Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Rekor Buruk yang Menyertai Orlando Magic di NBA Playoff 2026

Rekor Buruk yang Menyertai Orlando Magic di NBA Playoff 2026
ilustrasi basket NBA (unsplash.com/Christian Jaya)
Intinya Sih
  • Orlando Magic lolos ke playoff lewat jalur play-in, sempat unggul 3-1 atas Detroit Pistons, namun akhirnya tersingkir 3-4 setelah kehilangan momentum di tiga laga terakhir.
  • Serangan Magic mandek sejak gim kelima, dengan skor rendah dan performa menurun dari Paolo Banchero serta Desmond Bane, terutama setelah Franz Wagner cedera betis.
  • Pistons memanfaatkan kelemahan Magic dalam rebound dan turnover; Cade Cunningham tampil dominan dengan double-double 32 poin dan 12 assist untuk memastikan kemenangan seri.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Boston Celtics tidak sendirian. Mereka bernasib sama seperti Orlando Magic yang tumbang 3-4 setelah unggul 3-1 pada putaran pertama NBA Playoff 2026 di Wilayah Timur. Saat Celtics dijegal tim peringkat ketujuh pada musim reguler, Philadelphia 76ers, Magic turut dijegal tim peringkat pertama pada musim yang sama, Detroit Pistons.

Lantas, seperti apa kiranya perjalanan Magic pada babak pascamusim reguler 2026 ini? Mereka sempat bermain di NBA Play-in dan lolos ke putaran pertama playoff, bahkan punya kesempatan untuk melanjutkan perjalanan, tetapi seolah kehabisan bensin di hadapan tim asal Motor City. Rekor buruk pun menyertai Magic yang harus mengubur asa untuk tampil pada babak selanjutnya.

1. Lolos ke playoff sebagai tim peringkat delapan Wilayah Timur

Orlando Magic mesti bersusah payah. Mereka gagal mengamankan spot otomatis ke playoff, sehingga terpaksa tampil di play-in. Kalah melawan Philadelphia 76ers, Magic baru dipastikan lolos ke babak pascamusim reguler setelah mengalahkan Charlotte Hornets.

Jalur tempuh itu kemudian mempertemukan mereka dengan Detroit Pistons, yang finis sebagai tim teratas di Wilayah Timur berkat rekor 60-22. Bandingkan dengan Magic yang finis kedelapan lewat rekor 45-37. Di atas kertas, Pistons dijagokan untuk mengugurkan Magic pada putaran pertama.

Meski begitu, Magic tidak patah arang. Muncul sebagai underdog, mereka menggilas Pistons 3-1. Satu kemenangan lagi bisa membuat mereka lolos ke putaran kedua.

Sayangnya, Magic kehabisan bensin. Meski telah melangkahkan satu kakinya ke babak selanjutnya, mereka tidak bisa melangkahkah satu kaki sisanya. Sebab, Pistons mengebut untuk membuktikan diri sebagai tim nomor satu di Wilayah Timur dan memenangkan tiga pertandingan terakhir.

2. Mengalami offensive stagnation, terutama pada pertandingan keenam

Orlando Magic sebenarnya hanya membutuhkan satu kemenangan untuk melaju ke putaran kedua. Namun, mereka mentok mulai pada pertandingan kelima. Magic mengalami stagnasi dari segi menyerang.

Di pertandingan keenam, misalnya, Magic mengalami kesulitan luar biasa. Dalam dua kuater terakhir, mereka berkali-kali gagal meretas pertahanan Detroit Pistons. Magic hanya sempat mencetak total 19 poin dari masing-masing 11 poin pada kuarter ketiga dan 8 poin pada kuarter keempat.

Ini tentu cerminan buruk serangan Magic yang mentok sejak pertandingan sebelumnya. Paolo Banchero, pemain andalan mereka, tidak bisa mencetak lebih dari 17 poin. Desmond Bane pun begitu. Sisanya, hanya Tristan Da Silva yang mampu mencetak poin berdigit ganda dalam bentuk sepuluh poin.

3. Kehilangan mesin poin setelah Franz Wagner cedera

Orlando Magic mengandalkan Paolo Banchero sebagai mesin poin. Namun, dia bukan satu-satunya. Franz Wagner, pemain asal Jerman, juga kerap memberi kontribusi. Jika Banchero disebut-sebut sebagai opsi pertama, maka Wagner boleh disebut-sebut sebagai opsi kedua. Perannya begitu penting dalam mendulang poin.

Franz Wagner absen pada pertandingan keempat setelah bermain 24 menit saja. Dia mengalami cedera betis sehingga keluar lapangan lebih dulu. Diharapkan bisa tampil pada sisa seri, Wagner justru terpaksa menepi lebih lama.

Banchero cukup vital. Dia terus berusaha menjadi yang utama. Namun, bantuan tidak datang dari sisinya. Sejumlah pemain melempem saat dibutuhkan.

Jalen Suggs, kiranya, tidak berfungsi dengan baik pada masa krusial. Dia kesulitan dalam empat pertandingan terakhir. Hanya mampu memasukkan 19,5 persen tembakannya, termasuk 2 dari 9 percobaan pada pertandingan ketujuh.

4. Unggul tipis dalam TOV%, tetapi turnover juga salah satu biang keroknya

Orlando Magic menyabet 1 dari 4 faktor kemenangan. Mereka unggul tipis dalam hal turnover percentage (TOV%) dengan 13 banding 14,9 atas Detroit Pistons. Namun, turnover juga yang jadi masalah mereka. Dalam beberapa pertandingan, Magic mesti mengalami masalah pada penguasaan bola–menyerahkan setidaknya 26 poin akibat peralihan posesi yang mengubah jalannya pertandingan.

Ini belum ditambah masalah di paint area. Mereka berkali-kali kalah dalam perebutan bola pantul di sekitar sana. Magic kesulitan menghadapi Pistons yang dibela center sekelas Jalen Duren. Sang pemain membantu timnya mengumpulkan total 329 rebound, yang 38 buah lebih banyak dari Magic.

Secara offensive rebound percentage (ORB%), Magic juga berada di bawah Pistons. Mereka mencetak 24,5 ORB% saat Pistons mampu mencetak 28,9 ORB%. Menguasai offensive rebound berarti menguasai kesempatan kedua untuk mencetak poin.

5. Gagal menghentikan Cade Cunningham

Orlando Magic punya pekerjaan rumah untuk menghentikan bintang utama Detroit Pistons, Cade Cunningham. Namun, sang pemain tidak pernah tidak panas sejak awal seri. Dia tetap tangguh meski timnya sempat tertinggal 1-3.

Berkat ketangguhannya, Cunningham berhasil memutarbalikkan keadaan. Pada pertandingan ketujuh, misalnya, dia memanas dengan double-double 32 poin dan 12 assist untuk menyegel tiket ke putaran kedua NBA Playoff 2026. Ini ditambah sumbangan dari Tobias Harris yang mencetak 30 poin, yang membuat Cunningham dan dirinya tercatat sebagai pemain Pistons pertama sejak 1977 yang mampu mencetak setidaknya 30 poin di playoff.

Cade Cunningham dan Tobias Harris berikut skuad mereka di Detroits Pistons resmi membuat Orlando Magic libur lebih dini. Mereka berbalik unggul 4-3 dan memaksa Magic tidak bisa melanjutkan perjalanan musim ini. Namun, Magic punya waktu berpikir lebih lama untuk memuluskan perbaikan demi musim depan yang lebih baik. Akankah mereka melakukannya saat Pistons dan beberapa yang lain masih harus bertanding pada putaran kedua playoff?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Kidung Swara Mardika
EditorKidung Swara Mardika
Follow Us

Related Articles

See More