Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Bedah Statistik Duel Ketat Belanda vs Jepang di Piala Dunia 2026

Bedah Statistik Duel Ketat Belanda vs Jepang di Piala Dunia 2026
Para pemain Jepang merayakan gol Daichi Kamada ke gawang Belanda di Piala Dunia 2026 (AFP / Aric Becker)
Intinya Sih
  • Laga pembuka Grup F Piala Dunia 2026 antara Belanda dan Jepang berakhir imbang 2-2, dengan kedua tim saling balas gol hingga menit-menit akhir pertandingan.
  • Belanda unggul dalam penguasaan bola dan jumlah umpan, sementara Jepang mengimbangi lewat pressing tinggi serta efektivitas serangan yang menghasilkan dua gol dari sedikit peluang.
  • Virgil van Dijk tampil menonjol sebagai kapten Belanda dengan kontribusi satu gol dan distribusi bola terbanyak, meski pertahanan timnya sempat kewalahan menghadapi kecepatan transisi Jepang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Laga pembuka Grup F Piala Dunia 2026 langsung menyajikan duel super sengit, Senin (15/6/2026) dini hari WIB. Belanda dan Jepang harus puas berbagi poin, setelah bermain imbang 2-2 di Dallas Stadium, Amerika Serikat (AS).

Meski harus puas berbagi angka, pertarungan taktik antara raksasa Eropa dan raja Asia ini menarik untuk dibedah. Berdasarkan data statistik resmi FIFA, Belanda tampak mendominasi aliran bola, tetapi tekanan tanpa henti Jepang sukses merepotkan De Oranje.

Laga ini berakhir dramatis. Belanda selalu unggul lewat gol Virgil van Dijk (51') dan Crysencio Summerville (64'). Jepang selalu bisa menyamakan kedudukan berkat aksi Keito Nakamura (57') dan selamat dari kekalahan lewat gol telat Daichi Kamada (89').

1. Belanda unggul sirkulasi bola, Jepang andalkan pressing tinggi

Secara penguasaan bola, Belanda tampil dominan dengan memegang kendali sebesar 54 persen, berbanding 37 persen milik Jepang (9 persen bola liar). Belanda nyaman mengalirkan bola dengan melepaskan 529 umpan, yang 473 di antaranya sukses menemui sasaran.

Sebaliknya, Jepang menyadari kekalahannya dalam penguasaan bola dan meresponsnya dengan taktik pressing yang spartan. Statistik mencatat, skuad Samurai Biru melakukan tekanan hingga 316 kali sepanjang laga, jauh mengungguli Belanda yang hanya mencatat 194 kali.

Mesin utama tekanan Jepang digerakkan oleh Ayase Ueda mencatat tekanan tertinggi, yakni 59 kali. Daya juang tinggi pasukan Hajime Moriyasu ini juga terlihat dari total jarak tempuh Keito Nakamura yang menembus angka 11,31 kilometer, tertinggi di antara semua pemain dalam laga tersebut

2. Efektivitas serangan Jepang imbangi dominasi Belanda

Meski terus ditekan dan dipaksa lebih banyak berlari, serangan yang dibangun Jepang terbukti efektif dan berbahaya. Meski hanya melepaskan dua tembakan ke gawang dari sembilan percobaan, keduanya berhasil berbuah gol balasan.

Di kubu Belanda, agresivitas serangan mereka sebenarnya sedikit lebih tinggi dengan total 10 tembakan dan enam di antaranya tepat sasaran. Sayangnya, hanya dua yang berhasil dikonversi menjadi gol oleh barisan depan skuad asuhan Ronald Koeman.

Menariknya, otak serangan Belanda justru lebih banyak bertumpu pada Ryan Gravenberch. Bintang Liverpool itu menjadi pemain paling kreatif, dengan menyumbang dua assist. Sementara, di kubu Jepang, peran sentral dipegang oleh Daichi Kamada yang menjadi pusat penerima bola dengan total 65 sentuhan.

3. Virgil van Dijk tampil bak monster di lini belakang

Satu nama yang paling bersinar secara statistik dari kubu Belanda adalah Virgil van Dijk. Sang kapten tidak hanya kokoh bertahan, tetapi juga sukses menyumbang sebuah gol krusial bagi timnya di laga pembuka ini.

Peran Van Dijk dalam membangun serangan Belanda cukup vital. Dia bahkan menjadi pengirim umpan terbanyak dalam laga ini dengan total 102 operan. Bintang Liverpool itu menjadi pemain ketiga yang paling aktif menyerang dalam laga tersebut.

Meski begitu, lini belakang Belanda juga kerap dipaksa melakukan pelanggaran akibat kecepatan transisi Jepang, hingga menghasilkan tiga kartu kuning. Sebaliknya, tembok Jepang lebih disiplin dan bersih tanpa menerima satu kartu pun.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dheri Agriesta
Satria Permana
Dheri Agriesta
EditorDheri Agriesta

Related Articles

See More