Referensi
Euro News. Diakses pada Mei 2026. How Did Earth Get Its Water? Scientists Think They Know
Livecience. Diakses pada Mei 2026. Where Did Earth's Water Come From?
Science News. Diakses pada Mei 2026. How Did Earth Get Its Water?
SciTech Institute. Diakses pada Mei 2026. Earth’s Water: Where Did It All Come From?
The Conversation. Diakses pada Mei 2026. A New Theory Explains How Water First Arrived On Earth
The Planetary Society. Diakses pada Mei 2026. How Did Earth Get Its Water?
World Atlas. Diakses pada Mei 2026. Where Did Earth’s Water Come From?
Dari Mana Air di Bumi Berasal?

- Air di Bumi diyakini berasal dari kombinasi proses internal dan eksternal sejak masa awal pembentukan planet sekitar 4,5 miliar tahun lalu.
- Sumber internal mencakup pelepasan air dari dalam mantel melalui reaksi kimia dan aktivitas vulkanik yang disebut outgassing.
- Sumber eksternal meliputi hantaman asteroid kaya es serta kemungkinan material pembawa air dari tabrakan besar dengan objek seukuran Mars bernama Theia.
Air adalah kunci kehidupan di Bumi. Tanpa air, tidak akan ada laut, hujan, tumbuhan, atau bahkan manusia. Namun, pertanyaan besar yang telah lama membuat para ilmuwan penasaran adalah: dari mana sebenarnya air di planet kita ini berasal? Mengingat Bumi terbentuk sekitar 4,5 miliar tahun lalu dalam kondisi yang sangat panas, keberadaan air dalam jumlah besar seperti sekarang menjadi sebuah misteri yang menarik untuk diungkap.
Saat ini, sekitar 71% permukaan Bumi tertutup air. Para ilmuwan percaya bahwa air tidak datang dari satu sumber saja, melainkan hasil dari kombinasi berbagai proses—baik dari dalam Bumi sendiri maupun dari luar angkasa—yang terjadi selama masa awal pembentukan planet ini. Mari, kita lupas tuntas mengenai asal mula keberadaan air di Bumi!
1. Tantangan di Tata Surya awal
Pada awal terbentuknya Tata Surya, suhu di wilayah dekat Matahari, termasuk tempat Bumi terbentuk, sangat tinggi. Dalam kondisi seperti itu, es tidak bisa bertahan. Jika ada uap air, kemungkinan besar akan menguap dan terlepas ke luar angkasa.
Material pembentuk Bumi, yang disebut planetesimal, terbentuk di lingkungan yang relatif kering. Namun, analisis isotop hidrogen di air laut modern menunjukkan bahwa unsur pembentuk air kemungkinan sudah ada sejak tahap awal pembentukan planet, meski dalam jumlah terbatas.
2. Sumber internal: air dari dalam Bumi
Ada kemungkinan sebagian air di Bumi berasal dari dalam planet itu sendiri. Pada masa awal, Bumi memiliki lautan magma dengan suhu lebih dari 4.000 Kelvin. Dalam kondisi tekanan tinggi, hidrogen dapat larut dalam magma.
Hidrogen ini kemudian bereaksi dengan oksigen dalam mineral untuk membentuk air. Meteorit jenis enstatite chondrite—yang komposisinya mirip dengan mantel Bumi—mengandung cukup hidrogen untuk menghasilkan air hingga tiga kali volume lautan saat ini jika dilepaskan.
Selain itu, mineral dalam mantel, seperti ringwoodite dan wadsleyite mampu menyimpan hidrogen dan oksigen. Melalui aktivitas geologi seperti konveksi dan letusan gunung berapi, air dari dalam Bumi perlahan dilepaskan ke permukaan dalam proses yang disebut outgassing.
3. Hujan asteroid: pengantar air dari luar angkasa

Selain dari dalam, air juga diduga datang dari luar angkasa, terutama melalui tumbukan asteroid. Sekitar 4 miliar tahun lalu, terjadi periode yang dikenal sebagai Late Heavy Bombardment, di mana banyak asteroid menghantam Bumi.
Asteroid kaya karbon dari sabuk asteroid luar mengandung es air dalam jumlah besar. Menariknya, komposisi isotop hidrogen (rasio deuterium terhadap hidrogen) dari asteroid ini sangat mirip dengan air di Bumi, sehingga memperkuat teori bahwa mereka adalah salah satu sumber utama air di planet kita.
4. Tabrakan raksasa dan awal mula lautan
Teori lain yang tak kalah menarik adalah tabrakan besar antara Bumi muda dengan objek seukuran Mars yang disebut Theia. Peristiwa ini diyakini membentuk Bulan.
Tabrakan tersebut mungkin juga membawa material kaya air dari bagian luar Tata Surya ke Bumi. Meskipun sebagian air menguap akibat panas ekstrem, seiring waktu Bumi mendingin, uap air tersebut mengembun menjadi hujan dan mulai membentuk lautan pertama. Bukti keberadaan air cair bahkan ditemukan dalam kristal zirkon kuno yang menunjukkan bahwa air sudah ada sekitar 100 juta tahun setelah Matahari terbentuk.
5. Peran komet: tidak sebesar yang diduga
Dulu, komet dianggap sebagai sumber utama air karena kandungan esnya yang melimpah. Namun, seiring waktu diketahui bahwa rasio isotop dalam air komet berbeda dengan air di Bumi. Hal ini membuat para ilmuwan menyimpulkan bahwa komet hanya menyumbang sebagian kecil air, bukan sumber utama.
Jadi, asal-usul air di Bumi adalah hasil dari proses panjang yang melibatkan kekuatan kosmik dan reaksi kimia kompleks. Dari kedalaman mantel hingga hantaman asteroid dari luar angkasa, semua berperan dalam membentuk lautan yang kini menjadi sumber kehidupan. Memahami asal air bukan hanya soal masa lalu, tetapi juga membantu kita memahami bagaimana planet lain mungkin menyimpan kehidupan di masa depan.


















