Peran Cesc Fabregas di Como 1907 ternyata tak berhenti pada urusan taktik maupun hasil pertandingan. Dilansir The Athletic, Osian Roberts, mantan rekan kerjanya, mengungkapkan sang pelatih turut terlibat dalam berbagai keputusan operasional klub, mulai dari penunjukan kepala koki hingga pemilihan gawang kecil untuk latihan. Keterlibatan menyeluruh semacam itu mengingatkan pada gaya kepelatihan era Sir Alex Ferguson maupun Arsene Wenger, mentor Fabregas selama berkarier di Arsenal.
Di sisi infrastruktur, kompleks latihan Como di Mozzate berkembang dari sebidang tanah kosong tanpa fasilitas menjadi pusat pelatihan lengkap dengan clubhouse dan restoran. Stadion Giuseppe Sinigaglia turut mengalami renovasi besar, termasuk pembangunan ulang tribun Curva Ovest dalam waktu 89 hari demi memenuhi regulasi UEFA untuk Liga Champions. Transformasi fisik ini menjadi simbol nyata bahwa ambisi klub tak hanya berhenti pada capaian di lapangan.
Como juga menanamkan nilai kedekatan dengan komunitas lewat sejumlah inisiatif sosial, seperti pemberian baju bayi gratis untuk setiap kelahiran baru di kota tersebut. Tradisi mentraktir minuman di bar-bar rekanan klub setiap kali Como mencetak gol turut memperkuat ikatan emosional antara tim dan warga sekitar. Langkah ini sejalan dengan keinginan para pemegang saham, termasuk Thierry Henry, agar klub tetap mempertahankan jati dirinya di tengah derasnya arus komersialisasi.
Tak semua pihak memandang kebangkitan Como secara positif, mengingat minimnya menit bermain pemain asli Italia yang sempat memicu kritik dari media lokal. Fabregas sendiri mengakui membangun talenta lokal butuh waktu, sebab program akademi klub masih tergolong muda untuk menghasilkan pemain siap pakai di level Serie A. Kini, sang pelatih sudah membuktikan perkataannya dengan memberikan debut senior bagi pemain akademi, Matteo Papaccioli, di laga melawan RC Lens dengan mencetak gol pemungkas dalam kemenangan telak 9-1 bagi Como.
Perjalanan Cesc Fabregas bersama Como 1907 membuktikan, pembangunan klub sepak bola tak melulu soal uang, melainkan juga visi dan kesabaran yang konsisten dijalankan. Sebagaimana diucapkan Presiden klub Mirwan Suwarso, Como mungkin memang tak pernah menjadi klub kecil dalam ambisi, dan Fabregas adalah salah satu kunci yang mewujudkan ambisi itu menjadi kenyataan.