Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

100 Hari Jelang Piala Dunia 2026: Perang, Kartel, dan Kontroversi

100 Hari Jelang Piala Dunia 2026: Perang, Kartel, dan Kontroversi
Mural yang menunjukkan hitung mundur 100 hari Piala Dunia 2026 (AFP / Ulises Ruiz)
Intinya Sih
  • Menjelang 100 hari Piala Dunia 2026, FIFA menuai kritik karena dianggap tidak tegas terhadap Amerika Serikat terkait konflik dengan Iran, berbeda dengan sikapnya terhadap Rusia pada 2022.
  • Keamanan Meksiko sebagai tuan rumah dipertanyakan akibat kekacauan yang ditimbulkan kartel narkoba, meski panitia lokal menjamin turnamen tetap aman dengan dukungan aparat keamanan nasional.
  • FIFA juga disorot Federasi Sepak Bola Norwegia karena dinilai tak netral secara politik, sementara Iran mempertimbangkan mundur dari turnamen akibat ketegangan geopolitik dan lokasi pertandingan di AS.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Piala Dunia 2026 tinggal 100 hari lagi digelar di Amerika Serikat (AS), Meksiko, dan Kanada. Namun, alih-alih hal positif, hal-hal negatif justru meliputi ajang ini, mulai dari kartel, perang, ada tim yang mau mundur, hingga kontroversi.

Terbaru, FIFA merilis poster 100 hari jelang Piala Dunia 2026. Bukannya mendapat respons positif, poster ini justru mendapat persepsi negatif dari para warganet. Hal itu tak lepas dari panasnya situasi di luar lapangan.

Jika edisi Qatar disebutkan sebagai yang tak ramah dengan hak asasi manusia, akibat adanya dugaan pelanggaran, tapi untuk penyelenggaraan 2026, Amerika Serikat dan Meksiko justru bermasalah. Amerika Serikat bahkan menjadi representasi nyata dari kekerasan dan pelanggaran kedaulatan sebuah negara.

Secara serampangan, mereka telah menyerang sejumlah negara, dan terbaru adalah Iran. Sebelumnya, mereka sudah menyerang Venezuela hingga menangkap Nicolas Maduro, untuk ditempatkan ke penjara dengan sistem keamanan tinggi.

Kemudian, Meksiko diselimuti situasi mencekam. Itu terjadi setelah bos kartel Jalisco New Generation (CJNG), Nemesio Oseguera alias El Mencho, tewas dalam operasi penumpasan oleh aparat gabungan militer serta polisi.

Setelah kematian El Mencho, jalanan di Jalisco, Guadalajara, berubah menjadi medan perang. Bahkan, jalan utama ke stadion penyelenggara Piala Dunia 2026, Estadio Akron, menjadi wilayah yang paling menegangkan karena sejumlah kendaraan roda empat dan beberapa SPBU dibakar oleh pasukan El Mencho, menciptakan suasana yang mencekam.

1. FIFA yang tak tegas ke AS

AFP__20260303__99QW64G__v4__HighRes__TopshotIranUsIsraelWar.jpg
Kepulan asap membubung setelah serangan terhadap ibu kota Iran, Teheran, pada 3 Maret 2026. (ATTA KENARE/AFP)

Salah satu hal yang warganet soroti adalah sikap FIFA pada AS yang tak tegas, menyusul serangan ke Iran, bekerja sama dengan Israel. Mereka bingung, tak ada sanksi sama sekali dari FIFA.

Hal ini berbeda jauh dengan Rusia saat menginvasi Ukraina, yang langsung terkena sanksi FIFA. Alhasil, mereka nyinyir kepada FIFA dengan memberikan plesetan "FIFA World War".

"Kenapa Amerika masih di Piala Dunia jika mengawali perang ketika orang-orang tak bersalah mati karena bomnya? Bukankah kalian menjatuhkan sanksi ke Rusia karena hal serupa?" tulis salah satu warganet.

"FIFA harus mencoret Amerika Serikat, negara yang menghendaki kekacauan di dunia," kecam warganet lain.

Belakangan, FIFA buka suara atas apa yang dilakukan oleh Amerika Serikat. Presiden FIFA, Gianni Infantino, justru terlihat cuci tangan dan tampak tak mau terlibat banyak soal panasnya konflik di Timur Tengah saat ini. Malah, dia menegaskan pihaknya bukan penyelesai masalah geopolitik.

"FIFA itu tak bisa menyelesaikan masalah geopolitik. Tapi, kami bisa dan harus mempromosikan sepak bola sebagai olahraga pemersatu, mendidik, dan penuh nilai kemanusiaan," ujar Infantino, dilansir BBC.

"Cuci tangan" menjadi istilah yang cukup pas. Sebab, ironi muncul ketika Infantino melayangkan pernyataan tersebut. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sempat diberikan penghargaan Peace Prize FIFA oleh Infantino, tanda menjadi simbol perdamaian dunia. Tapi, yang terjadi belakangan malah Trump menginisiasi serangan ke Iran.

"Kami turut berduka dan mendoakan mereka yang menderita akibat konflik yang terjadi di dunia dalam beberapa minggu terakhir. Sepak bola siap hadir untuk mendamaikan dan mempersatukan," kata Infantino.

2. Kartel Meksiko bikin Piala Dunia 2026 gaduh

Operasi penangkapan bos kartel narkoba jaringan Jalias, Nemesio Oseguera alias El Mencho, oleh aparat keamanan Meksiko (AFP / Ulises Ruiz)
Operasi penangkapan bos kartel narkoba jaringan Jalias, Nemesio Oseguera alias El Mencho, oleh aparat keamanan Meksiko (AFP / Ulises Ruiz)

Sebelum perang berkecamuk di Timur Tengah, keamanan Meksiko sebagai tuan rumah Piala Dunia 2026 sebenarnya sudah jadi pertanyaan. Kematian bos kartel Jalisco New Generation Cartel (CJNG), Nemesio Oseguera alias El Mencho, telah menciptakan ketidakpastian atas penyelenggaraan Piala Dunia 2026 di sana.

Sebab, jalanan di Jalisco mendadak berubah jadi medan perang. Kendaraan roda dua dan empat dibakar oleh para kartel, sebagai bagian dari implementasi strategi narcobloques. Mereka juga membakar stasiun pengisian bahan bakar agar perhatian petugas keamanan teralihkan.

Meski sempat gaduh karena kartel, Komite Penyelenggara Piala Dunia 2026 di Guadalajara, Juan Jose Frangie, menjamin keamanan dan yakin jika turnamen tetap bisa digelar di sana. Tak akan ada masalah di Meksiko.

"Kami bisa katakan kepada orang-orang yang mau datang ke Piala Dunia, jika negara ini aman, tanpa masalah. Garda Nasional dan Kementerian Pertahanan telah mengirim 2.500 atau lebih personel," kata Frangie dikutip Daily Mail.

Presiden Meksiko, Claudia Sheinbaum, menjamin jika pihaknya akan bekerja keras untuk mengamankan Piala Dunia 2026. Sebanyak 100 ribu personel keamanan, yang terdiri dari militer, polisi, hingga kontraktor swasta, bakal diterjunkan demi mengamankan situasi. Tak cuma itu, sejumlah peralatan spesifikasi militer canggih akan diterjunkan demi mengamankan turnamen.

3. Sentilan Norwegia ke FIFA, bukti erosi sepak bola dan politik

Presiden FIFA, Gianni Infantino, piala dunia
Presiden FIFA, Gianni Infantino saat menghadiri World Economic Forum di Davos, Swiss, Kamis (22/1/2026). (IDN Times/Uni Lubis)

FIFA juga sebelumnya sudah menerima kritik pedas dari Federasi Sepak Bola Norwegia (NFF). Presiden NFF, Lise Klaveness, merasa FIFA sudah gak netral dan bermain dalam politik jelang Piala Dunia 2026. Buktinya adalah pemberian Peace Prize kepada Trump oleh Infantino.

"Baru-baru ini saya duduk di Washington, dalam ruangan yang penuh dengan presiden sepak bola, dan merasakan perasaan menyakitkan karena menjadi sandera sesuatu yang jelas-jelas salah. Perasaan kaisar tidak hanya berjalan tanpa pakaian, tetapi dia membawa kita ke arah yang berbahaya, dan pada saat yang sama saya tidak dapat menghentikannya," kata Klaveness, dilansir Inside World Football.

Gestur Infantino ke Trump menjadi bukti lain jika erosi terjadi dalam pengelolaan sepak bola. Ada istilah, sepak bola haram digabungkan dengan kepentingan politik. Namun, erosi antara batasan politik dengan olahraga sudah mulai kabur.

Dalam buku Political Football: Regulation, Globalization, and the Market, karya Wyn Grant terbitan 2021, tanda-tanda batasan yang terkikis antara politik dan sepak bola sudah terlihat sejak lama, terutama ketika masa globalisasi di awal abad 21. Hal ini tak terlepas dari kepentingan pemasaran, kebutuhan publikasi, dan misi dari elite-elite sepak bola di dalam klub atau federasi.

4. Potensi sejarah kelam terulang

Bendera Iran
Bendera Iran (unsplash.com/akbarnemati)

Bicara soal serangan Israel dan AS, hal itu membuat kondisi Iran tidak nyaman. Iran harus bermain di wilayah AS, tepatnya di Seattle, menghadapi Selandia Baru, Belgia, dan Mesir.

Dengan eskalasi yang terus meningkat, Ketua Federasi Sepak Bola Iran, Mehdi Taj, mengakui sulit untuk menyiapkan tim untuk Piala Dunia. Federasi bersama pemerintah dilaporkan tengah mempertimbangkan langkah terbaik terkait partisipasi Iran.

"Jauh dari harapan kami untuk bisa menatap Piala Dunia 2026 dengan penuh optimisme," ujar Taj.

Namun di sisi lain, Presiden AS Donald Trump mengaku masa bodoh jika Iran main atau tidak di Piala Dunia 2026. Dia tak keberatan Timnas Iran menginjakkan kaki di AS, tetapi dia memandang tim Iran sebelah mata.

"Saya benar-benar tidak peduli, apakah Iran main di Piala Dunia 2026 atau tidak. Saya pikir mereka adalah negara yang kalah telak. Mereka sudah kehabisan tenaga," kata Trump, dilansir BBC.

Andai Iran mundur, preseden buruk akan terulang di Piala Dunia 2026. Sejarah mencatat, Uruguay pernah menolak tampil di Piala Dunia 1934 Italia meski saat itu berstatus sebagai juara bertahan. Mereka melakukan aksi protes balasan karena banyak tim Eropa yang enggan bepergian ke Amerika Selatan pada edisi perdana di 1930.

Kasus lain menimpa Austria yang terpaksa mundur dari Piala Dunia 1938 karena negaranya dianeksasi pasukan Nazi Jerman. Bintang mereka saat itu, Matthias Sindelar, bahkan menolak keras membela tim di bawah bendera Nazi.

India pernah mundur pada 1950 bukan karena larangan main telanjang kaki, melainkan masalah biaya perjalanan dan persiapan tim. Sementara itu, seluruh negara Afrika memboikot babak kualifikasi Piala Dunia 1966 karena merasa diperlakukan tidak adil oleh FIFA soal jatah slot.

Drama politik kental juga terjadi jelang Piala Dunia 1974, ketika Uni Soviet menolak bertanding melawan Chile di laga play-off, buntut protes terhadap diktator Augusto Pinochet. Akibatnya, pemain Chile mencetak gol ke gawang kosong dalam laga yang tak dihadiri lawan tersebut.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ilyas Listianto Mujib
Satria Permana
Ilyas Listianto Mujib
EditorIlyas Listianto Mujib
Follow Us

Related Articles

See More