Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Mengenang Masa Kejayaan Derrick Rose di Chicago Bulls

Mengenang Masa Kejayaan Derrick Rose di Chicago Bulls
ilustrasi jersey Chicago Bulls (unsplash.com/Abhay siby Mathew)
  • Derrick Rose menjadi kover tunggal NBA 2K27 Ultra Edition, mengabadikan masa terbaiknya bersama Chicago Bulls setelah sebelumnya tampil di NBA 2K13.

  • Pilihan pertama Draft 2008 itu meraih Rookie of the Year 2009, MVP 2011 pada usia 22 tahun, serta tiga kali beruntun terpilih sebagai NBA All-Star.

  • Rose membawa Bulls mencatat rekor 62-20 dan Final Wilayah Timur 2011, sebelum cedera ACL 2012 mengubah kariernya; ia pensiun pada 2024 dan nomor 1 dipensiunkan Bulls pada 2026.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Derrick Rose resmi didapuk sebagai cover athlete untuk NBA 2K27 (2026). Ini menjadi kali kedua bagi pebasket veteran National Basketball Association (NBA) kelahiran 4 Oktober 1988 ini menghiasi kover seri NBA 2K setelah tampil di NBA 2K13 (2012) bersama Kevin Durant dan Blake Griffin. Namun, berbeda dari 2012 silam, Rose kini menghiasi kover NBA 2K27 Ultra Edition sendirian.

Sama seperti NBA 2K13, NBA 2K27 menampilkan Rose ketika berseragam Chicago Bulls. Alasan menjadikan Rose dari periode tersebut sebagai cover athlete bukan sekadar nostalgia atau estetika, melainkan juga untuk mengabadikan periode terbaik sang point guard. Pasalnya, dia sempat menjadi simbol kebangkitan Bulls sepeninggal era Michael Jordan sebelum cedera anterior cruciate ligament (ACL) mengubah perjalanan kariernya secara drastis.

  1. 1. Derrick Rose memulai perjalanan bersama Chicago Bulls setelah terpilih sebagai first overall pick NBA Draft 2008

    Sejak mengenyam bangku pendidikan di Simeon Career Academy hingga University of Memphis, Rose memang sudah menunjukkan talenta sebagai salah satu prospek pemain muda yang menjanjikan. Dia sukses membawa Simeon menjuarai kompetisi basket tingkat negara bagian Illinois 2 kali beruntun pada musim 2005/2006 dan 2006/2007 serta mengantarkan Memphis Tigers, klub basket kampusnya, melaju hingga NCAA Championship Game 2008. Berbekal pencapaian ini, Rose memutuskan untuk mengikuti NBA Draft 2008 pada usia 19 tahun dan menjadi salah satu kandidat kuat untuk dipilih sebagai pemain nomor 1 bersama Michael Beasley.

    Chicago Bulls, yang baru saja menutup 2007/2008 dengan rekor 33 kemenangan dan 49 kekalahan, sebetulnya hanya memiliki peluang sekitar 1,7 persen untuk mendapatkan hak memilih pertama (first overall pick) di NBA Draft 2008. Meski begitu, klub yang pernah menjuarai NBA 6 kali secara beruntun tersebut justru memenangkan lotre draft dan berhak menentukan pilihan lebih dulu. Setelah melalui pertimbangan dan diskusi internal, mereka sepakat menjadikan Rose sebagai pilihan pertama dalam NBA Draft 2008.

  2. 2. Derrick Rose memboyong berbagai prestasi individu bergengsi saat masih berusia 20-an tahun

    Kepercayaan Chicago Bulls kepada Derrick Rose langsung diterjemahkan melalui performanya pada musim rookie di NBA 2008/2009. Saat itu, point guard yang tengah menginjak usia 20 tahun ini langsung menyabet NBA Rookie of the Year 2009 dengan rata-rata 16,8 poin, 6,3 assist, 3,9 rebound, serta 0,8 steal per game. Rose juga masuk ke dalam jajaran NBA All-Rookie First Team bersama Michael Beasley, Brook Lopez, O.J. Mayo, dan Russell Westbrook pada musim yang sama.

    Dua musim kemudian, tepatnya pada 2010/2011, Rose mencapai puncak performanya saat masih berseragam Bulls. Pebasket yang saat itu memiliki 1,91 meter dan berbobot 90,7 kilogram ini membukukan rata-rata 25 poin, 7,7 assist, 4,1 rebound, dan 1,0 steal per game hingga dinobatkan sebagai NBA Most Valuable Player (MVP) 2011 dengan total 1.182 poin dari 121 suara, mengungguli Dwight Howard (643 poin dari 118 suara) dan LeBron James (522 poin dari 112 suara). Alhasil, Rose resmi menjadi pemain Bulls kedua yang memenangkan MVP setelah Michael Jordan sekaligus pemain termuda yang meraih penghargaan tersebut pada usia 22 tahun, memecahkan rekor Wes Unseld yang menerima MVP ketika berusia 23 tahun.

    Rose juga diakui sebagai salah satu pemain elite NBA pada awal 2010-an setelah terpilih sebagai pemain NBA All-Star selama 3 musim beruntun, yaitu pada 2010, 2011, dan 2012. Bagi yang belum tahu, NBA All-Star merupakan ajang khusus yang mempertemukan pemain-pemain terbaik NBA dalam sebuah pertandingan yang biasanya berlangsung pada pertengahan musim. Sepanjang 3 edisi NBA All-Star yang dilakoni, Rose selalu berada di tim yang sama dengan LeBron James, Dwyane Wade, dan Chris Bosh yang nantinya dikenal sebagai big three Miami Heat.

  3. 3. Gaya bermain agresif dari Derrick Rose membantu Chicago Bulls menjadi tim yang patut diperhitungkan di NBA

    Derrick Rose adalah perpaduan yang solid antara kecepatan dan kekuatan. Dia dikenal dengan kemampuan penetrasi yang cepat menuju paint area serta gerakan eksplosif saat melakukan serangan di sekitar ring lawan melalui dunk atau lay up. Rose juga merupakan seorang playmaker andal berkat kebolehannya dalam mengatur tempo permainan, menciptakan peluang, dan mengambil keputusan cepat saat mendistribusikan bola.

    Beranjak dari kegagalan lolos playoff pada 2007/2008, Chicago Bulls mulai bangkit pada 2008/2009 dengan melaju ke playoff setelah mencatat 41 kemenangan dan 41 kekalahan, tetapi harus tersingkir oleh Boston Celtics. Bulls kembali ke playoff pada 2009/2010 dengan rekor kemenangan dan kekalahan yang sama seperti musim sebelumnya, meski pada akhirnya harus mengakui keunggulan dari Cleveland Cavaliers. Pada 2010/2011, Rose membawa Bulls mencatat 62 kemenangan serta 20 kekalahan, rekor yang terakhir kali ditorehkan klub pada 1997/1998.

  4. 4. Derrick Rose berkesempatan menantang big three Miami Heat di NBA Playoffs 2011

    Saat Derrick Rose tengah mempertajam asanya bersama Chicago Bulls, Miami Heat pada momen yang hampir bersamaan juga sedang membentuk trio monster yang dikenang sebagai big three Heat. Trio ini menjadi salah satu kekuatan terbesar di Wilayah Timur yang mendominasi NBA pada awal 2010-an. Pada Final Wilayah Timur di NBA Playoffs 2011, Rose bersama koleganya di Bulls yang berstatus sebagai unggulan pertama harus berhadapan dengan trio mematikan yang mengombinasikan kemampuan LeBron James sebagai playmaker dan scorer serbabisa, Dwyane Wade sebagai scorer eksplosif, serta Chris Bosh sebagai big man kuat yang mampu mencetak angka dan mengamankan rebound.

    Bulls sebenarnya mengawali seri dengan sangat baik setelah menyapu bersih Game 1 dengan kemenangan telak 103-82 di United Center, kandang sendiri. Namun, Heat kemudian bangkit dan mendominasi empat pertandingan berikutnya hingga menutup seri dengan kemenangan 4-1. Meski impian Bulls untuk berjaya setelah era Michael Jordan harus kembali terkubur, rangkaian pertandingan ini tetap menjadi salah satu momen ikonik bagi Rose ketika dia mampu bersaing dengan para superstar NBA kala itu.

  5. 5. Cedera ACL membuat Derrick Rose tak lagi bermain seperti pada masa primanya sebelum akhirnya memutuskan gantung sepatu

    Sebagai seorang point guard yang terkenal dengan kemampuan penetrasi berani, gaya bermain seperti ini justru menjadi bumerang bagi Derrick Rose saat cedera ACL mengakhiri perjalanan kariernya di NBA. Semuanya bermula ketika Rose melakukan penetrasi ke paint area pada penghujung putaran pertama NBA Playoffs 2012 (First Round) melawan Philadelphia 76ers. Ketika hendak melakukan jump stop sebelum melepaskan lay up, pebasket yang kerap dijuluki D-Rose ini mengalami robekan ACL pada lutut kiri tanpa kontak dengan pemain Sixers.

    Akibat cedera ACL, Rose terpaksa menepi sepanjang sisa playoff dan melewatkan seluruh pertandingan pada 2012/2013 untuk menjalani proses pemulihan. Pebasket lulusan University of Memphis ini sempat kembali mengenakan kostum Bulls pada 2013/2014, tetapi hanya diterjunkan dalam 10 pertandingan dengan rata-rata 31,1 menit per game. Rose kembali masuk ruang perawatan setelah mengalami robekan meniskus medial pada lutut kanan saat menghadapi Portland Trail Blazers pada 22 November 2013.

    Tak lagi mampu mempertahankan performanya seperti pada masa primanya, Rose akhirnya angkat kaki dari Chicago pada 2016/2017 dan memulai lembaran kisah baru bersama New York Knicks, Cleveland Cavaliers, Minnesota Timberwolves, Detroit Pistons, dan Memphis Grizzlies. Peraih MVP termuda dalam sejarah ini kemudian memutuskan pensiun pada 26 September 2024 setelah menjalani 16 tahun berkarier di NBA. Dua tahun kemudian, tepatnya pada 24 Januari 2026, Rose secara resmi menjadi pemain kelima dalam sejarah Bulls yang nomor punggung 1 miliknya dipensiunkan setelah Jerry Sloan (4), Bob Love (10), Michael Jordan (23), dan Scottie Pippen (33).

    Derrick Rose memang belum mampu mempersembahkan gelar juara NBA kepada Chicago Bulls, tetapi pencapaian dan performanya yang luar biasa menjadikannya salah satu pemain paling ikonik pada era modern. Saat wajahnya terpampang di kover NBA 2K27 dalam balutan jersey Bulls, momen ini seolah mengingatkan bahwa warisan seorang pemain tak hanya ditentukan oleh jumlah trofi, melainkan juga oleh seberapa besar dia menjawab mimpi para penggemar.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More