Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Pengeboran di Formasi Durupinar, Benarkah di Sana Lokasi Bahtera Nuh?
ilustrasi bahtera Nuh (pixabay.com/Ria Sopala)
  • Pengeboran inti dimulai di Formasi Durupinar untuk memperoleh sampel fisik dari lapisan bawah permukaan.

  • Sejumlah pola geofisika dan material organik menjadi perhatian, tetapi belum membuktikan keberadaan Bahtera Nuh.

  • Penelitian geologi terdahulu menyimpulkan struktur Durupinar terbentuk secara alami, sehingga penelitian terbaru masih menguji dua kemungkinan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
1959

Formasi Durupinar diketahui melalui foto pengintaian udara oleh Kapten İlhan Durupinar. Bentuknya yang menyerupai kapal kemudian menarik perhatian.

1987 dan 1988

Penelitian menggunakan radar dan upaya pengeboran di empat titik dilakukan. Menurut Noah's Ark Scans, hanya tiga titik mencapai kedalaman signifikan.

tahun 1996

Lorence Gene Collins dan David Fasold menyimpulkan Formasi Durupinar merupakan formasi batuan alami, bukan sisa kapal buatan manusia.

2014, 2019, dan 2021

Survei menggunakan GPR dan ERT dilakukan. Noah's Ark Scans menyatakan hasilnya menunjukkan struktur linear dan pola bersudut di bawah permukaan.

2024

Analisis sampel tanah dilakukan. Noah's Ark Scans menyatakan material organik dari bagian dalam formasi hampir tiga kali lebih tinggi dibandingkan sampel dari luar.

2026

Proyek penelitian geologi dan arkeologi resmi dimulai dengan pengeboran inti, survei modern, analisis geofisika, serta kajian arkeologi bertahap.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Pengeboran inti dilakukan untuk mempelajari lapisan bawah Formasi Durupinar dan menguji asal struktur yang bentuknya menyerupai kapal.
  • Who?
    Prof. Dr. Cenker Atila, Sivas Cumhuriyet University, dan Noah's Ark Scans terlibat dalam proyek penelitian tersebut.
  • Where?
    Penelitian berlangsung di Formasi Durupinar, Turki timur, di kawasan pegunungan dekat Gunung Ararat.
  • When?
    Proyek penelitian geologi dan arkeologi dimulai pada 2026.
  • Why?
    Pengeboran dilakukan untuk mendapatkan sampel fisik dan membedakan kemungkinan formasi geologi alami atau sisa kapal kayu.
  • How?
    Penelitian menggunakan GPR, ERT, LiDAR, survei geofisika, penelitian geologi, kajian arkeologi, dan pengeboran inti.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pengeboran dilakukan di Formasi Durupinar, Turki, untuk melihat apa yang ada di bawah tanah. Tim penelitian bersama Noah's Ark Scans mencari tahu apakah bentuk seperti kapal itu alami atau sisa kapal kayu. Mereka belum menemukan kayu kapal, jadi Bahtera Nuh belum terbukti ditemukan. Penelitian masih berlangsung dengan beberapa alat.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pengeboran inti memberi penelitian kesempatan memperoleh data fisik baru tanpa langsung melakukan penggalian berskala besar. Sampel tersebut dapat dibandingkan dengan hasil GPR, ERT, LiDAR, serta penelitian geologi terdahulu. Dengan begitu, dua penjelasan mengenai Formasi Durupinar dapat diuji melalui bukti yang lebih terukur, sementara klaim tentang Bahtera Nuh tetap dinilai secara hati-hati.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Penelitian terbaru kembali dilakukan di Formasi Durupinar, sebuah struktur dengan bentuk menyerupai kapal di Turki timur yang selama puluhan tahun dikaitkan dengan kisah Bahtera Nuh. Pada 2026, proyek penelitian geologi dan arkeologi resmi dimulai di kawasan tersebut dengan pengeboran inti menjadi salah satu metode untuk mempelajari lapisan di bawah permukaan tanpa langsung melakukan penggalian berskala besar.

Durupinar menarik perhatian karena bentuknya yang menyerupai kapal dengan panjang sekitar 157 meter dan lokasinya berada di wilayah dekat Gunung Ararat. Tim Noah's Ark Scans sebelumnya melaporkan adanya pola linear, sudut siku, hingga struktur menyerupai koridor dan ruangan berdasarkan pemindaian geofisika, tetapi temuan tersebut belum membuktikan bahwa struktur ini merupakan kapal buatan manusia, apalagi Bahtera Nuh.

Pengeboran terbaru menjadi penting karena dapat memberikan sampel fisik untuk menguji apa yang sebenarnya berada di bawah Formasi Durupinar. Di sisi lain, interpretasi bahwa lokasi tersebut merupakan Bahtera Nuh masih berhadapan dengan penelitian geologi terdahulu yang menyimpulkan struktur berbentuk kapal itu terbentuk secara alami dan tidak menemukan bukti kayu yang menjadi bagian dari kapal.

1. Pengeboran inti mulai dilakukan di Formasi Durupinar

pemandangan gunung ararat di musim semi (commons.wikimedia.org/Սէրուժ Ուրիշեան (Serouj Ourishian))

Proyek penelitian 2026 dipimpin Prof. Dr. Cenker Atila dari Departemen Arkeologi Sivas Cumhuriyet University dan dilakukan bekerja sama dengan Noah's Ark Scans. Menurut laman resmi proyek, penelitian tersebut telah mendapatkan persetujuan dari otoritas Turki dan mencakup survei modern, analisis geofisika, penelitian geologi, serta kajian arkeologi secara bertahap.

Tahapan penelitian menggunakan beberapa teknologi, termasuk Ground Penetrating Radar atau GPR, Electrical Resistivity Tomography atau ERT, LiDAR, serta pengeboran inti. Pengeboran digunakan untuk mendapatkan gambaran mengenai lapisan bawah tanah sebelum tim mempertimbangkan penggalian yang lebih besar dan bersifat lebih destruktif.

Menurut laporan New York Post, proses pengeboran telah dimulai dan tim juga menyiapkan robot bawah tanah bernama Gopher yang dikembangkan Dr. Robert Ross dari La Trobe University. Robot tersebut direncanakan untuk menyelidiki area bawah permukaan yang oleh tim proyek ditafsirkan memiliki koridor dan ruang, meski keberadaan maupun asal struktur tersebut masih perlu dibuktikan melalui penelitian lebih lanjut.

2. Formasi sepanjang 157 meter sudah diteliti puluhan tahun

Formasi Durupinar diketahui melalui foto pengintaian udara pada 1959 oleh Kapten İlhan Durupinar. Struktur sepanjang sekitar 157 meter itu kemudian menarik perhatian karena bentuk permukaannya menyerupai kapal dan lokasinya berada di kawasan pegunungan dekat Ararat.

Perdebatan mengenai asal formasi tersebut sudah berlangsung selama beberapa dekade. Penelitian menggunakan radar pernah dilakukan pada 1987 dan 1988, termasuk upaya pengeboran empat titik, tetapi menurut Noah's Ark Scans hanya tiga yang mencapai kedalaman signifikan dan data yang diharapkan tidak berhasil diperoleh karena metode pengeboran yang digunakan saat itu.

Survei yang lebih baru menggunakan GPR dan ERT dilakukan pada 2014, 2019, dan 2021. Tim Noah's Ark Scans menyatakan hasilnya menunjukkan struktur linear dan pola bersudut di bawah permukaan, sementara analisis terhadap survei GPR 2019 kemudian mereka tafsirkan sebagai pola menyerupai koridor dan ruangan di dalam formasi. Klaim tersebut merupakan interpretasi tim proyek dan belum menjadi bukti bahwa struktur itu berasal dari kapal.

3. Tim menemukan anomali, tetapi belum menemukan kayu kapal

ilustrasi bahtera Nuh di Gunung Ararat (commons.wikimedia.org/Simon de Myle)

Salah satu temuan yang menjadi perhatian berasal dari analisis sampel tanah pada 2024. Noah's Ark Scans menyatakan sampel dari bagian dalam formasi memiliki kandungan material organik hampir tiga kali lebih tinggi dibandingkan sampel dari luar, sementara pencitraan GPR memperlihatkan pola geometris pada kedalaman hingga sekitar 9 meter.

Tim proyek sendiri masih membuka lebih dari satu kemungkinan untuk menjelaskan data tersebut. Dalam laman proyeknya, Noah's Ark Scans menyebut bukti yang mereka kumpulkan dapat menunjukkan lipatan geologi alami atau sisa kapal kayu yang telah membusuk dan terkubur, sehingga pengeboran inti menjadi salah satu tahapan yang diharapkan dapat membantu membedakan kedua kemungkinan tersebut.

Artinya, keberadaan pola geometris atau kandungan organik yang lebih tinggi belum cukup untuk menyatakan Bahtera Nuh telah ditemukan. Materi yang tersedia juga belum menunjukkan adanya penemuan kayu kuno dari kapal dalam penelitian terbaru, sehingga klaim mengenai identitas Formasi Durupinar masih membutuhkan bukti fisik yang dapat diuji.

4. Penelitian geologi sebelumnya menyebut Durupinar terbentuk secara alami

Interpretasi mengenai Bahtera Nuh bukan satu-satunya penjelasan terhadap Formasi Durupinar. Penelitian yang dipublikasikan Lorence Gene Collins dari Department of Geological Sciences, California State University Northridge bersama David Fasold pada tahun 1996 lalu menyimpulkan bahwa struktur tersebut merupakan formasi batuan alami, bukan sisa kapal buatan manusia.

Analisis mikroskopis mereka terhadap material yang sebelumnya dianggap sebagai komponen logam kapal menunjukkan material tersebut berasal dari mineral vulkanik yang mengalami pelapukan. Konsentrasi limonit dan magnetit yang pernah ditafsirkan sebagai bagian dari struktur logam juga dijelaskan sebagai proses alami pada lapisan sedimen yang terlipat, sementara sampel yang dianggap sebagai kayu atau bagian kapal ditemukan berupa material geologi.

Penelitian tersebut juga menyatakan tidak ditemukan kayu fosil, karbon elementer, fragmen kayu, maupun fragmen alang-alang yang berkaitan dengan struktur tersebut selama penggalian parit dan pengeboran inti terdahulu. Berdasarkan analisis geologi dan foto kawasan, Collins menyimpulkan bentuk menyerupai kapal pada Durupinar merupakan hasil proses geologi alami.

5. Pengeboran terbaru bisa membantu menguji dua penjelasan berbeda

Gunung Ararat (pexels.com/Leyla Helvaci)

Penelitian 2026 pada dasarnya belum bisa disebut sebagai penggalian untuk menemukan Bahtera Nuh. Noah's Ark Scans menjelaskan bahwa penggalian baru dapat dipertimbangkan setelah survei geofisika dan pengeboran inti selesai, karena sampel tersebut dibutuhkan untuk memahami susunan lapisan bawah permukaan sebelum intervensi yang lebih besar dilakukan.

Posisi penelitian saat ini membuat Formasi Durupinar tetap berada di antara dua interpretasi yang sangat berbeda. Tim proyek melihat sejumlah anomali geofisika yang menurut mereka layak diteliti sebagai kemungkinan sisa struktur buatan manusia, sedangkan penelitian geologi terdahulu menjelaskan bentuk kapal dan berbagai fitur di dalamnya melalui proses geologi alami.

Karena itu, pengeboran yang sedang berlangsung ini belum bisa menjadi konfirmasi bahwa Bahtera Nuh telah ditemukan. Nilai penting penelitian terbaru justru terletak pada kesempatan mendapatkan data fisik baru dari bawah Formasi Durupinar, yang nantinya dapat dibandingkan dengan hasil GPR, ERT, LiDAR, dan penjelasan geologi yang sudah ada untuk memahami asal struktur tersebut secara lebih jelas.

Curated For You

Editorial Team

Related Article