Menganalisis Urgensi Barcelona Mendatangkan Kembali Joao Cancelo

- Krisis lini belakang mendorong Barcelona memilih Joao Cancelo sebagai solusi paling masuk akal
- Joao Cancelo bisa diposisikan sebagai playmaker tambahan dalam positional play Hansi Flick
- Meski kuat dalam fase ofensif, Joao Cancelo masih inkonsisten secara defensif
FC Barcelona menyambut paruh kedua 2025/2026 dengan memimpin klasemen LaLiga Spanyol, tetapi cederanya beberapa pemain menjadi persoalan serius di lini belakang. Cedera parsial anterior cruciate ligament (ACL) yang dialami Andreas Christensen sejak Desember 2025 membuat Blaugrana kehilangan satu-satunya bek tengah berpengalaman yang konsisten tersedia. Dalam situasi tersebut, Barcelona membutuhkan kedalaman skuad sekaligus menjaga keberlangsungan struktur defensif agar tetap fungsional.
Kondisi tersebut memaksa Hansi Flick menyesuaikan prioritas rekrutmen pada bursa transfer Januari 2026. Flick awalnya menginginkan bek tengah murni, tetapi keterbatasan pasar, kondisi finansial, serta regulasi salary cap LaLiga mengarahkan Barcelona pada solusi yang lebih realistis. Dari kacamata strategis, kembalinya Joao Cancelo dengan status pinjaman dari Al-Hilal merepresentasikan keputusan berbasis keterbatasan, alih-alih realisasi dari preferensi ideal Barcelona.
1. Krisis lini belakang mendorong Barcelona memilih Joao Cancelo sebagai solusi paling masuk akal
Krisis lini belakang Barcelona bermula dari kombinasi cedera dan keterbatasan kedalaman skuad. Andreas Christensen dipastikan absen lebih dari 4 bulan, sementara Ronald Araujo baru kembali ke skuad usai pemulihan kesehatan mental tanpa kepastian jadwal bermain reguler. Situasi tersebut membuat Flick hanya memiliki lima pemain bertahan senior untuk empat posisi, dengan Pau Cubarsi dan Gerard Martin harus mengisi peran bek tengah secara situasional.
Hansi Flick awalnya ingin mendatangkan Nathan Ake dari Manchester City sebagai opsi ideal di bek tengah. Namun, cederanya Ruben Dias dan Josko Gvardiol menutup peluang itu sepenuhnya. Dengan kondisi finansial yang masih terikat regulasi LaLiga, Barcelona membutuhkan pemain berpengalaman yang dapat diregistrasi tanpa melampaui batas gaji.
Dalam kondisi inilah, Joao Cancelo memenuhi kriteria secara struktural. Barcelona dapat memanfaatkan 80 persen ruang gaji Christensen yang cedera jangka panjang untuk mendaftarkan Cancelo secara legal. Fleksibilitas ini membuat Cancelo bernilai bukan karena statusnya sebagai bek elite, melainkan karena kemampuannya menjaga keseimbangan struktur skuad di tengah keterbatasan administratif.
Selain aspek registrasi, Cancelo menawarkan fleksibilitas posisi yang krusial. Ia mampu bermain sebagai bek kanan maupun kiri, sehingga membuka opsi bagi Flick untuk menggeser Jules Kounde kembali ke posisi bek tengah darurat. Dalam situasi ini, Barcelona tidak mencari bek terbaik di pasar, tetapi bek yang memungkinkan sistem bertahan tetap berjalan tanpa kolaps.
2. Joao Cancelo bisa diposisikan sebagai playmaker tambahan dalam positional play Hansi Flick
Dari sudut pandang taktis, profil Joao Cancelo selaras dengan prinsip positional play yang diusung Hansi Flick. Flick mengandalkan dominasi area, tempo tinggi, dan progresi bola cepat dari lini belakang ke sepertiga akhir. Dalam kerangka tersebut, peran full-back tidak lagi bersifat linier, melainkan menjadi bagian dari sirkulasi kreatif tim.
Cancelo memiliki kecenderungan untuk bermain inverted, masuk ke half-space, atau berdiri sejajar dengan gelandang saat fase build-up. Pola ini memberi Barcelona jalur progresi tambahan tanpa ketergantungan mutlak kepada pivot tunggal. Pada 2023/2024 bersama Barcelona, Cancelo mencatat 4 gol dan 5 assist dari 42 penampilan, angka yang menegaskan kontribusinya dalam fase menyerang.
Keunggulan tersebut menjadi signifikan dalam konteks skuad Flick yang menempatkan winger sebagai senjata utama. Lamine Yamal, yang oleh Cancelo sendiri disebut sebagai pemain level tertinggi, membutuhkan dukungan struktural agar tidak terisolasi di sisi sayap. Kehadiran Cancelo memungkinkan terciptanya overload di sisi kanan atau kiri, baik melalui overlap maupun underlap, sehingga mempercepat sirkulasi serangan.
Relasi potensial antara Cancelo dan Yamal lebih tepat dipahami sebagai katalis taktis. Cancelo tidak hanya memberi opsi umpan, tetapi juga memanipulasi posisi bek lawan melalui pergerakan internalnya. Dalam sistem Flick yang menuntut fleksibilitas posisi, kemampuan ini memberi variasi build-up yang tidak dimiliki bek sayap konvensional seperti Alejandro Balde atau Gerard Martin.
3. Meski kuat dalam fase ofensif, Joao Cancelo masih inkonsisten secara defensif
Meski menawarkan nilai struktural dan ofensif, Joao Cancelo bukanlah solusi tanpa risiko. Rekam jejaknya di Barcelona pada musim 2023/2024 menunjukkan inkonsistensi dalam fase defensif, terutama saat transisi negatif. Posisi yang terlalu tinggi kerap meninggalkan ruang di belakang, yang menjadi celah bagi lawan pada laga-laga besar, termasuk saat tersingkir dari Liga Champions Eropa 2023/2024.
Kelemahan Cancelo paling terlihat dalam situasi rest defense. Ketika Barcelona kehilangan bola, Cancelo kerap berada di luar struktur blok defensif awal. Dalam sistem Flick yang agresif dan berorientasi pressing, kelemahan ini berpotensi terekspos jika tidak diimbangi oleh mekanisme proteksi yang jelas.
Oleh sebab itu, Flick perlu menempatkan Cancelo dalam kerangka taktis yang lebih terkontrol. Penggunaan double pivot yang lebih disiplin bisa menjadi solusi untuk menutup half-space yang ditinggalkan bek sayap. Alternatif lainnya yakni rotasi asimetris, ketika hanya satu full-back yang naik menyerang, sementara sisi sebaliknya tetap menjaga kedalaman.
Pembatasan peran juga menjadi penting saat menghadapi lawan elite Eropa. Cancelo tidak harus selalu menjadi pemain dengan kebebasan peran, tetapi dapat difungsikan secara situasional saat pertandingan. Nilai Cancelo bagi Barcelona era Flick tidak terletak pada kebebasan absolut, melainkan pada kemampuannya menjalankan peran spesifik dalam struktur yang terkontrol.
Urgensi merekrut Joao Cancelo mencerminkan realitas Barcelona saat ini. Ia bukan simbol kemewahan taktik, melainkan alat untuk menjaga sistem tetap hidup. Dalam kendali Hansi Flick, Cancelo dapat menjadi solusi efektif selama nilainya dimaksimalkan melalui manajemen peran yang disiplin dan kontekstual.

















