Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Pelatih Como 1907, Cesc Fabregas (AFP/Pierro Cruciatti)
  • Cesc Fabregas membawa Como dari keterbatasan fasilitas menuju Serie A melalui jalur pemain, pelatih U-19, interim, hingga kepala pelatih resmi sejak 2024.
  • Pendekatan taktik bertahap dan rekrutmen berbasis data membantu Como finis keempat Serie A 2025/2026, debut di Liga Champions, serta mencatat kemenangan 4-1 atas Manchester United.
  • Fabregas juga terlibat dalam operasional, pengembangan fasilitas, dan komunitas; sementara Como mulai memberi peluang akademi lewat debut serta gol Matteo Papaccioli melawan RC Lens.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pada 2019, Como 1907 masih di Serie D Italia. Namun, kini, mereka mesti menyambut Manchester United di Liga Champions Eropa 2026/2027. Transformasi itu tak lepas dari Cesc Fabregas, mantan pemain FC Barcelona dan Arsenal yang kini memegang kendali penuh atas tim yang bermarkas di Stadio Giuseppe Sinigaglia tersebut. Dalam waktu kurang dari 5 tahun, pria asal Catalonia, Spanyol, itu mengubah Como dari klub nyaris bangkrut menjadi kekuatan baru yang disegani di Serie A.

Perjalanan membangun klub ini justru tidak dimulai dari ruang pelatih, melainkan dari lapangan sebagai pemain pada 2022, saat skuad belum memiliki fasilitas latihan layak. Ia lantas merangkak naik lewat jalur tak lazim, dari pelatih tim junior hingga akhirnya duduk di kursi kepala pelatih. Lantas, sejauh mana Fabregas membangun Como hingga jadi kekuatan baru di sepak bola Eropa?

1. Cesc Fabregas mengawali karier kepelatihan di Como 1907 dengan skuad seadanya

Ketika Cesc Fabregas bergabung dengan Como 1907 pada 2022, klub itu, menurut pengakuannya sendiri, bukanlah klub profesional karena minim fasilitas seperti lapangan latihan tetap, ruang gym, maupun program nutrisi. Setahun berselang, ia memutuskan gantung sepatu sebagai pemain dan mengambil tanggung jawab melatih tim Primavera atau level U-19 Como. Skuad yang diwariskan kepadanya jauh dari ideal, bahkan ia sempat menurunkan dua gelandang serang sebagai bek sayap lantaran kekurangan pemain bertahan.

Momentum berubah pada November 2023 ketika manajemen memecat Pelatih Moreno Longo dan memercayakan kepada Fabregas sebagai pelatih interim. Sayangnya, ketiadaan lisensi UEFA Pro membatasi masa jabatannya hanya 1 bulan sebelum ia mundur menjadi asisten bagi Pelatih Osian Roberts. Meski status resminya berubah, publik tahu betul kendali taktik tetap berada di tangan sang pelatih muda selama masa transisi itu.

Duet Fabregas dan Roberts terbukti efektif dengan membawa Como promosi ke Serie A pada 2023/2024 setelah finis di posisi kedua klasemen Serie B. Status kepala pelatih resmi disandangnya pada musim panas 2024, setelah merampungkan kursus lisensi UEFA Pro bersama Federasi Sepak Bola Italia (FIGC). Pencapaian ini menandai babak baru sekaligus membuktikan keputusan klub menaruh kepercayaan kepadanya sejak awal bukanlah langkah keliru.

Pemain yang pernah mengangkat trofi juara Piala Dunia bersama Spanyol pada 2010 itu tak langsung memaksakan gaya penguasaan bola, melainkan menyesuaikan taktik bertahap sesuai kemampuan pemain yang tersedia. Ia mengubah formasi lima bek peninggalan Longo menjadi back four dengan zonal marking, sebelum beralih ke skema 4-2-2-2 begitu skuad mulai terbentuk. Pendekatan serupa ia terapkan secara personal, mengaku pertemuan pertamanya dengan pemain baru jarang membahas taktik, melainkan kehidupan pribadi mereka lebih dulu.

2. Belanja pemain sesuai kebutuhan tim jadi kunci sukses Cesc Fabregas membangun Como 1907

Hasil kerja Cesc Fabregas di lapangan mulai terlihat sejak musim debut Como 1907 di Serie A, ketika mereka finis aman di posisi ke-10. Lompatan lebih signifikan terjadi pada 2025/2026, saat Como menggusur AC Milan dari posisi keempat klasemen akhir hanya selisih satu poin. Capaian itu membawa I Lariani lolos ke Liga Champions untuk pertama kali sepanjang sejarah mereka.

Menghimpun data Opta Analyst, gaya bermain yang dibangun sang pelatih tercermin dari penguasaan bola tertinggi di Serie A yang mencapai 61,6 persen pada musim tersebut. Lini pertahanan Como pun tercatat terbaik di liga dengan hanya kebobolan 29 gol sepanjang musim, kalah produktif hanya dari juara bertahan Inter Milan yang mencetak 65 gol. Puncaknya datang pada matchday ke-4 Liga Champions 2026/2027, ketika Como menyamai rekor kemenangan terbesar sepanjang sejarah fase liga Champions dengan skor telak 9-1 atas RC Lens.

Sebelumnya, mereka juga sempat mengejutkan publik sepak bola lewat kemenangan 4-1 atas Manchester United, hasil yang disebut sebagai kemenangan paling bergengsi dalam sejarah klub. Keberhasilan di lapangan tak lepas dari filosofi perekrutan Fabregas yang memadukan data Jamestown Analytics dengan intuisi tajamnya sendiri. Ia menegaskan, tujuannya membeli pemain bukan demi membeli pemain semata, melainkan untuk menciptakan juara (I don’t sign players for the sake of signing them. I want to make champions).

Prinsip tersebut terbukti lewat sejumlah temuan murah yang kemudian bersinar, seperti kiper Jean Butez yang hanya dibeli seharga 2 juta euro (Rp40,6 miliar) dari Royal Antwerp. Lucas Da Cunha mengalami lonjakan nilai serupa, dibeli seharga 250 ribu euro (Rp5,07 miliar) pada 2023 sebagai pemain sayap, sebelum Fabregas mengubah posisinya menjadi gelandang bertahan hingga kini memiliki nilai pasar sebesar 30 juta euro (Rp609,2 miliar). Di sisi lain, keberanian mengeluarkan dana besar untuk Nico Paz senilai 60 juta euro (Rp1,218 triliun) membuktikan sang arsitek juga piawai menilai risiko investasi jangka panjang.

3. Cesc Fabregas turut berkontribusi di luar lapangan sebagai salah satu pemegang saham klub

Peran Cesc Fabregas di Como 1907 ternyata tak berhenti pada urusan taktik maupun hasil pertandingan. Dilansir The Athletic, Osian Roberts, mantan rekan kerjanya, mengungkapkan sang pelatih turut terlibat dalam berbagai keputusan operasional klub, mulai dari penunjukan kepala koki hingga pemilihan gawang kecil untuk latihan. Keterlibatan menyeluruh semacam itu mengingatkan pada gaya kepelatihan era Sir Alex Ferguson maupun Arsene Wenger, mentor Fabregas selama berkarier di Arsenal.

Di sisi infrastruktur, kompleks latihan Como di Mozzate berkembang dari sebidang tanah kosong tanpa fasilitas menjadi pusat pelatihan lengkap dengan clubhouse dan restoran. Stadion Giuseppe Sinigaglia turut mengalami renovasi besar, termasuk pembangunan ulang tribun Curva Ovest dalam waktu 89 hari demi memenuhi regulasi UEFA untuk Liga Champions. Transformasi fisik ini menjadi simbol nyata bahwa ambisi klub tak hanya berhenti pada capaian di lapangan.

Como juga menanamkan nilai kedekatan dengan komunitas lewat sejumlah inisiatif sosial, seperti pemberian baju bayi gratis untuk setiap kelahiran baru di kota tersebut. Tradisi mentraktir minuman di bar-bar rekanan klub setiap kali Como mencetak gol turut memperkuat ikatan emosional antara tim dan warga sekitar. Langkah ini sejalan dengan keinginan para pemegang saham, termasuk Thierry Henry, agar klub tetap mempertahankan jati dirinya di tengah derasnya arus komersialisasi.

Tak semua pihak memandang kebangkitan Como secara positif, mengingat minimnya menit bermain pemain asli Italia yang sempat memicu kritik dari media lokal. Fabregas sendiri mengakui membangun talenta lokal butuh waktu, sebab program akademi klub masih tergolong muda untuk menghasilkan pemain siap pakai di level Serie A. Kini, sang pelatih sudah membuktikan perkataannya dengan memberikan debut senior bagi pemain akademi, Matteo Papaccioli, di laga melawan RC Lens dengan mencetak gol pemungkas dalam kemenangan telak 9-1 bagi Como.

Perjalanan Cesc Fabregas bersama Como 1907 membuktikan, pembangunan klub sepak bola tak melulu soal uang, melainkan juga visi dan kesabaran yang konsisten dijalankan. Sebagaimana diucapkan Presiden klub Mirwan Suwarso, Como mungkin memang tak pernah menjadi klub kecil dalam ambisi, dan Fabregas adalah salah satu kunci yang mewujudkan ambisi itu menjadi kenyataan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article