman sekitar 358 kilometer.
Menurut Dr. Daryono, anggota IABI, peristiwa tersebut merupakan contoh klasik gempa bumi dalam atau deep focus earthquake. Gempa bukan dipicu aktivitas sesar aktif di kedalaman dangkal, tetapi berkaitan dengan patahnya batuan pada slab Lempeng Samudra Australia yang telah menunjam jauh ke bawah Laut Jawa.
Karakter sumber yang sangat dalam membuat pola guncangannya juga cukup unik. Getaran dapat menjangkau wilayah geografis yang sangat luas, bahkan dari Sumatra hingga Jawa bagian timur dan Kalimantan, tetapi energi yang sampai ke permukaan sudah terdisipasi sehingga tidak berpotensi menimbulkan kerusakan struktural.
1. Gempa terjadi pada kedalaman 358 kilometer

Pemantauan aktivitas gempa oleh BMKG di wilayah wilayah Laut Jawa, Sabtu (12/9/2026) dini hari. (Dok. BMKG Lampung). Sumber gempa M6,6 di utara Jakarta berada pada kedalaman sekitar 358 kilometer. Kedalaman hiposenter yang sudah melebihi 300 kilometer membuat peristiwa ini masuk dalam kategori gempa bumi dalam atau deep focus earthquake.
Mekanismenya berbeda dari gempa yang bersumber dari sesar aktif di dekat permukaan. Berdasarkan analisis seismologi dan tektonik yang disampaikan Daryono, gempa terjadi akibat patahnya batuan pada slab Lempeng Samudra Australia yang telah menunjam jauh ke bawah Laut Jawa.
Proses deformasi batuan tersebut terjadi di dalam lempeng yang sudah tersubduksi. Mekanisme semacam ini dikategorikan sebagai peristiwa intra-slab, sehingga sumber energinya berasal dari deformasi yang berlangsung pada slab lempeng di kedalaman ratusan kilometer.
2. Mengapa guncangan justru lebih dulu terasa di selatan Jawa?
Posisi episenter gempa berada di Laut Jawa sebelah utara Jakarta, tetapi pola guncangannya tidak semata mengikuti jarak suatu wilayah dari episenter. Getaran justru dirasakan lebih awal dan lebih kuat di wilayah Jawa bagian selatan, termasuk Sukabumi.
Fenomena tersebut berkaitan dengan jalur yang dilalui gelombang seismik setelah gempa terjadi. Gelombang gempa dapat merambat secara lebih efisien melalui medium slab lempeng yang padat dan homogen menuju arah selatan, sebelum kemudian menyebar hingga mencapai permukaan.
Karakter ini membuat lokasi di permukaan yang lebih dekat dengan episenter belum tentu menjadi wilayah yang pertama atau paling kuat merasakan getaran. Pada gempa dalam seperti peristiwa M6,6 ini, struktur slab di bawah permukaan ikut menentukan bagaimana energi seismik merambat dan kemudian dirasakan di berbagai wilayah.
3. Guncangannya bisa terasa dari Sumatra hingga Kalimantan

ilustrasi gempa bumi (unsplash.com/Anastasia R.) Kedalaman sumber gempa juga menjelaskan mengapa getaran M6,6 dapat dirasakan dalam cakupan geografis yang sangat luas. Daryono menjelaskan kedalaman hiposenter lebih dari 300 kilometer membuat spektrum attenuasi gelombangnya melemah secara bertahap, tetapi tetap mampu menjangkau wilayah yang jauh.
Dampaknya, getaran gempa dapat terasa dari Sumatra hingga Jawa bagian timur dan Kalimantan. Luasnya wilayah yang merasakan guncangan menjadi salah satu karakter penting untuk memahami gempa dalam, karena penyebaran gelombangnya berbeda dibandingkan gempa yang sumbernya berada lebih dekat dengan permukaan.
Meski cakupan guncangannya luas, energi yang mencapai permukaan sudah mengalami disipasi. Kondisi tersebut membuat gempa ini tidak berpotensi menimbulkan kerusakan struktural meskipun magnitudonya mencapai M6,6 dan getarannya dapat dirasakan di banyak wilayah.
4. Gempa dalam sangat jarang diikuti gempa susulan

ilustrasi gempa Bumi (unsplash.com/Jens Aber) Karakter lain dari gempa M6,6 di utara Jakarta berkaitan dengan kemungkinan munculnya gempa susulan atau aftershocks. Pada gempa dalam seperti peristiwa ini, batuan yang mengalami patahan merupakan bagian dari litosfer samudra pada kedalaman ratusan kilometer.
Batuan tersebut memiliki karakter yang sangat homogen. Pelepasan tegangan atau stress release karena itu cenderung berlangsung secara total dalam satu peristiwa utama, berbeda dengan kondisi yang dapat menghasilkan rangkaian gempa susulan setelah gempa utama.
Karakter tersebut membuat gempa deep focus jenis ini sangat jarang memicu gempa susulan. Jadi, meski magnitudo M6,6 dan jangkauan guncangannya terbilang luas, kedalaman sumber serta mekanisme intra-slab menjadi faktor penting untuk memahami mengapa dampaknya di permukaan memiliki karakter yang berbeda dari gempa dangkal.




![[QUIZ] Kami Tahu Hewan Apa yang Paling Kamu Takuti](https://image.idntimes.com/post/20190228/demilked-com-c139839be2dbdd19ffc2c923dd9b1848.jpg)
![[QUIZ] Kamu Lebih Cocok Jadi Anak IPA, IPS atau Bahasa? Cek di Sini](https://image.idntimes.com/post/20190620/825389503-9de309549f24d09a573e0889e51f4a47.jpg)













